SOLOBALAPAN.COM- Selain Tari Bedhaya, terdapat tari yang juga berasal dan berkembang di Keraton yakni Tari Srimpi. Srimpi berasal dari kata “Sri” yang berarti raja dan “Impi” yang berarti mimpi atau angan-angan. Srimpi merupakan mimpi atau angan-angan seorang raja yang ingin diwujudkan.
Dalam bahasa Jawa kata Srimpi memiliki makna anak gadis berjumlah empat. Pada umunya tema, cerita maupun penokohan dalam Tari Srimpi tidak digambarkan secara jelas. Namun lebih menonjolkan pada kekuatan bentuk gerak, komposisi pola lantai, rias, kostum, musikalitas serta perawakan tubuh penari. Penari Srimpi sudah memiliki bekal "rasa" saat menari serta tata cara hidup di dalam lingkup Keraton dan juga tata cara menari yang benar di dalam Keraton.
Nama dari Tari Srimpi biasanya diambil dari nama gendhing yang mengiringi, misalnya Srimpi Gambirsawit menggunakan gendhing Gambirsawit, contoh lain lagi Srimpi Sangupati yang diiringi oleh gendhing Sangupati.
Baca Juga: "Bintang Utara" Buku Debut Dee Lestari di Buku Anak Sekaligus Jadi Karya Ke-22
Srimpi Sangupati menjadi salah satu karya Paku Buwana IV yang memerintah Keraton Surakarta pada tahun 1788-1820. Sebelumnya “Sangupati” memiliki nama “Sang Apati” yang berarti sebutan bagi calon pengganti raja yang memiliki arti penghormatan terhadap raja. Dan pada masa pemerintahan Paku Buwana IX tahun 1866-1893, nama Srimpi Sang Apati menjadi Srimpi Sangupati, hal ini berkaitan dengan peristiwa perjanjian untuk menyerahkan tanah pesisir Pulau Jawa secara paksa kepada pihak Belanda.
Pada saat jamuan untuk pihak Belanda saat perjanjian Paku Buwana IX dengan pihak Belanda. Pertunjukan Srimpi Sangupati tidak hanya sebagai hiburan untuk tamu Raja. Namun saat itu juga menjadi siasat untuk menggagalkan perjanjian dengan pihak Belanda.
Baca Juga: Noken Papua, Tas Anyaman dari Serat Alam yang Punya Nilai Budaya dan Ekonomi
Penari Srimpi Sangupati yang menari saat itu membawa pistol yang diisi peluru sebagai properti, hal ini bertujuan apabila perundingan itu mengalami kegagalan para penari Srimpi Sangupati siap menembak para utusan Belanda dan rela mati demi membela tanah air. Itulah alasan kenapa nama Srimpi ini dari “Sang Apati” menjadi “Sangupati” yang memiliki makna siap mati.
Akan tetapi setelah Paku Buwana XI wafat pada tahun 1893 dan digantikan dengan putranya yaitu Paku Buawan X. Tari Srimpi Sangupati dikembalikan lagi menjadi Tari Srimpi Sangapati. Dimaksudkan agar semua hasil perbuatan manusia selalu ditujukan untuk menciptakan danmemelihara keselamatan maupun kesejahteraan.
Baca Juga: Selama Ini Cuma Dianggap Adegan Pembuka, Ternyata Sofa The Simpsons Punya Istilah Sendiri
Tercermin dalam makna simbolis dari Tari Sangapati yang menggambarkan perlawanan terhadap hawa nafsu yang selalu menyertai kehidupan manusia yang berusaha untuk menang sendiri. Namun sekarang Tari Srimpi Sangapati ini lebih dikenal dengan Tari Srimpi Sangupati, Tari Srimpi Sangupati sendiri dipertunjukan saat Keraton Kasunanan memiliki hajat seperti pernikahan anak raja atau pada perjamuan tamu dari luar negeri. Tidak hanya berkembang di Keraton Kasunanan, Srimpi Sangupati juga berkembang dan dilestarikan di Pura Mangkunegaran. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun Triyatno