SOLOBALAPAN.COM – Menghormati dan menghargai guru telah lama menjadi bagian penting dalam tradisi menuntut ilmu. Dalam kisah pewayangan Jawa, nilai tersebut tergambar kuat melalui sosok Bambang Ekalaya. Meski ditolak berguru secara langsung, ketekunan dan penghormatannya kepada Resi Dorna tidak pernah surut.
Kisah tersebut kemudian diabadikan bukan hanya melalui tulisan dan lukisan, tetapi juga lewat gerak tari. Dosen Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Nuryanto mengangkatnya dalam karya berjudul “Sang Ekalaya”.
Baca Juga: Langka dan Kaya Nutrisi, Ini Deretan Manfaat Madu Hijau yang Jarang Diketahui.
Karya tersebut mengisahkan perjalanan Bambang Ekalaya yang ingin berguru kepada Resi Dorna untuk menguasai ilmu memanah Danuweda. Namun, keinginannya ditolak. Resi Dorna hanya bersedia menjadi guru bagi keturunan Kuru, yakni Pandawa dan Kurawa. Selain itu, sang resi telah bersumpah menjadikan Arjuna sebagai kesatria pemanah terbaik di muka bumi.
Penolakan tersebut tidak membuat Ekalaya patah semangat. Ia menerima keputusan Resi Dorna dengan lapang dada. Baginya, penolakan bukan alasan untuk berhenti belajar. Ia tetap menganggap Resi Dorna sebagai gurunya.
Baca Juga: Dari Ritual hingga Terapi Kesehatan, Ini Enam Fungsi Tari dalam Kehidupan
Dalam karya tari tersebut, kisah itu digambarkan melalui keberadaan dua gunungan. Ekalaya membuat patung Resi Dorna sebagai simbol kehadiran sang guru. Setiap hari ia berlatih mengasah kemampuan memanah dan bersemedi di hadapan patung tersebut.
Patung itu menjadi perantara Ekalaya dalam berguru. Tanpa kehadiran guru secara langsung, ia tetap belajar dengan tekun, seolah-olah Resi Dorna berada di hadapannya dan membimbing setiap prosesnya.
Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Ekalaya berhasil menguasai ilmu memanah Danuweda.
Baca Juga: Bedhaya Ketawang dan Jejak Mistis di Balik Kesakralan Tari Pusaka Keraton Surakarta
Kemampuannya terbukti ketika Arjuna menemukan seekor hewan di hutan yang telah mati dengan tubuh dipenuhi anak panah. Anak-anak panah tersebut melesat dalam jumlah banyak, tetapi semuanya tepat mengenai satu sasaran. Kemampuan semacam itu hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang menguasai ilmu Danuweda.
Arjuna kemudian membawa hewan tersebut kepada Resi Dorna. Ia menunjukkan bukti bahwa ada kesatria lain yang telah menguasai ilmu memanah tersebut, sementara kemampuan itu sebelumnya diyakini menjadi keistimewaan Arjuna.
Mengetahui Ekalaya telah menguasai ilmu Danuweda, Resi Dorna murka. Sang resi kemudian mendatanginya.
Kedatangan Resi Dorna justru disambut dengan baik oleh Ekalaya. Tidak ada kekecewaan atau kemarahan yang ditunjukkannya. Ia tetap menempatkan Resi Dorna sebagai guru yang dihormatinya.
Ekalaya bahkan menyadari dirinya tidak pernah menjadi murid Resi Dorna secara langsung. Ia mengaku telah belajar melalui perantara patung sang resi yang dibuatnya sendiri.
Namun, Resi Dorna tetap memiliki keharusan untuk menghentikan kemampuan Ekalaya. Sang resi kemudian meminta ajian yang tersemat di ibu jari Ekalaya. Sebagai gantinya, Dorna akan mengakui Ekalaya sebagai murid.
Tanpa ragu, Ekalaya memenuhi permintaan gurunya. Karena rasa hormat dan pengabdiannya, ia melepaskan ajian yang berada di ibu jarinya meski pengorbanan tersebut harus dibayar dengan nyawa.
Kisah tragis sekaligus penuh keteguhan itu menjadi inti karya “Sang Ekalaya”. Di dalamnya, tari tidak hanya menjadi rangkaian gerak, tetapi juga medium untuk menyampaikan nilai tentang ketekunan, ketulusan, penghormatan kepada guru, sekaligus ketidakadilan yang dihadapi seorang murid dalam perjalanan menuntut ilmu.
Karya tersebut dipentaskan dalam Triwulan Catha Ambya #4. Pementasan itu sekaligus menjadi karya purna tugas Nuryanto setelah puluhan tahun mengabdikan diri untuk memberikan ilmu dan membimbing mahasiswa ISI Surakarta.
Meski masa pengabdiannya berakhir, karya dan ilmu yang ditinggalkannya tetap menjadi bagian dari perjalanan para mahasiswa dan institusi.
Dari kisah Ekalaya, terselip pesan bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang untuk belajar. Tekad, ketekunan, dan ketulusan dapat membawa seseorang melampaui batas. Namun, kisah itu juga mengingatkan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak selalu berlangsung dalam ruang yang adil.
Melalui “Sang Ekalaya”, kisah pewayangan tersebut kembali menemukan bentuknya dalam bahasa tubuh. Gerak tari menjadi cara untuk menghidupkan kembali cerita lama sekaligus mengajak penonton melihat kembali arti seorang guru, murid, pengabdian, dan pengorbanan. (adima aulia)
Editor : Kabun Triyatno