SOLOBALAPAN.COM – Perebutan Jamus Kalimasada membawa Dewi Mustakaweni ke dalam serangkaian perang tanding. Namun, pertarungan dengan Bambang Priyambada justru membuka jalan bagi tumbuhnya benih cinta.
Kisah tersebut diangkat dalam pementasan wayang orang bertajuk Darma Putra melalui Triwulan Catha Ambya #11. Pementasan ini mempertemukan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan Wayang Orang RRI Surakarta.
Mengusung tema “Harmoni Tradisi dan Akademisi”, pementasan dijadwalkan berlangsung Selasa (8/9/2026) pukul 20.00 di Auditorium Sarsito Mangoenkoesoemo RRI Surakarta.
Baca Juga: Menjaga Pakem Tari Jawa di Tengah Perubahan Zaman
Lakon Darma Putra berkisah tentang Bambang Priyambada dan Dewi Mustakaweni yang terlibat dalam perebutan pusaka penting dalam dunia pewayangan, Jamus Kalimasada.
Kisah bermula ketika Dewi Mustakaweni mencuri pusaka tersebut. Aksinya dilatarbelakangi keinginan membalas dendam atas kematian ayahandanya. Dengan kesaktian mengubah wujud, Dewi Mustakaweni menyamar sebagai Raden Gatutkaca.
Penyamaran itu membuat Dewi Drupadi terkecoh. Mengira sosok di hadapannya benar-benar Raden Gatutkaca, Dewi Drupadi menyerahkan Jamus Kalimasada.
Baca Juga: Lebih Worth it Belanja Online atau Offline? Konsumen Saat Ini Tak Terpaku Satu Platform
Namun, aksi tersebut diketahui Srikandi. Ia mengejar Dewi Mustakaweni yang membawa kabur pusaka. Keduanya kemudian terlibat perang tanding hingga Srikandi berhasil dikalahkan.
Perlawanan berlanjut ketika Bambang Priyambada datang bersama Petruk. Ia menghadapi Dewi Mustakaweni dalam pertarungan sengit. Pada akhirnya, Dewi Mustakaweni berhasil dikalahkan.
Pertarungan itu justru menghadirkan kejutan. Di tengah benturan kepentingan dan kesaktian, pertemuan Dewi Mustakaweni dengan Bambang Priyambada menumbuhkan benih cinta di antara keduanya.
Cerita tersebut kemudian menjadi sajian yang mempertemukan aksi peperangan, intrik penyamaran, perebutan pusaka, dan kisah asmara dalam satu panggung wayang orang.
Pementasan Darma Putra disutradarai Wahyu Sapta Pamungkas dengan Sanggita Setyaji Widhiadarma sebagai asisten sutradara. Penataan gending dipercayakan kepada Topo Martanto.
Sementara penataan tari ditangani Themoteus Dewa Dharma, Fitria Trisna Murti, Tumuruning Nur Rahayu Lestari, dan Louis Dian Saputra.
Panggung tersebut akan mempertemukan seniman dan seniwati Wayang Orang RRI Surakarta dengan mahasiswa semester V Jurusan Tari ISI Surakarta serta seniman Wayang Orang Sriwedari.
Triwulan merupakan program pementasan Prodi Tari ISI Surakarta yang digelar setiap tiga bulan sekali. Pementasan biasanya berlangsung di Pendhapa GPH Djojokusumo dan menjadi ruang bagi dosen maupun mahasiswa untuk menampilkan karya.
Program tersebut juga menjadi ruang kolaborasi sivitas akademika dengan seniman alumni ISI Surakarta maupun pelaku seni di Solo Raya. Melalui kolaborasi kali ini, tradisi wayang orang dipertemukan dengan proses pembelajaran dan kreativitas mahasiswa seni.
Dengan demikian, Darma Putra tak sekadar menghidupkan kembali kisah perebutan Jamus Kalimasada. Panggung tersebut sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengalami langsung proses berkesenian bersama para pelaku wayang orang. (adhima aulia)
Editor : Kabun Triyatno