SOLOBALAPAN.COM - Sebuah terobosan baru dalam dunia seni pertunjukan tradisional sukses ditampilkan di Kota Surakarta.
Melalui program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, sebuah acara bertajuk "Diskusi dan Pertunjukan Kethoprak Putri Matah Ati" pun digelar.
Pertunjukan tersebut berlangsung di Rumah Kita Baluwarti pada Sabtu malam, 27 Juni 2026 dan mulai dipadati penonton sejak pukul 19.30 WIB.
Agenda kebudayaan ini turut dihadiri oleh sejumlah tamu kehormatan daerah, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Bapak Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M., Camat Pasar Kliwon, Bapak Ari Wibowo, S.Si.T., M.T., serta Lurah Baluwarti, Ibu Sri Winarni, S.Sos.
Acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari penanggung jawab Rumah Kita Baluwarti, Budi Bodhot, yang menekankan pentingnya ruang pertunjukan alternatif bagi seni tradisi.
Konsep utama pertunjukan ini menjadi sorotan karena seluruh pemain di atas panggung diperankan oleh perempuan, sebuah pilihan artistik yang jarang ditemukan dalam kethoprak tradisional.
Selain itu, pementasan juga menggunakan teknik visual cross-gender, di mana karakter laki-laki tidak diperankan secara langsung, melainkan disimbolkan melalui bayangan dan siluet panggung.
Inisiator kegiatan sekaligus peraih bantuan pemerintah FPK 2026, Dhea Tika Anggraeni, menjelaskan bahwa format Kethoprak Putri ini sengaja diangkat sebagai bentuk kritik terhadap dominasi sudut pandang maskulin pada panggung kethoprak tradisional yang selama ini kerap mereduksi peran perempuan sebagai pemanis panggung saja.
"Kami ingin menciptakan ruang yang aman, inklusif, dan setara untuk para seniman perempuan dalam ranah seni pertunjukan kethoprak," ungkap Dhea di sela-sela acara.
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa dominasi sudut pandang maskulin dalam kethoprak selama ini kerap membatasi peran perempuan hanya sebagai elemen pendukung dalam cerita.
Ia juga menyoroti pentingnya ruang aman dan inklusif bagi perempuan di panggung seni tradisi, tanpa menghilangkan nilai-nilai estetika dan struktur kethoprak itu sendiri.
Kolaborasi pementasan ini juga melibatkan pengelolaan dari Rumah Kita Baluwarti yang dipimpin oleh Budi Bodhot, sebagai bagian dari dukungan ruang budaya berbasis komunitas.
Alur cerita yang diangkat dalam pertunjukan menampilkan sosok Matah Ati dengan narasi yang menegaskan peran perempuan Jawa dalam sejarah sebagai figur yang tidak hanya domestik, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan.
Dialog ikonik yang diangkat, “Dadi wong wadon ora mung dadi kanca wingking,” menjadi salah satu penanda kuat pesan emansipasi dalam pementasan tersebut.
Usai pementasan, rangkaian acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang menghadirkan akademisi sekaligus pengamat seni tradisi, Dr. Trisno Santoso, S.Kar., M.Hum. Diskusi bertema "Perkembangan dan Inovasi Pertunjukan Kethoprak" tersebut membedah bagaimana seni kethoprak masa kini harus berani melahirkan pola-pola eksplorasi baru agar tetap lestari, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menegaskan bahwa dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X melalui program FPK 2026 tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga mendorong eksperimen artistik agar seni tradisi tetap relevan dengan perkembangan zaman. (nta)
Editor : Laila Zakiya