SOLOBALAPAN.COM-Di tengah perkembangan hiburan digital yang semakin dekat dengan generasi muda, seni pewayangan terus menemukan cara untuk hadir dengan bentuk yang lebih segar. Salah satunya melalui pertunjukan Drayang Gatotkaca “Jangan Gunakan Taringmu” yang menghadirkan dalang cilik Kitama Arturo. Pertunjukan ini memadukan wayang kulit, wayang orang, teater, dan seni tari dalam satu sajian.
Pertunjukan Drayang Gatotkaca “Jangan Gunakan Taringmu” digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 12 September 2026. Pertunjukan tersebut mengangkat tokoh Gatotkaca dari tradisi pewayangan klasik dan mengemasnya untuk penonton masa kini. Konsep pertunjukan disebut sebagai perpaduan antara wayang kulit, wayang orang, teater, dan tari.
Di balik pertunjukan tersebut terdapat sosok Kitama Arturo Kurniadi, dalang cilik asal Jakarta yang sejak usia muda menekuni dunia pedalangan. Ketertarikannya terhadap wayang mulai tumbuh ketika berusia sekitar enam tahun dan kemudian berkembang melalui latihan serta berbagai pengalaman pertunjukan.
Baca Juga: Dunia Musik Berduka! Aries Budiman Drummer Garasi Meninggal Dunia di Usia 44 Tahun
Gatotkaca dalam Kemasan yang Lebih Dekat dengan Generasi Muda
Gatotkaca merupakan salah satu tokoh yang populer dalam dunia pewayangan. Tokoh ini dikenal memiliki karakter kuat, gagah, dan memiliki kemampuan luar biasa. Dalam pertunjukan “Jangan Gunakan Taringmu”, karakter Gatotkaca tidak hanya ditampilkan melalui bentuk wayang, tetapi dikembangkan dalam pertunjukan lintas seni.
Penggabungan wayang kulit dengan wayang orang, teater, dan tari membuat cerita Gatotkaca dapat disampaikan melalui lebih dari satu bahasa artistik. Bayangan wayang, gerak tubuh pemain, dialog, serta koreografi menjadi bagian dari satu kesatuan pertunjukan.
Baca Juga: Tari Edan-Edanan, Makna dan Filosofi Dibalik Kelucuannya
Konsep tersebut menunjukkan bahwa tradisi pewayangan dapat dikembangkan tanpa harus kehilangan tokoh dan akar ceritanya. Bentuk penyajian yang lebih beragam juga membuka kemungkinan bagi wayang untuk berinteraksi dengan penonton yang terbiasa menikmati pertunjukan modern.
Gatotkaca Menjadi Tokoh yang Disukai Kitama
Di antara berbagai tokoh pewayangan, Gatotkaca menjadi salah satu tokoh yang dekat dengan Kitama. Tokoh tersebut bahkan disebut sebagai tokoh yang paling disukainya ketika ia berlatih memainkan wayang.
Pilihan terhadap Gatotkaca menarik karena karakter tokoh tersebut memiliki kekuatan visual dan cerita yang kuat. Gatotkaca dapat menjadi ruang bagi seorang dalang untuk mengeksplorasi berbagai karakter, mulai dari keberanian hingga tanggung jawab.
Melalui tokoh tersebut, Kitama tidak hanya berlatih menggerakkan wayang, tetapi juga belajar memahami karakter dan bagaimana sebuah tokoh dapat berbicara kepada penonton melalui gerak, suara, dan cerita.
Ketika Wayang Bertemu Teater dan Tari
Salah satu keunikan Drayang Gatotkaca “Jangan Gunakan Taringmu” adalah pertemuan berbagai bentuk seni dalam satu panggung. Wayang kulit memberikan kekuatan visual melalui bayangan dan karakter tokoh, sementara wayang orang menghadirkan tubuh manusia secara langsung.
Teater memberikan ruang bagi dialog dan dramatika, sedangkan tari memperkaya penyampaian cerita melalui gerak tubuh. Keempat unsur tersebut menciptakan bentuk pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan satu medium.
Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kesenian tradisional dapat terus berkembang melalui proses penciptaan dan eksplorasi. Tradisi bukan hanya sesuatu yang disimpan, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan karya baru.
Wayang dan Tantangan Zaman Digital
Kehadiran Kitama sebagai dalang cilik juga menarik jika dilihat dari perkembangan hiburan anak-anak saat ini. Di tengah dominasi gim, video pendek, dan berbagai hiburan digital, ia justru memilih menghabiskan waktu untuk mempelajari seni pedalangan.
Namun, proses belajarnya juga menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi tidak harus saling berlawanan. Kitama memanfaatkan YouTube dan berbagai video pertunjukan sebagai salah satu sumber untuk mempelajari teknik dan gerakan pedalangan.Hal ini memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi salah satu media pembelajaran seni tradisi. Wayang dapat dipelajari melalui pertunjukan langsung, guru, maupun sumber digital yang tersedia secara luas. (carrieolis ratu lathiifu).
Editor : Kabun Triyatno