SOLOBALAPAN.COM-Jawa tidak hanya memiliki kekayaan tari yang indah secara visual, tetapi juga berbagai karya seni yang menyimpan simbol dan filosofi kehidupan.
Salah satunya adalah Tari Loro Blonyo yang terinspirasi dari sepasang figur Loro Blonyo dalam kebudayaan Jawa. Melalui gerak, busana, musik, dan karakter pasangan penari, kesenian ini menghadirkan gambaran tentang keharmonisan, kesuburan, dan kesejahteraan.
Loro Blonyo dikenal sebagai sepasang figur atau patung laki-laki dan perempuan dalam tradisi Jawa. Dalam kajian mengenai rumah tradisional Jawa, patung Loro Blonyo ditempatkan di depan krobongan dan dikaitkan dengan simbol kebahagiaan suami-istri serta kesuburan.
Dari simbol tersebut, Loro Blonyo kemudian hadir dalam berbagai bentuk seni, termasuk seni tari. Salah satu penelitian Universitas Negeri Surabaya mencatat bahwa Tari Loro Blonyo di Desa Glinggang, Ponorogo, merupakan bagian dari ritual adat Methik Padi. Dalam konteks tersebut, tarian didasarkan pada figur Loro Blonyo yang dipahami masyarakat setempat sebagai Dewi Sri dan Sadana.
Dari Patung Menjadi Gerak Tari
Keunikan Tari Loro Blonyo dapat dilihat dari sumber penciptaannya. Jika Loro Blonyo pada awalnya dikenal dalam bentuk figur atau patung yang menggambarkan pasangan, dalam seni tari karakter tersebut diterjemahkan ke dalam gerakan tubuh penari.
Penelitian mengenai Tari Loro Blonyo pada Paguyuban Seni Solah Wetan, Ponorogo, menyebutkan bahwa gerak tari tersebut dikembangkan dari karakter patung Loro Blonyo. Gerak tangan memiliki kesan kaku seperti orang-orangan sawah, sedangkan gerak kaki dan pinggul cenderung lebih lincah dan energik.
Perpaduan karakter gerak tersebut menjadi salah satu ciri menarik dari Tari Loro Blonyo. Gerakan tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian estetis, tetapi juga membantu menghadirkan karakter pasangan yang menjadi sumber inspirasi tari.
Dewi Sri dan Sadana sebagai Simbol
Dalam salah satu konteks penyajiannya, Tari Loro Blonyo berkaitan dengan figur Dewi Sri dan Sadana. Penelitian Lala Frisca Nanda Gustina dari Universitas Negeri Surabaya menjelaskan bahwa masyarakat Desa Glinggang memaknai Dewi Sri sebagai dewi padi dan pembawa keberuntungan dalam bidang pertanian, sedangkan Sadana dikaitkan dengan penjaga alam semesta.
Keterkaitan tersebut membuat Tari Loro Blonyo memiliki hubungan dengan kehidupan agraris masyarakat. Dalam ritual Methik Padi, tarian menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur dan doa bersama atas hasil panen.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa penyajian Tari Loro Blonyo berkaitan dengan kerukunan dan penguatan hubungan sosial masyarakat.
Dengan demikian, makna Tari Loro Blonyo dapat berbeda sesuai konteks masyarakat dan bentuk penyajiannya. Namun, unsur keharmonisan, kesuburan, kesejahteraan, serta hubungan manusia dengan lingkungan menjadi bagian penting dalam sejumlah pemaknaan terhadap Loro Blonyo..
Makna Keharmonisan dalam Kehidupan
Keberadaan sepasang figur laki-laki dan perempuan menjadi salah satu unsur utama dalam simbol Loro Blonyo. Kajian mengenai patung Loro Blonyo menyebutkan bahwa figur tersebut berkaitan dengan gambaran pasangan pengantin dan simbol kerukunan dalam kehidupan rumah tangga.
Makna tersebut kemudian dapat diterjemahkan ke dalam hubungan antargerak penari. Gerak yang dilakukan secara berpasangan memperlihatkan adanya keterhubungan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.
Dalam kehidupan masyarakat, pesan tersebut dapat dipahami sebagai gambaran bahwa keharmonisan membutuhkan keseimbangan, kebersamaan, dan hubungan yang saling mendukung. (Carrieolis Ratu Lathiifu).
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : E-Journal Universitas Negeri Surabaya, Digital Library ISI, solobalapan.com