Mengenal Tari Gaya Surakarta: Keindahan Gerak, Karakter, dan Filosofi Tari Klana Topeng

tim solobalapan • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 12:25 WIB
Tari Klana Topeng pada acara Sekaten Art Festival 2026(doc. instagram @bajoesaputra)
Tari Klana Topeng pada acara Sekaten Art Festival 2026(doc. instagram @bajoesaputra)

SOLOBALAPAN.COM-Tari Gaya Surakarta merupakan salah satu kekayaan seni tari tradisional Jawa yang berkembang dari lingkungan budaya Keraton Surakarta. Tari ini memiliki ciri khas pada bentuk gerak, karakter, irama, serta penghayatan penarinya. Keindahan Tari Gaya Surakarta tidak hanya dapat dilihat dari gerakan tubuh penari, tetapi juga dibangun melalui keselarasan antara gerak, musik, karakter, dan rasa.

Beragam Genre Tari Gaya Surakarta

Tari Gaya Surakarta memiliki berbagai genre dengan karakter dan fungsi yang berbeda. Materi Tari Gaya Surakarta menyebut beberapa genre yang berkembang, antara lain Bedhaya, Srimpi, Gambyong, Golek, Wireng, Pethilan, Wireng Pethilan, Wayang Wong, dramatari atau sendratari, serta kelompok bertema.

Baca Juga: Sah! Pemerintah Tetapkan 18 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ini Daftar Lengkapnya

Masing-masing genre mempunyai ciri khas tersendiri. Bedhaya dan Srimpi, misalnya, berkaitan erat dengan tradisi tari keraton. Gambyong dikenal sebagai tari yang memiliki karakter luwes dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, genre Wireng dan Pethilan lebih menonjolkan karakter keprajuritan, tokoh, atau cerita tertentu.

Salah satu tarian gaya surakarta yang ikonik adalah Tari Klana Topeng yang menampilkan karakter kuat. Penggambaran tokoh Klana dapat terlihat melalui sikap tubuh, kualitas tenaga, ekspresi, serta gerak yang menggambarkan karakter tokoh.

Baca Juga: Ande-Ande Lumut Khas Solo, Olahan Singkong yang Sekilas Mirip Kolak

Tari Klana Topeng merupakan salah satu tarian klasik gaya Surakarta  yang menggambarkan ketangkasan, kemegahan, sekaligus gelora kasmaran seorang raja. Tari ini mengusung lakon Panji dan berfokus pada karakter Raja Klana Sewandana (Prabu Klana Jaka), penguasa Kerajaan Senggala yang gagah berani namun memiliki sifat temperamental.

Sejarah Tari Klana Sewandana menjadi jajararan tari klasik yang wajib ada di kraton Surakarta Hadiningrat sebagai penghormatan kepada Ponorogo yang telah membantu Susuhunan Paku Buwana II ketika kraton kartasura diserang oleh orang-orang cina dalam Geger Pecinan. Meski demikian, pelestarian tari Klana ini dalam bentuk garapan gaya Surakarta yang diperuntukan untuk mengingat akan kegigihan dan kegagahan raja Klana Sewandana yang tangguh serta sebagai tari tolak bala, yang terbukti hingga saat ini kraton Surakarta selalu aman.

​Makna dan Karakteristik Tari

​Tarian ini menampilkan penggambaran psikologis seorang raja yang sedang jatuh cinta pada Dewi Sekartaji. Gerakannya dinamis, tegas, dan sarat dengan ekspresi kegagahan (karakter gagah atau raksasa/krura dalam pakeliran Jawa).

​Gerakan Khas: Menampilkan gerakan bersolek (nggriya), merapikan pakaian, memasang mahkota, hingga memperagakan ketangkasan olah kanuragan.

​Properti Utama yang digunakan adalah Topeng (Mubeng/Klana) berwarna merah yang melambangkan keberanian, amarah, dan hawa nafsu, serta penggunaan sampur (selendang) dan kadang keris sebagai atribut kelengkapan busana gaya Surakarta.

Di balik gerakannya yang energik, Tari Klana Topeng mengandung pesan filosofis tentang kendali diri. Topeng merah dan sikap kelana (berkelana/mencari kepuasan nafsu) menjadi gambaran emosi manusia yang harus dikendalikan agar tidak terjerumus dalam keserakahan dan amarah. (carrieolis ratu lathiifu)

 

Editor : Kabun Triyatno
carrieolis ratu tari klana topeng tari gaya surakarta budaya Keraton