SOLOBALAPAN.COM — Suasana ritual nyadran, bersih desa, hingga sedekah bumi tidak hanya hidup dalam ingatan masyarakat Jawa. Di tangan seniman, tradisi tersebut dapat menjelma menjadi bahasa tubuh yang baru.
Itulah yang coba dihadirkan Komunitas Arjasura melalui karya tari Sraddhaloka dalam perayaan Hari Tari Dunia (HTD) di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Sraddhaloka tidak mengambil atau meniru secara langsung satu bentuk tari klasik keraton seperti Bedhaya maupun Srimpi. Karya tersebut lahir dari proses kreatif dengan meramu gerak tari, musik, dan unsur budaya dari wilayah Mataraman.
Baca Juga: My Bias, My Boss: Belajar Mengikuti Kata Hati untuk Berkata Tidak
Inspirasi utamanya datang dari suasana ritual nyadran yang masih dilakukan di berbagai daerah Jawa Timur. Pengalaman dan suasana dalam tradisi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pertunjukan yang lebih kekinian.
Tradisi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku. Sebaliknya, unsur budaya masa lalu diolah kembali melalui kreativitas seniman agar tetap dapat berbicara kepada penonton masa kini.
Baca Juga: Fakta Alat Musik Tradisional Masyarakat Dayak yang Menghasilkan Alunan Melodi yang Lembut
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Setyawati dalam Widaryanto (2021:112) bahwa koreografi baru berbasis tradisi bukan sekadar mengulang bentuk seni masa lalu, melainkan hasil kreativitas seniman dalam mengolah unsur budaya sesuai perkembangan zaman.
Di atas panggung terbuka ISI Surakarta, Sraddhaloka dibawakan 17 penari. Sebanyak 14 penari putri dan tiga penari putra mengisi ruang pertunjukan dengan karakter gerak yang berbeda.
Dominasi penari putri membuat komposisi terlihat megah sekaligus memenuhi ruang panggung. Sementara tiga penari putra memberikan aksen kuat dan tegas. Kehadiran mereka menjadi gambaran semangat serta kekuatan masyarakat agraris.
Komposisi tersebut turut memengaruhi pola lantai. Ruang tidak sekadar menjadi tempat para penari bergerak, tetapi menjadi bagian dari cara karya itu menyampaikan pesan.
Gerakan yang dilakukan secara bersama-sama membangun kesan kompak. Dari sana muncul gambaran kehidupan masyarakat agraris yang menjadikan kebersamaan sebagai kekuatan.
Jejak tradisi Mataraman juga terasa dalam ragam geraknya. Salah satunya melalui sikap tangan ngruji, yakni empat jari berdiri rapat dengan ibu jari ditekuk ke dalam telapak tangan. Sikap tersebut merupakan salah satu ciri yang kuat dalam tari Jawa pedalaman.
Namun, gerak tradisional itu tidak dibiarkan berhenti sebagai bentuk lama. Koreografinya dikembangkan melalui perubahan arah, kecepatan, dan volume gerak.
Perubahan tersebut membuat gerakan terasa lebih dinamis. Suasana dan emosi masyarakat agraris pun seolah ikut bergerak di dalamnya.
Puncaknya hadir pada bagian akhir pertunjukan. Suasana ritual yang sebelumnya khidmat perlahan berubah menjadi perayaan yang semarak.
Pola lantai bergerak semakin cepat dan dinamis. Para penari saling bersilangan, tetapi tetap berada dalam formasi yang teratur. Kesan yang muncul adalah kegembiraan setelah masyarakat menyelesaikan seluruh rangkaian ritual bersama.
Gerak penari putri memadukan kelembutan kengser dengan aksen yang lebih tegas melalui sabetan. Sementara penari putra menghadirkan lompatan rendah dan putaran yang memberi energi lebih kuat.
Perpaduan karakter tersebut menggambarkan kegembiraan masyarakat pedesaan setelah menjalankan ritual bersama.
Pada akhirnya, Sraddhaloka bukan sekadar pertunjukan tari. Karya tersebut menjadi contoh bagaimana tradisi dapat terus bergerak tanpa kehilangan identitasnya.
Melalui gerak, musik, pola lantai, dan unsur budaya Mataraman, Sraddhaloka menghadirkan kehidupan masyarakat agraris dalam bahasa seni yang baru. Ada ritual, kebersamaan, dan rasa syukur yang kemudian diterjemahkan menjadi gerak di atas panggung.
Tradisi pun tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama. Ia bisa berubah, berkembang, dan menemukan panggung baru tanpa harus kehilangan akar budayanya. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber