SOLOBALAPAN.COM – Di tengah perubahan bentuk hiburan dari masa ke masa, Wayang Orang Sriwedari masih mempertahankan panggungnya di Kota Solo. Pertunjukan yang memadukan drama, tari, musik, dan pedalangan itu menjadi salah satu jejak panjang perjalanan seni pertunjukan tradisional di Solo.
Cerita yang diangkat umumnya bersumber dari epos Mahabharata dan Ramayana. Namun, daya tarik Wayang Orang Sriwedari tidak hanya terletak pada kisah yang dimainkan. Di atas panggung, dialog, gerak tari, iringan gamelan, tata busana, hingga karakter tokoh berpadu menjadi satu pertunjukan yang merepresentasikan seni tradisi Jawa.
Baca Juga: Meski Bentuknya Aneh, Black Garlic Atau Bawang Hitam Baik Untuk Jantung Dan Mengontrol Gula Darah
Keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari sejarah Taman Sriwedari. Kawasan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Berdasarkan data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pembangunan Taman Sriwedari dimulai pada 1899 dan diresmikan pada 1901 sebagai taman rekreasi.
Seiring berkembangnya kawasan tersebut sebagai ruang hiburan, berbagai aktivitas kesenian ikut tumbuh. Salah satunya pertunjukan wayang orang yang kemudian memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan budaya masyarakat Solo.
Baca Juga: Inilah Kandungan Nutrisi dan Manfaat Bawang Dayak bagi Kesehatan
Menurut sumber Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Wayang Orang Sriwedari dibentuk pada 10 Juli 1910. Kehadirannya berawal dari keinginan Paku Buwono X menyediakan hiburan bagi masyarakat. Para pemain tidak hanya berasal dari kalangan abdi dalem, tetapi juga masyarakat di luar lingkungan keraton yang memiliki kemampuan menari.
Minat masyarakat terhadap pertunjukan tersebut kemudian ikut mendorong hadirnya gedung pertunjukan wayang orang secara permanen di kawasan Sriwedari.
Pada masa berikutnya, Wayang Orang Sriwedari tumbuh menjadi salah satu hiburan yang lekat dengan kehidupan masyarakat Solo. Sebuah penelitian sejarah menyebutkan, sejak berdiri pada 1911 hingga sekitar 1960, kelompok tersebut mengalami masa kejayaan. Pertunjukan digelar setiap malam dan ramai didatangi penonton.
Baca Juga: Sering Dikira Anjing Liar, Ternyata Begini Alasan Anjing di Bali Dibiarkan Berkeliaran
Pada masa itu, wayang orang bukan sekadar tontonan. Panggung Sriwedari menjadi salah satu ruang pertemuan masyarakat dengan cerita, karakter, musik, dan nilai-nilai yang tumbuh dalam kebudayaan Jawa.
Namun, panggung tersebut kemudian berhadapan dengan perubahan zaman. Memasuki dekade 1970-an hingga 1980-an, perkembangan teknologi dan munculnya berbagai bentuk hiburan baru membuat pilihan tontonan masyarakat semakin beragam. Jumlah penonton Wayang Orang Sriwedari pun mulai menurun.
Perubahan itu menunjukkan bahwa keberlangsungan seni tradisional tidak pernah berada di ruang yang sepenuhnya tetap. Ketika selera dan cara masyarakat menikmati hiburan berubah, kesenian tradisional pun dituntut menemukan cara untuk tetap berhubungan dengan penontonnya.
Wayang Orang Sriwedari hingga kini tetap menjadi bagian dari wajah budaya Kota Surakarta. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keberlangsungannya, mulai dari pembenahan pertunjukan dan sarana prasarana, regenerasi pemain, hingga pemanfaatan media sosial sebagai ruang untuk memperkenalkan kembali pertunjukan kepada masyarakat.
Perjalanan panjang tersebut membuat Wayang Orang Sriwedari tidak hanya menyimpan cerita tentang sebuah kelompok seni. Di dalamnya terdapat perubahan wajah hiburan masyarakat Solo dari masa ke masa. Dari lingkungan keraton dan Taman Sriwedari, wayang orang tumbuh menjadi tontonan publik, melewati masa kejayaan, kemudian menghadapi tantangan ketika dunia hiburan berubah.
Panggung Sriwedari pada akhirnya menjadi semacam penanda bahwa sebuah tradisi bisa terus hidup bukan karena zaman berhenti berubah, melainkan karena kesenian tersebut terus mencari cara untuk berjalan bersama perubahan. (carrieolis ratu lathiifu)
Editor : Kabun Triyatno