Tari Greget Sawunggaling Sebagai Ikon Arek-Arek Surabaya

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:30 WIB
Tari Greget Sawunggaling (DOK: Instagram @putrabimarespati)
Tari Greget Sawunggaling.

SOLOBALAPAN.COM- Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur yang menjadi kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Mayoritas masyarakat di Surabaya adalah suku Jawa, hal ini menjadi alasan banyaknya akulturasi budaya pada kota ini. Wujud akulturasi budaya ini dapat dilihat dari dari segi karakter maupun pergaulan budaya serta penggunaan dialektika bahasa.

Surabaya menjadi pusat kebudayaan “Arek-Arek” karena menjadi pusat bidang pendidikan, ekonomi, dan pariwisata Jawa Timur. Salah satu contoh tari dengan pengembangan Etnis “Arek-Arek” adalah Tari Greget Sawunggaling. 

Baca Juga: Putus Sekolah di Usia 15 Tahun, Kakek Penjual Buku di Maroko Ini Telah Baca 4.000 Buku

Sejarah yang membentuk Tari Greget Sawunggaling dapat dilihat dari cerita rakyat mengenai kepahlawanan Sawunggaling, pengembangan gerak Tari Remo gaya Suroboyoan, serta proses penciptaan pada 2013 untuk kebutuhan FLS2N yang kemudian berkembang menjadi salah satu identitas budaya kota Surabaya.

Tari Greget Sawunggaling merupakan tari kreasi tradisional yang berasal dari Kota Surabaya. Tari ini diciptakan oleh Pitri Wulansari, S.Sn. pada tahun 2013 dengan mengangkat tokoh Sawunggaling sebagai sumber ide penciptaan.

Baca Juga: Ternyata Selera Musik Bisa Berkaitan dengan Kepribadian, Kamu Suka Genre yang Mana?

Gagasan tersebut berawal dari kebutuhan untuk menciptakan karya tari bertema kepahlawanan dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Karya ini kemudian dibawakan oleh siswa SMP Negeri 12 Surabaya dan mengikuti proses seleksi dari tingkat kota hingga tingkat nasional di Medan pada 2013. 

Pemilihan tokoh Sawunggaling tidak terlepas dari cerita yang berkembang di masyarakat Surabaya. Sawunggaling dikenal sebagai tokoh yang memiliki keberanian dan semangat dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni Belanda.

Dalam cerita yang menjadi sumber inspirasi tari, Sawunggaling merupakan putra dari Dewi Sangkrah dan Jayengrono. Kisah perjuangan dan keberanian tokoh tersebut kemudian menjadi dasar bagi koreografer untuk menggambarkan sosok Sawunggaling melalui gerak tari. 

Baca Juga: Serabi Ngampin, Keunikan Kuliner Tradisional Ambarawa yang Manis, Gurih, dan Sarat Tradisi

Selain mengambil cerita kepahlawanan Sawunggaling, bentuk Tari Greget Sawunggaling juga dibangun melalui pengembangan gerak Tari Remo gaya Suroboyoan. Karakter geraknya dibuat lebih tegas dan kuat untuk menggambarkan sosok Sawunggaling yang gagah serta memiliki semangat perjuangan. Dengan demikian, tari ini tidak hanya menceritakan tokoh Sawunggaling.

melalui tema, tetapi juga menghadirkan karakter budaya Surabaya melalui penggunaan unsur gerak yang dekat dengan tradisi tari masyarakat setempat. 

Pada sekitar tahun 2018 dianggap sebagai Ikon Kota Surabaya karena karakter Sawunggaling yang dianggap sesuai dengan nilai kepahlawanan dan karakter masyarakat Arek Suroboyo. 

Baca Juga: Ingat Si Komo? Ternyata Boneka Ini Sudah Ada Sejak 1975 Sebelum Tampil di TPI

Nama “Greget Sawunggaling” sendiri juga memiliki makna yang berkaitan dengan semangat. Dalam penelitian mengenai tari tersebut, “greget” dijelaskan sebagai kesatuan antara hati, pikiran, dan tindakan yang selaras sehingga menghasilkan semangat yang kuat.

Oleh karena itu, Tari Greget Sawunggaling tidak hanya dibentuk oleh cerita tentang seorang tokoh, tetapi juga oleh nilai keberanian, perjuangan, keterampilan, dan semangat yang kemudian divisualisasikan melalui gerak, musik, busana serta properti  (adhima aulia)

 

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia Tari Greget Sawunggaling Arek-arek Surabaya Ikon Kota Surabaya surabaya