SOLOBALAPAN, SEJARAH — Di tengah riuh rendah suara kicauan burung dan hilir mudik kendaraan di area parkir Pasar Burung Depok, Surakarta, berdiri sebuah bangunan yang sarat akan nilai historis.
Bangunan tersebut sekilas nampak menyerupai rumah sederhana tanpa dinding penuh—hanya menyisakan struktur pagar dan atap—serta dinaungi oleh rindangnya pepohonan, termasuk sebuah pohon beringin berukuran besar.
Situs religius dan bersejarah yang berada di tengah pusat keramaian ini dikenal sebagai Petilasan Ki Ageng Pemanahan, sebuah tempat sakral yang menjadi saksi bisu cikal bakal sejarah Kasultanan Mataram Islam.
Tempat Singgah dan Area Diskusi Tokoh Mataram
Konon menurut kisah yang berkembang secara turun-temurun di masyarakat setempat, kawasan ini dahulunya merupakan tempat persinggahan bagi Ki Ageng Pemanahan.
Di lokasi inilah, sang tokoh penting Mataram Islam tersebut kerap singgah untuk beristirahat sekaligus berdiskusi menyusun strategi bersama dua orang saudaranya.
Meskipun letaknya berada tepat di dalam komplek pasar dan dikelilingi oleh kendaraan pengunjung, keberadaan situs sejarah ini sangat dijaga kelestariannya.
Di beberapa sudut petilasan, masih sering dijumpai sisa-sisa dupa yang dibakar oleh para pendatang yang sengaja berziarah untuk memanjatkan doa atau melakukan ritual penghormatan.
Tabel Detail Karakteristik dan Tradisi Petilasan Ki Ageng Pemanahan
Guna memberikan pemetaan informasi yang jelas dan scannable mengenai kondisi fisik serta tradisi penunjang budaya di situs ini, berikut adalah rincian datanya:
Transformasi Fisik Sejak Pandemi COVID-19
Dodo, selaku petugas kebersihan yang bertanggung jawab merawat komplek Petilasan Ki Ageng Pemanahan, menjelaskan bahwa ritual yang sering dilakukan di lokasi ini umumnya merupakan draf doa bersama yang sifatnya sederhana dan bernuansa kebudayaan.
“Biasanya kalau di sini diadakan ritual ya paling doa-doa biasa mas, enggak ada acara-acara khusus. Biasanya sih doa bersama buat para pelaku yang masih nguri-uri (melestarikan) kebudayaannya,” ujar Dodo saat menjelaskan rutinitas di petilasan tersebut.
Lebih lanjut, Dodo menceritakan bahwa wujud fisik bangunan bersejarah ini sejatinya telah mengalami transformasi yang signifikan agar lebih layak bagi para peziarah.
Sebelum memiliki fasilitas atap pelindung dan hamparan lantai marmer yang bersih seperti sekarang, situs petilasan ini dahulunya hanyalah berupa bidang tanah biasa.
"Kalau bangunannya ini baru mas, sekitar tahun 2020 itu waktu covid dibangunnya. Kalau dulu kan cuma sekedar tanah, terus di sampingnya ada pagar-pagar kecil," pungkas Dodo.
Kehadiran petilasan di tengah hiruk-pikuk Pasar Burung Depok ini menjadi bukti nyata bagaimana modernitas dan warisan sejarah leluhur bisa saling berdampingan di Surakarta.