Seblang Olehsari, Ritual yang Lahir dari Pagebluk Hampir 1 Abad

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 19:30 WIB
Penari Seblang (YouTube: @igabrianandai)
Penari Seblang

SOLOBALAPAN.COM — Tujuh hari setelah Idulfitri, suasana Desa Olehsari, Banyuwangi, berubah. Di tengah kehidupan masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup dari pertanian, sebuah ritual adat digelar sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.

Namanya Ritual Seblang Olehsari.

Seblang bukan sekadar pertunjukan tari. Bagi masyarakat setempat, ritual tersebut berkaitan erat dengan sejarah desa dan pagebluk yang pernah melanda pada 1930. Wabah penyakit kala itu membuat masyarakat hidup dalam kecemasan. Banyak warga jatuh sakit dan meninggal dalam waktu singkat.

Baca Juga: Siapa Hana Kuraki? Bintang Film Dewasa Jepang yang Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun, , Sempat Umumkan Hiatus

Di tengah situasi tersebut, masyarakat meyakini muncul petunjuk dari leluhur untuk menggelar selamatan desa. Ritual itu kemudian berkembang menjadi Seblang Olehsari yang hingga kini terus dilaksanakan setiap tahun.

Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas kesuburan tanah dan hasil pertanian yang melimpah. Maklum, Desa Olehsari merupakan wilayah agraris dengan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.

Baca Juga: Ronde Kering hingga Peach Gum, 3 Varian Ronde Solo yang Unik

Ritual Seblang dilaksanakan selama tujuh hari pada bulan Syawal, setelah perayaan Idulfitri. Pelaksanaannya terbagi dalam sejumlah tahapan, mulai persiapan, pelaksanaan ritual, hingga penutup.

Salah satu bagian yang paling dinanti adalah saat penari Seblang menjalani prosesi kejiman. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, penari mengalami kondisi kerasukan roh leluhur dan kemudian menari mengikuti iringan tembang serta gending yang dimainkan selama ritual.

Salah satunya Gending Lukitno yang dipercaya masyarakat sebagai bagian dari prosesi pemanggilan leluhur. Penari kemudian menari mengitari Payung Agung selama ritual berlangsung.

Baca Juga: Gen.G Jawara Back To Back LCK 2026, Chovy dan Ruler Jadi Sorotan

Penari Seblang tidak dipilih sembarangan. Proses pemilihannya dilakukan melalui kejiman. Dalam tradisi yang berkembang di Olehsari, penari merupakan perempuan yang belum menikah. Kini, penari Seblang umumnya merupakan gadis berusia sekitar 10 tahun hingga remaja yang memiliki garis keturunan penari Seblang.

Kepercayaan terhadap hubungan antara penari, leluhur, dan keselamatan desa menjadi bagian penting dalam ritual tersebut. Masyarakat Olehsari meyakini leluhur memiliki peran dalam menjaga keseimbangan dan melindungi desa.

Ritual kemudian ditutup dengan Ider Bumi. Masyarakat mengelilingi desa sebagai bagian dari rangkaian tradisi, sebelum prosesi berakhir dengan siraman.

Seblang Olehsari juga memiliki keterkaitan dengan tradisi serupa di Desa Bakungan. Meski sama-sama berada di Banyuwangi, masing-masing memiliki tata cara dan karakteristik tersendiri.

Bagi masyarakat Olehsari, Seblang bukan hanya warisan budaya. Ritual tersebut menjadi pengingat atas sejarah desa, bentuk rasa syukur, sekaligus cara masyarakat menjaga hubungan dengan tradisi yang telah hidup sejak masa lalu.

Di tengah perubahan zaman, Seblang tetap dipertahankan. Tembang, gerak tari, ritual, hingga keyakinan yang menyertainya terus menjadi bagian dari identitas masyarakat Olehsari. (Adhima Aulia)

Editor : Kabun Triyatno
adhima aulia seblang olehsari penari banyuwangi ritual