Ledhek Jimbe Blitar, Tari yang Dulu Distigma Negatif Ternyata Punya Jejak Perlawanan

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 18:15 WIB
Penari Tari Ledhek Jimbe (Instagram: @novyta_mijil)
Penari Tari Ledhek Jimbe.

SOLOBALAPAN.COM – Ledhek kerap ditempatkan dalam stigma negatif. Sejak masa kolonial, penari Ledhek yang tampil dalam pertunjukan Tayuban acap dikaitkan dengan hiburan kaum pria. Namun, di balik gerak gemulai dan citra tersebut, tersimpan cerita tentang perempuan yang pernah mengambil peran dalam perlawanan terhadap penjajahan.

Ledhek merupakan pemeran utama dalam Tayuban, kesenian yang telah membudaya di masyarakat Jawa. Pertunjukan ini berkembang sebagai hiburan, khususnya bagi kaum pria. Citra itulah yang kemudian membuat Ledhek kerap dipandang sebelah mata.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Ini yang Membuat Sawah Senja Menarik di Dekat Salatiga

Salah satu jejak kesenian tersebut masih ditemukan di Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Mengutip jurnal “Pluralitas dan Pelestarian Budaya: Studi Mengenai Ledek Jimbe di Desa Jimbe Kademangan Kabupaten Blitar” karya Avika Putri Kusumawardani, Ledhek Jimbe memiliki cerita yang berbeda dari stigma yang selama ini melekat.

Pada era kolonialisme, penari Ledhek disebut pernah dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi untuk menarik perhatian penjajah. Kecantikan dan keluwesan penari menjadi daya tarik untuk mendekati mereka.

Baca Juga: Bukan Sekadar Alas, Ini Alasan Nasi Gandul Khas Pati Disajikan dengan Daun Pisang

Dalam kisah yang berkembang mengenai Ledhek Jimbe, para penari bahkan disebut menggunakan racun yang dicampurkan ke minuman untuk menyerang penjajah.

Cerita tersebut menempatkan Ledhek dalam perspektif berbeda. Di balik panggung hiburan dan sosok penari perempuan, terdapat narasi tentang keberanian dan strategi menghadapi kekuasaan kolonial.

Baca Juga: Tren Kartu Pokemon Menular Ke Member LNGSHOT Ryul Dan Louis, Umbar Video Unboxing

Desa Jimbe kemudian dikenal sebagai salah satu pusat pelatihan Ledhek. Kesenian tersebut diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, warisan itu perlahan menghadapi ancaman baru. Bukan lagi penjajahan, melainkan modernisasi.

Perubahan zaman membuat sebagian keluarga tidak lagi meneruskan kesenian tersebut kepada generasi berikutnya. Akibatnya, jumlah pelaku dan pewaris Ledhek semakin berkurang. Eksistensinya pun terancam hilang ditelan zaman.

Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar. Upaya pelestarian dilakukan dengan mengembangkan unsur kesenian Ledhek menjadi karya tari pergaulan berjudul Tari Ledhek Jimbe.

Karya tersebut pertama kali dipentaskan dalam Festival Tari Pergaulan Jawa Timur 2018 di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur.

Hasilnya tidak sekadar menghidupkan kembali kesenian lama. Tari Ledhek Jimbe berhasil meraih juara pertama dalam festival tersebut. Prestasi juga diraih para pendukungnya. Penari mendapatkan predikat Peraga Terbaik, sedangkan Novyta Miil Purwana dinobatkan sebagai Penata Tari Terbaik.

Setelah festival, Tari Ledhek Jimbe tidak berhenti sebagai karya pemenang. Tarian tersebut terus digunakan dalam berbagai kesempatan, termasuk sebagai tarian pembuka dan penyambutan tamu.

Tari Ledhek Jimbe juga menjadi salah satu materi pembelajaran di Sanggar Tari Pendapa yang berada di bawah naungan Disparbudpora Kabupaten Blitar.

Upaya pelestarian itu menjadi penting karena jejak Ledhek Jimbe tidak hanya berbicara tentang sebuah bentuk pertunjukan. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai tradisi, perempuan, kehidupan sosial masyarakat, hingga cerita tentang masa kolonial yang diwariskan antargenerasi.

Salah satu maestro yang masih berupaya melestarikan kesenian tersebut di Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, adalah Soekarmi Soeraya.

Keberadaan para maestro dan ruang belajar menjadi jembatan agar Ledhek tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Kesenian yang pernah terancam hilang itu kini kembali diperkenalkan melalui bentuk yang lebih mudah diterima masyarakat.

Ledhek Jimbe pun perlahan mendapatkan wajah baru. Dari kesenian yang lama dibayangi stigma, ia menjelma menjadi karya tari yang dipentaskan, dipelajari, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, Ledhek Jimbe bukan hanya tentang gerak tari. Ia adalah jejak budaya yang menyimpan cerita tentang perempuan, perlawanan, perubahan zaman, dan upaya panjang untuk menjaga warisan agar tidak benar-benar hilang. (adhima aulia)

 

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
seni budaya Kesenian rakyat Ledhek Tari Ledhek Jimbe tari