Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menengok Omah Keris Karanganyar, Tempat Empu Subandi Lestarikan Keris Lewat Laku Spiritual

Alfida Nurcholisah • Senin, 29 Juni 2026 | 19:40 WIB
Dedikasi : Empu Subandi Suponingrat sedang menempa keris di Omah Keris Karanganyar. (Arief Budiman/solobalapan.com)
Dedikasi : Empu Subandi Suponingrat sedang menempa keris di Omah Keris Karanganyar. (Arief Budiman/solobalapan.com)

KARANGANYAR, SOLOBALAPAN.COM — Denting palu besi berpadu dengan percikan bara api menghiasi rumah sederhana milik Empu Keris Subandi Suponingrat. Di bangunan yang ia beri nama Omah Keris itu, Subandi menghabiskan puluhan tahun hidupnya menjaga nyala bilah keris lewat penempaan tradisional di besalennya.

Pria 69 tahun asal Kentingan itu mengaku memulai perjalanannya tanpa mengenal dunia perkerisan. Semua bermula pada tahun 1979, saat seorang peneliti asal Jerman bernama Detrik mencari keluarga empu yang masih tersisa di Indonesia.

“Saya waktu itu hanya datang melihat prosesnya. Tahunya keris ya hanya dipakai pengantin. Setelah melihat, saya belajar sendiri karena guru empu sudah hampir tidak ada,” kenangnya saat ditemui di Omah Keris, Senin (29/6).

Baca Juga: Hari Pertama Jalur Domisili, Pendaftar SDN Cemara 2 Solo Membludak!

Rasa penasaran itulah yang mengantarkannya menjadi pembelajar otodidak. Di tengah minimnya referensi dan eksklusivitas keris yang saat itu masih berada erat di lingkungan keraton, Subandi bersama sejumlah rekannya mulai merekonstruksi berbagai motif pamor yang nyaris hilang dari peradaban.

Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia dipercaya mengajar di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), yang kemudian bertransformasi menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di sanalah ia tercatat sebagai empu pertama yang mengajarkan seni tempa keris di lingkungan perguruan tinggi resmi.

Omah Keris: Ruang Terbuka untuk Pelestarian Budaya

Keinginan kuat agar ilmu keris bisa dipelajari oleh masyarakat luas mendorong Subandi mendirikan Omah Keris pada tahun 1998. Menariknya, lokasi yang kini menjadi pusat edukasi tersebut dulunya merupakan kebun bambu yang rimbun.

Ia membangun ruang produksi keris (besalen) sendiri agar ilmu ini tidak hanya dinikmati oleh mahasiswa kampus, melainkan juga terbuka untuk masyarakat umum, peneliti, hingga tamu mancanegara.

“Di kampus ruang lingkupnya terbatas. Saya ingin teman-teman di luar kampus juga bisa belajar dan memahami keris secara mendalam,” ujarnya penuh harap.

Laku Spiritual dan Anatomi Logam Sepucuk Pusaka

Bagi Subandi, memproduksi keris bukan sekadar aktivitas menempa besi, baja, dan nikel. Ada perjalanan spiritual mendalam yang wajib dijalani seorang empu sebelum mendekati bara api.

Baca Juga: Bek Asal Prancis Gabriel Mutombo Kini Resmi Berbaju Persib Bandung, Pernah Jadi Lawan di ACL Two

“Kalau membuat keris itu ada laku yang dijalani. Memilih hari yang neptunya ketemu 40, kemudian menjalani puasa mutih selama tiga hari tiga malam. Itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi leluhur,” tutur Subandi.

Dari sisi teknis, pembuatan keris memerlukan presisi tinggi dari perpaduan beberapa jenis logam. Besi murni digunakan sebagai bahan utama penopang, sementara baja disisipkan persis pada bagian tengah bilah sebagai penguat struktural.

“Baja tidak dicampur secara acak dari awal. Setelah bahan pamor selesai disusun, baja baru diselipkan sebagai penguat, terutama untuk mempertajam bagian bilah yang fungsional,” jelasnya mendetail.

Uniknya, meskipun menggunakan material, ukuran, bahkan dibuat oleh tangan empu yang sama, Subandi menegaskan tidak akan pernah ada dua bilah keris yang benar-benar identik di dunia ini. Karakter, suasana hati, dan emosi spiritual sang pembuat otomatis ikut memengaruhi hasil akhir guratan pamor.

Menatap Masa Depan Regenerasi Empu Muda

Empu Subandi dan Omah Keris: Dedikasi puluhan tahun merawat tradisi tempa pusaka nusantara. (Arief Budiman/solobalapan.com)
Empu Subandi dan Omah Keris: Dedikasi puluhan tahun merawat tradisi tempa pusaka nusantara. (Arief Budiman/solobalapan.com)

Sejak mulai aktif menempa pada awal tahun 1980-an, ribuan bilah keris telah lahir dari tangan dingin Subandi. Tak hanya berdiam diri di besalen rumahnya, ia konsisten memperjuangkan eksistensi keris melalui jalur akademis perguruan tinggi formal.

Baca Juga: Viral Curhatan Diduga Eks Peserta Latsarmil Kopdes Kemenhan: Tidur 3 Jam hingga Krisis Air Minum

Bagi pria senja ini, institusi pendidikan merupakan benteng pertahanan utama untuk memastikan warisan budaya adiluhung bangsa tidak berhenti pada satu generasi.

“Harapannya ilmu ini tidak terputus. Saya jujur agak khawatir, karena sampai saat ini belum ada gambaran jelas mengenai sosok pengganti saya yang akan meneruskan pelestarian tempa keris tradisional ini,” pungkasnya menutup perbincangan.

Di usia senjanya, suara palu beritme konstan masih rutin terdengar dari Omah Keris Karanganyar. Selama api di tungku besalennya tetap menyala merah, Subandi percaya bahwa nyawa tradisi tempa pusaka Nusantara akan terus menemukan jalan untuk tetap hidup. (alf/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Senjata Tradisional #Empu Keris Subandi #Omah Keris #ilmu keris #besalen