Inilah Perbedaan Sekaten Keraton Jogja dan Solo

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 19:10 WIB
Grebeg Maulud Sekaten Keraton Surakarta. (M Ihsan/Radar Solo)
Grebeg Maulud Sekaten Keraton Surakarta. (M Ihsan/Radar Solo)

SOLOBALAPAN.COM — Yogyakarta dan Solo sama-sama dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa. Dua kota ini juga memiliki keraton yang hingga kini masih mempertahankan berbagai tradisi warisan leluhur.

Salah satunya Sekaten.

Nama tradisinya sama, tetapi pelaksanaan Sekaten di Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan itu terlihat dari susunan acara, pihak yang terlibat, hingga fungsi Sekaten bagi masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Tari Sraddhaloka, Saat Tradisi Mataraman Menjadi Karya Baru

Sekaten dipercaya berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa. Tradisi ini disebut dipelopori Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah.

Nama Sekaten kerap dikaitkan dengan kata Syahadatain, yang merujuk pada dua kalimat syahadat. Ada pula penafsiran lain, seperti sekaten yang dikaitkan dengan kata sekaten atau sekatenan sebagai simbol membatasi diri dari perbuatan buruk.

Baca Juga: Bukan Cuma Sunrise, Silancur Highland Magelang Punya Panorama Enam Gunung

Dalam penjelasan lain yang dikutip Ardianto (2008:108), istilah tersebut juga dikaitkan dengan sakhotain, yakni upaya menempatkan sifat dan sikap mulia dengan penuh perhatian, ketulusan, dan kesucian serta senantiasa menghambakan diri kepada Tuhan.

Sekaten juga dikenal dengan sebutan Grebeg Maulud. Tradisi ini berkembang dari strategi dakwah Islam di Jawa dengan memanfaatkan kebudayaan yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.

Pada masa sebelumnya, masyarakat Jawa mengenal tradisi selamatan untuk menghormati leluhur. Rangkaian kegiatan itu diisi doa, nyanyian, puji-pujian, hingga tabuhan gamelan.

Baca Juga: Beda Usia Andre Taulany dan Amanda Rigby Berapa? Resmi Ajukan Rekomendasi Nikah ke KUA Kebayoran Baru

Ketika Islam berkembang di Jawa, para wali kemudian memanfaatkan pendekatan budaya untuk memperkenalkan ajaran Islam. Sunan Kalijaga disebut mengembangkan tradisi tersebut dengan memasukkan unsur dakwah Islam.

Salah satunya melalui gamelan yang dimainkan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad. Gamelan ditempatkan di halaman Masjid Agung Demak dan dimainkan dengan irama yang menarik perhatian masyarakat.

Warga pun berdatangan untuk mendengarkan gamelan sekaligus mengikuti ajaran Islam yang disampaikan para wali. Masyarakat yang ingin masuk ke serambi masjid kemudian diminta mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari istilah Syahadatain itulah kemudian muncul sebutan Sekaten dalam pelafalan masyarakat Jawa.

Memasuki masa Kerajaan Mataram Islam, Sekaten berkembang menjadi salah satu simbol Islam sekaligus bagian dari legitimasi kekuasaan kerajaan. Prosesi yang sebelumnya menjadi bagian dari dakwah kemudian berkembang menjadi rangkaian upacara kerajaan.

Salah satu puncaknya adalah Grebeg Maulud.

Dalam prosesi tersebut, gunungan berisi hasil bumi, makanan, dan berbagai bahan pangan dibawa untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat. Gunungan menjadi simbol kemakmuran sekaligus ungkapan rasa syukur dan sedekah.

Perjalanan Sekaten kemudian memasuki babak baru setelah Kerajaan Mataram terpecah melalui Perjanjian Giyanti pada abad ke-18. Kekuasaan Mataram terbagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Tradisi Sekaten tetap dipertahankan oleh kedua keraton. Namun, perjalanan sejarah membuat pelaksanaannya berkembang dengan karakter masing-masing.

Di Kesultanan Yogyakarta, Sekaten lebih kuat sebagai ritual keraton yang bernuansa religius dan menjadi bagian dari spiritualitas kerajaan. Prosesi utamanya berkaitan erat dengan lingkungan internal keraton dan para pejabat kerajaan.

Sementara itu, di Kasunanan Surakarta, Sekaten berkembang lebih terbuka sebagai tradisi yang melibatkan masyarakat luas. Selain memiliki dimensi keagamaan, Sekaten juga menjadi ruang perayaan rakyat.

Perbedaan tersebut semakin terlihat pada perkembangannya di era modern.

Di Solo, Sekaten tidak hanya menjadi rangkaian tradisi keraton, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya. Ketika memasuki bulan Maulud atau Rabiul Awal, kawasan sekitar penyelenggaraan Sekaten dipenuhi pedagang kuliner, permainan rakyat, wahana hiburan, hingga pertunjukan seni.

Sekaten Art Festival turut memperkaya wajah perayaan tersebut.

Tradisi yang dahulu menjadi bagian dari strategi dakwah dan ritual kerajaan kini bertemu dengan kebutuhan pariwisata serta ekonomi masyarakat. Sekaten tetap membawa jejak religi dan budaya, tetapi kemasannya semakin beragam mengikuti perkembangan zaman.

Di sinilah Sekaten Yogyakarta dan Surakarta menemukan wajah yang berbeda.

Jika Sekaten di Yogyakarta lebih menonjolkan sisi ritual dan spiritualitas keraton, Sekaten di Surakarta berkembang dengan perpaduan religi, budaya, hiburan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Tradisinya sama. Akarnya pun berdekatan. Namun, sejarah membuat keduanya tumbuh dengan wajah masing-masing. (Adhima Aulia)

 

 

 

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia grebeg maulud sekaten tradisi Keraton