SOLOBALAPAN.COM – Di tengah derasnya arus industri tekstil modern dan membanjirnya batik printing di pasaran, keberadaan batik tulis perlahan mulai terdesak.
Namun di Kota Solo, sejumlah pelaku usaha masih berupaya mempertahankan warisan budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Salah satunya Batik Merak Manis yang hingga kini tetap mempertahankan produksi batik tulis di tengah dominasi batik cap dan printing yang dinilai lebih cepat dan murah diproduksi.
Baca Juga: Terekam CCTV, Maling Gondol 50 Kg Gula di Kemuning Karanganyar
HRD Batik Merak Manis, Hari Sudaryono, mengungkapkan bahwa di tempatnya terdapat tiga jenis produksi batik, yakni batik tulis, batik cap, dan printing. Namun dari ketiganya, batik tulis menjadi produk dengan jumlah produksi paling sedikit.
“Di Merak Manis itu bisa kita bagi menjadi tiga proses. Yang pertama batik tulis, batik cap, kemudian printing. Dari tiga itu, yang paling sedikit memang batik tulis,” ujarnya saat ditemui.
Menurut Hari, batik tulis tetap dipertahankan karena memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi identitas utama batik Indonesia. Ia menilai, proses membatik menggunakan lilin menjadi ruh yang membedakan batik dengan kain bermotif biasa.
“Kalau kita bicara batik, mesti identik dengan yang namanya batik tulis. Karena batik tulis itulah cikal bakal sebuah proses batik,” katanya.
Baca Juga: Pertama dalam Sejarah! Tak Ada Pemain Real Madrid di Skuad Timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026
Ia menjelaskan, proses pembuatan batik tulis membutuhkan waktu panjang dan tingkat ketelitian tinggi. Sebelum proses membatik dimulai, motif harus dirancang terlebih dahulu hingga detail warna akhirnya dibayangkan secara matang.
Setelah desain selesai, pola dipindahkan ke kain menggunakan pensil sebelum masuk tahap pencantingan menggunakan lilin panas dan proses pewarnaan.
“Desain itu sudah dibayangkan hasil akhirnya sampai detail warnanya. Setelah dibuat master motif, baru dipindahkan ke kain dan dibatik oleh para pembatik,” jelasnya.
Nilai seni yang tinggi membuat harga batik tulis jauh lebih mahal dibandingkan batik cap maupun printing. Sebab, setiap motif dibuat langsung dengan tangan sehingga tidak ada pola yang benar-benar identik.
“Kalau diamati secara jelas pasti ada perbedaan-perbedaannya, entah sedikit lonjong atau ukurannya berbeda. Dari situlah orang mengapresiasi sebuah karya seni,” ujarnya.
Hari menjelaskan, batik cap sebenarnya merupakan pengembangan dari batik tulis untuk mempercepat proses produksi menggunakan cetakan tembaga. Sementara batik printing hanya menggunakan teknik cetak motif di permukaan kain tanpa proses lilin.
“Kalau printing itu hanya kain bermotif batik. Proses pewarnaannya juga berbeda karena hanya di permukaan kain dan tidak tembus ke belakang,” terangnya.
Cara paling mudah membedakan batik tulis dengan printing, lanjut Hari, adalah dengan melihat sisi belakang kain. Pada batik tulis maupun cap, warna akan terlihat sama di kedua sisi karena melalui proses pencelupan.
Selain mempertahankan nilai budaya, Batik Merak Manis juga menganggap batik tulis sebagai karya seni yang harus terus dijaga keberadaannya di tengah modernisasi industri tekstil.
“Batik tulis adalah bagian dari karya seni sekaligus salah satu upaya pelestarian budaya peninggalan nenek moyang kita,” katanya.
Namun mempertahankan batik tulis di era modern bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar justru datang dari minimnya regenerasi pembatik muda.
Hari menyebut sebagian besar pembatik saat ini berusia di atas 50 tahun. Sementara generasi muda lebih memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.
“Pembatik rata-rata usianya sudah di atas 50 tahun. Generasi muda sekarang mungkin melihat pekerjaan lain lebih menjanjikan,” ungkapnya.
Di sisi lain, membanjirnya batik printing dengan harga lebih murah juga menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha batik tradisional. Meski demikian, pihaknya mengaku akan terus melakukan inovasi agar batik tulis tetap diminati masyarakat.
“Kita harus terus membuat inovasi supaya batik tulis tetap diminati,” pungkasnya. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto