SOLOBALAPAN.COM - Gelaran seni bertajuk Trotoart: Laras Nusantara yang digelar di Surakarta menjadi ruang penting bagi komunitas seni Bali untuk menunjukkan eksistensinya di luar daerah asal.
Di tengah dominasi berbagai bentuk seni Jawa dan Nusantara lainnya, kehadiran kelompok tari Pudak Petak menjadi penanda bahwa tradisi Bali tidak sekadar bertahan, tetapi juga bergerak aktif di ruang urban.
Pudak Petak sendiri merupakan kelompok tari yang terbentuk secara kolektif di Surakarta pada 26 September 2016. Kelompok ini lahir dari kegelisahan sekaligus kecintaan para anggotanya terhadap kesenian Bali, yang mereka bawa dan hidupkan kembali di lingkungan yang jauh dari pulau asalnya.
Dalam konteks kota Surakarta, keberadaan Pudak Petak memiliki posisi yang unik. Mereka menjadi satu-satunya kelompok seni Bali yang aktif dan konsisten tampil di kota tersebut, sehingga secara tidak langsung memikul beban representasi budaya yang cukup besar.
Pada 20 Juni 2026, kelompok ini kembali tampil dalam rangkaian acara Trotoart: Laras Nusantara yang berlangsung di Sarpon Corner Stage.
Acara ini digelar mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai dengan akses terbuka dan gratis bagi publik, menjadikannya ruang seni yang inklusif.
Dalam pagelaran tersebut, Pudak Petak tidak tampil sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem seni Nusantara yang lebih luas.
Mereka berbagi panggung dengan berbagai sajian tari lain seperti Klana Topeng, Adaninggar Kelaswara, dan Megot Banyumasan, yang menunjukkan keragaman tradisi yang dirangkum dalam satu malam pertunjukan.
Namun, sorotan utama tetap tertuju pada kontribusi mereka sebagai representasi komunitas Bali di perantauan. Di tengah lintas budaya yang hadir, mereka membawa dua karya tari khas Bali yang sarat makna dan estetika.
Tarian pertama yang dibawakan adalah Tari Puspawresti, sebuah tari penyambutan yang menggambarkan penghormatan dan rasa syukur kepada tamu yang datang.
Secara filosofis, tarian ini menjadi simbol keterbukaan budaya Bali yang hangat terhadap siapa pun yang hadir.
Tari ini diciptakan pada tahun 1981 oleh dua tokoh penting seni tari Bali, yaitu I Wayan Dibia sebagai penata tari dan I Nyoman Windha sebagai penata iringan.
Struktur koreografi yang dibawakan oleh penari Pudak Petak menampilkan keseimbangan antara ekspresi syukur dan keanggunan gerak.
Formasi penari seperti Laila, Kesha, Roro, Adi, dan Candra memperkuat kesan kolektif dalam pertunjukan tersebut. Mereka tidak tampil sebagai individu, melainkan sebagai satu tubuh artistik yang bergerak serempak.
Tarian kedua adalah Tari Kembang Girang, sebuah karya kreasi baru dari seniman I Ketut Rena. Tarian ini menggambarkan kegembiraan dan pesona remaja perempuan yang sedang memasuki fase kedewasaan dengan penuh keceriaan.
Secara estetika, Kembang Girang memadukan elemen dari Tari Joged dan Tari Janger, menghasilkan karakter gerak yang lebih dinamis dan ekspresif. Properti kipas yang digunakan memperkuat visualisasi energi dan keceriaan yang menjadi inti tarian tersebut.
Penampilan ini dibawakan oleh penari Eky, Aulia, dan Saskirana yang menunjukkan interpretasi modern atas tradisi Bali tanpa meninggalkan akar budayanya. Hal ini menjadi bukti bahwa seni Bali tidak bersifat beku, tetapi terus berkembang melalui generasi baru.
Dari sudut pandang komunitas Bali, kehadiran Pudak Petak dalam panggung seperti ini bukan sekadar penampilan, melainkan bentuk diplomasi budaya.
Mereka membawa identitas Bali ke ruang publik yang lebih luas, sekaligus menjaga agar tradisi tidak terputus oleh jarak geografis.
Baca Juga: Dua Berlian Muda Persis Solo Resmi Dipanggil Timnas U-17, Dipuji Legenda Ajax Simon Tahamata
Namun, posisi sebagai satu-satunya kelompok Bali di Surakarta juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Beban untuk selalu merepresentasikan “Bali” secara utuh dapat menjadi tekanan kultural, terutama ketika harus berhadapan dengan ekspektasi penonton yang beragam.
Meski demikian, Trotoart: Laras Nusantara membuktikan bahwa ruang lintas budaya masih terbuka dan relevan.
Di tengah keberagaman yang ditampilkan, Pudak Petak berhasil menegaskan bahwa identitas Bali tetap hidup, bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai praktik seni yang terus bergerak di masa kini. (nta)
Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya