SOLOBALAPAN.COM-Tari Srimpi merupakan salah satu bentuk tari putri yang memiliki kedudukan penting dalam perkembangan seni tari gaya Surakarta. Salah satu karya yang memperkaya repertoar Srimpi gaya Surakarta adalah Tari Srimpi Jayaningsih.
Tari ini memiliki keunikan karena tidak hanya menampilkan kelembutan dan keanggunan gerak tari putri, tetapi juga mengangkat kisah tokoh Banowati dalam cerita Mahabharata.
Baca Juga: Pembeda Tari Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta dengan Gubahan Agus Tasman.
Selain itu, Srimpi biasanya hanya ditarikan 4 penari putri, tetapi pada Srimpi Jayaningsih ini ditarikan 4 penari ditambah 1 tokoh yaitu Dewi Banowati, juga terdapat versi yang menjadi tokoh adalah Arjuna.
Srimpi Jayaningsih merupakan tari kelompok yang disusun oleh Sunarno Purwalelana pada tahun 1992, dengan karawitan tari yang disusun oleh Rahayu Supanggah.
Baca Juga: Mengenal Tari Gaya Surakarta: Keindahan Gerak, Karakter, dan Filosofi Tari Klana Topeng
Tidak seperti tari Srimpi pada umumnya yang banyak dikenal dengan empat penari, Srimpi Jayaningsih ditampilkan oleh lima penari putri. Perpaduan gerak yang mendapat pengaruh gaya Mataram, baik Yogyakarta maupun Surakarta, menjadi salah satu ciri khas dari karya tersebut.
Kisah Banowati dalam Srimpi Jayaningsih
Keistimewaan Srimpi Jayaningsih terletak pada cerita yang menjadi dasar penciptaannya. Tari ini menggambarkan sosok Dewi Banowati, putri Prabu Salya dari Mandraka dalam cerita Mahabharata. Banowati digambarkan sebagai perempuan yang memiliki sikap tegas, berwibawa, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga serta negaranya.
Baca Juga: Karakter Gayatri Raja Padmi dalam Tari Bedhaya Kidung Gayatri
Dalam kisah yang melatarbelakangi tari tersebut, Banowati memiliki perasaan cinta kepada Raden Arjuna. Namun, karena kecintaannya kepada orang tua dan kepentingan keluarga serta negara, ia rela diperistri oleh Duryudana atau Suyudana.
Pilihan tersebut menggambarkan pengorbanan Banowati yang harus mengesampingkan cinta pribadinya demi kepentingan yang dianggap lebih luas.
Kisah tersebut memberikan dimensi dramatik yang berbeda pada Srimpi Jayaningsih. Gerak tari tidak hanya menjadi rangkaian keindahan visual, tetapi juga dapat dipahami sebagai media untuk menggambarkan suasana batin dan konflik yang dialami tokoh Banowati.
Makna Nama Jayaningsih
Nama Jayaningsih berasal dari kata jaya dan sih dengan sisipan -ing. Dalam sumber kajian tari, jaya dimaknai sebagai kemenangan, sedangkan sih berkaitan dengan katresnan atau cinta. Makna tersebut berkaitan dengan tema yang diangkat dalam tari, yaitu hubungan antara cinta, perjuangan, dan pengorbanan.
Baca Juga: Tari Gambyong Pangkur, Tradisi dengan Keluwesan dan Keanggunannya sebagai Simbol Tari Penyambutan
Melalui nama tersebut, Srimpi Jayaningsih dapat dipandang sebagai karya yang mempertemukan unsur cinta dan perjuangan. Tokoh Banowati tidak sekadar ditampilkan sebagai seorang perempuan yang mengalami persoalan percintaan, tetapi juga sebagai figur yang dihadapkan pada pilihan antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab terhadap keluarga serta negara.
Lima Penari Menjadi Ciri Khas
Salah satu hal yang membedakan Srimpi Jayaningsih dari bentuk Srimpi yang umum adalah jumlah penarinya. Karya ini ditarikan oleh lima penari putri. Kelima penari tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kelompok yang membentuk pola lantai, tetapi dapat ditafsirkan sebagai bagian dari penggambaran suasana dan karakter dalam keseluruhan cerita.
Baca Juga: Bedhaya Ketawang dan Jejak Mistis di Balik Kesakralan Tari Pusaka Keraton Surakarta
Dalam salah satu kajian kepenarian, lima penari Srimpi Jayaningsih ditafsirkan sebagai gambaran suasana hati tokoh Banowati. Perbedaan karakter gerak yang muncul tetap diarahkan untuk membentuk satu kesatuan sajian. Hal tersebut terlihat dari pengolahan volume dan dinamika gerak yang dilakukan secara bersama-sama.
Perpaduan Gaya Yogyakarta dan Surakarta
Srimpi Jayaningsih menggunakan warna gerak gaya Mataram dengan pengaruh gaya Yogyakarta dan Surakarta. Perpaduan tersebut menjadi salah satu karakter yang membuat karya ini memiliki kekhasan tersendiri.
Sebagai tari putri gaya Surakarta, gerak dalam Srimpi Jayaningsih menonjolkan kualitas gerak yang halus, teratur, dan terkendali. Namun, pengaruh gaya Mataram memberikan kekayaan dalam pengolahan gerak dan karakter tari.
Dalam proses kepenarian, penguasaan wiraga, wirama, dan wirasa menjadi bagian penting. Ketiganya berkaitan dengan kemampuan penari dalam menguasai gerak, menyesuaikan gerak dengan irama, serta menghadirkan penghayatan dan ekspresi sesuai dengan karakter tari. (carrieolis ratu lathiifu)
Editor : Kabun Triyatno