SOLOBALAPAN.COM - Sejak empat tahun terakhir, masyarakat pelaku dan penikmat kesenian rakyat, musik dangdut dan musik campur sari di Indonesia cukup dikejutkan dengan pertunjukan kesenian Buto Gedruk Saleho yang mendadak populer.
Buto Gedruk Saleho berkembang secara beriringan dengan orkes Dangdut MG86, khususnya di platform YouTube bahkan menembus stasiun-stasiun TV Nasional, yang sekarang lebih dikenal dengan julukan Saleho.
Sebenarnya Saleho ini adalah salah satu kesenian jenis gedruk yang dilestarikan dan dikembangkan di Sanggar Karya Budaya Boyolali, Jawa Tengah yiatu Buto Gedruk Saleho. Namun, lebih banyak yang mengenal dengan sebutan Saleho.
Baca Juga: Berkolaorasi dengan Deny Caknan, Komunitas Saleho Karya Budaya Melebarkan Sayap Lewat Musik
Dalam wawancara, Agus Purwanto atau yang biasa dikenal dengan Abah Lala mengatakan di salah satu acara penyebutan dari Gedruk Buto Saleho ini disebutkan terbalik yang berakhir banyak masyarakat mengenal komunitas ini sebagai Saleho.
Buto Gedruk Saleho sendiri merupakan tarian yang menggunakan topeng untuk menggambarkan tentang sosok raksasa dalam dunia pewayangan. Namun dengan ragam pola gerak yang di dominasi dengan hentakan kaki bisa disebut dengan gedrukan.
Yang menarik perhatian dari kesenian ini adalah pengaruh Orkes Dangdut MG86 yang mengembangkan arransemen musik dangdut dan campur sari yang menyesuaikan gaya musik Buto Gedruk Saleho.
Baca Juga: Jadwal Tampil Saleho Beserta Lokasinya, Jangan Sampai Terlewat
Pola karakternya dibentuk melalui permainan pola ritmis dari tiga hingga empat bendhe (memakai instrumen digital), drum set, dan kempul-gong.
Pada awalnya, tiga pola permainan ritmis ini dari ketiga buah instrumen tersebut hanya mengiringi adegan kesurupan (ndadi) namun melihat para penonton menikmati alunan musik tersebut, kemudian juga disajikan untuk mengiringi bagian kosekan dalam sajian Buto Gedruk Saleho.
Bagian terakhir sebelum ndadi, penari Buto Gedruk Saleho melepas topeng yang dikenakan untuk saling beradu kebolehan secara bergantian yang dibagi dalam beberapa kelompok penari dengan ragam geraknya masing-masing.
Baca Juga: Prompt Tren Foto 80-an Anti Gagal di ChatGPT, Siap Pakai Tanpa Ubah Wajah Asli Paling Realistis
Buto Gedruk Saleho sebenarnya adalah hasil pengembangan pada 2016 dari bentuk kesenian sejenis yang telah ada sebelumnya.
Yaitu tari dan musik Yakso Cikrak (Buto Cikrak) yang dipelajari dan dikembangkan pertama kali sejak komunitas Karya Budaya lahir sekitar 2008-2009.
Proses penggarapan bersama pelaku kesenian serupa dari Dusun Selo Tengah, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Kini kesenian yang diketuai oleh Abah Lala ini semakin populer di masyarakat, hingga memiliki beberapa jenis kesenian yang berada di bawah komunitas Karya Budaya.
Baca Juga: Mengenal Sea Moss Gel, Superfood Viral Kaya Nutrisi Untuk Kesehatan Tubuh Dan Kulit
Yaitu yang pastinya Buto Gedruk Saleho, Topeng Ireng Saleho, Kuda Lumping/ Jathilan Wiroyudho, Tari Warok Putra dan Putri.
Tidak hanya jenis-jenis kesenian yang menarik perhatian masyarakat akan tetapi penari yang terlibat dalam komunitas Karya Budaya juga menarik perhatian masyarakat.
Bahkan para penari menjadi idola di kalangan para remaja, juga lagu-lagu bahkan vokal/sinden di kesenian ini juga tidak luput dari perhatian masyarakat, musik yang mengiringi kesenian juga semakin populer di media sosial dan penggemar. (adhima aulia)
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber