SOLOBALAPAN.COM - Menjadi perempuan tidaklah mudah, tidak hanya mengenai penampilan tetapi perempuan juga kerap kali dihadapkan pada tuntutan dan pandangan lingkungan sekitarnya.
Berbagai pandangan itu akhirnya membentuk bagaimana seorang perempuan harus bersikap dan berpenampilan.
Seperti sistem kekerabatan masyarakat Madura yang memposisikan posisi laki-laki lebih dominan daripada perempuan, hal mengakibatkan budaya patriarki terus tumbuh dan keterbatasan ruang yang didapatkan oleh perempuan.
Apalagi di saat perempuan Madura dianggap sebagai simbol kehormatan bagi suaminya, ini semakin menyebabkan peran seorang perempuan dibatasi secara domestik.
Contohnya dalam hal pekerjaan, masyarakat Madura lebih memiliki jika istrinya menjadi ibu rumah tangga daripada harus bekerja di luar rumah.
Apalagi pada masa kolonial, menjadi seorang seniman bagi seorang perempuan adalah hal yang tabu, dan tidak lazim. Kendati ada peran perempuan di atas panggung pada masa itu umumnya diperagakan oleh para laki-laki yang berdandan menyerupai perempuan.
Seperti yang dirasakan Trisnawati yang lahir dari pasangan Pardi dan Suprapti yang dulunya sama-sama berporofesi sebagai seorang seniman tradisional. Kondisi ekonomi mendorong ibunya harus menjadi seorang seniman dibawah stigma negatif masyarakat pada waktu itu.
Inilah yang mendorong Trisnawati membulatkan tekadnya untuk mempelajari segala pernak-pernik dunia panggung, apalagi setelah saat kecil Trisnawati sering melihat sang kakak berkesenian dengan berdandan menyerupai laki-laki.
Resiko menjadi seniman di Madura terutama pada masa kolonial.
Menjadi seniman di tanah Madura sangatlah beresiko, selain dekat dengan fitnah, pendapatan yang didapatkan juga tidak pasti, jauh dari keluarga karena harus pentas beberapa hari di berbagai tempat.
Berkaca pada ibunya yang tidak menyerah berjuang sebagai seorang seniman perempuan membuat Trisnawati memiliki pandangan bahwa menjadi seorang seniman perempuan bukanlah hal yang hina seperti digambarkan pada stigma negatif masyarakat yang sudah tersebar.
Trisnawati ingin membuktikan bahwa perempuan pantas berada di atas panggung pertunjukan. Perempuan kelahiran Banyuwangi, 4 Maret 1964 terus berjuang dengan keinginannya sebagai penari walaupun harus melawan banyak stigma negatif dan membuktikan jika semua stigma negatif itu tidak selalu benar.
Tekad Trisnawati menjadi seorang semakin menumbuhkan semangatnya dalam menari hingga melahirkan sebuah karya.
Selain sebagai penari, Trisnawati juga telah banyak menorehkan kontribusinya dalam hal penciptaan dan pengembangan Tari Remo Jawa Timur yang unik dan khas, dan dikenal sebagai Tari Remo Trisnawati.
Baca Juga: Hearts2Hearts Masuk Game Horor, Harus Kabur dari Boneka Marionette Selama 74 Menit
Istilah Remo Trisnawati sendiri muncul pada tahun 1981, saat Trisnawati mengikuti lomba tari Remo di Surabaya.
Adapun Sinopsis dari Tari Remo Trisnawati ini sebagai berikut “Tari Remo Trisnawati merupakan tarian khas Situbondo yang biasa ditampilkan sebagai tarian pembuka.
Tarian ini menceritakan tentang seorang wanita yang mandiri, mempunyai karakter yang tegas namun tetap lembut.
Ragam geraknya yang indah lincah, dan dinamis merupakan perpaduan dari ragam gerak tari daerah Banyuwangi, Situbondo, dan Surabaya”.
Baca Juga: Mengenal Adegan Gara-Gara: Di Balik Humor Punakawan yang Memiliki Pesan Moral Mendalam
Dengan memadukan ragam gerak dari tari daerah Banyuwangi, Situbondo, dan Surabaya, tidak meninggalkan ciri khas dari Tari Remo itu sendiri dengan ragam-ragam gerak Remo yang lebih diperhalus.
Tari Remo Trisnawati ini kini lebih dikenal sebagai Tari Remo Putri yang sekarang kerap digunakan sebagai objek kajian seni. (Adhima Aulia)
Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber