Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menyusuri Pasar Gawok Sukoharjo: Riuh Tradisi, Aroma Ternak, dan Denting Besi yang Menolak Punah

Andi Aris Widiyanto • Senin, 25 Mei 2026 | 10:22 WIB
Menolak Punah : Pasar Gawok masih menjadi jujugan bagi para pembeli terutama di hari pasaran jawa Pon dan Legi serta hari Minggu. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)
Menolak Punah : Pasar Gawok masih menjadi jujugan bagi para pembeli terutama di hari pasaran jawa Pon dan Legi serta hari Minggu. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)

SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM — Suara deru kendaraan yang lalu-lalang di jalanan terdengar bersahutan dengan riuh rendah obrolan para pengunjung.

Di sudut lain, seekor kucing mengeong keras dari balik jeruji kandang besi berukuran kecil, seolah memohon untuk dibebaskan.

Semua bebunyian itu melebur jadi satu di udara, berkelindan dengan aroma menyengat khas ayam, kambing, dan kotoran ternak yang memenuhi kawasan Pasar Gawok, Sukoharjo, Sabtu (17/5/2026) pagi.

Sejak fajar menyingsing, pasar tradisional yang terletak di perbatasan Sukoharjo ini sudah tampak padat merayap. Lorong-lorong pasarnya dipenuhi oleh gelombang pengunjung yang datang silih berganti.

Baca Juga: Berburu Kebaya Encim di Pasar Klewer Solo: Seni Tawar-Menawar di Tengah Lipatan Kain Batik

Magnet pasar ini memang luar biasa. Ada yang datang khusus untuk berburu hewan ternak, mencari onderdil lama di lapak klitikan (barang bekas), membeli pakaian murah, atau sekadar ingin merasakan atmosfer pasar tumpah yang unik.

Pasar Gawok memang memiliki ritme hidupnya sendiri. Ia tidak beroperasi setiap hari secara penuh. Denyut nadi utamanya digerakkan oleh kalender pranata mangsa atau hari pasaran Jawa tertentu, yakni Pon, Legi, dan Minggu.

Tak heran, begitu hari pasaran tersebut tiba, sudut-sudut pasar langsung disesaki oleh ratusan pedagang dan pembeli yang datang dari berbagai daerah di Solo Raya.

Sentra Ternak dan Riwayat Barang Bekas

Melangkah ke salah satu sisi pasar, pandangan langsung tertuju pada deretan kambing dan ayam yang ditempatkan saling berdekatan. Sesekali, suara kokok ayam jago bersahutan dengan embikan kambing yang sedang ditarik oleh calon pemilik barunya.

Di tengah cuaca yang mulai memanas dan kerumunan pengunjung yang saling berdesakan, bau khas kandang menyeruak kuat, menegaskan identitas Gawok sebagai salah satu pasar hewan legendaris.

Baca Juga: Apa Pekerjaan Safrie Ramadhan? Viral di Threads Julia Prastini alias Jule Eks Na Daehoon Dikabarkan Hamil

Hanya beberapa meter dari area ternak, pemandangan berganti menjadi hamparan lapak barang bekas. Di sini, waktu seolah berjalan mundur. Tumpukan peralatan rumah tangga jadul, onderdil kendaraan lawas, hingga pakaian bekas layak pakai tertata sedemikian rupa. Para kolektor dan warga lokal tampak sibuk berjongkok, memilah barang dengan teliti sembari melancarkan jurus tawar-menawar dengan si penjual.

Di sudut lain, aroma harum dari jajanan pasar tradisional sesekali menyeruak, beradu dengan debu jalanan dan bau ternak yang terbawa embusan angin.

Kontrasnya suasana ini—antara kelezatan kuliner, aroma pekat, dan riuhnya transaksi—justru menjadi daya tarik magis yang membuat pasar tradisional ini tetap kokoh bertahan di tengah gempuran modernisasi ritel modern.

Denting Pandai Besi dan Sisi Lain yang Tersisa

Perjalanan menyusuri labirin Pasar Gawok sempat terhenti di sebuah gubuk sederhana milik seorang pandai besi. Dari tempat itulah, suara denting logam yang dihantam palu terdengar ritmis, memecah kebisingan pasar.

Baca Juga: Sensasi Makan Cantik ala Bangsawan Solo di Pracimasana, Mulai Rp40 Ribuan Saja!

Di tengah kepulan asap dan panasnya bara api yang membara, sang tukang pandai besi tampak fokus menempa besi merah membara menjadi sebilah pisau atau cangkul.

Lewat obrolan singkat dengannya, tersirat sebuah kisah perjuangan lokal; sebuah bukti nyata bahwa profesi turun-temurun ini masih memegang peran penting dalam urat nadi pertanian dan pertukangan masyarakat Sukoharjo, meski zaman terus berganti.

Namun, di balik geliat ekonomi yang bergairah, ada pemandangan lain yang menyisipkan rasa iba. Di area pasar hewan, beberapa anak kucing ras maupun lokal ditempatkan di dalam kandang sempit bersama beberapa jenis hewan peliharaan lain seperti kelinci dan anjing.

Suara meongan mereka terdengar konstan di tengah hiruk-pikuk manusia. Meski menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak dan pengunjung, kondisi beberapa hewan tersebut tampak memprihatinkan karena harus berdesakan di ruang yang terbatas dalam waktu yang cukup lama.

Menjelang siang, intensitas kepadatan di Pasar Gawok mencapai puncaknya. Orang-orang berjalan berhimpitan, bahu-membahu menembus lorong pasar yang kian menyempit. Hawa panas dan kepungan aroma ayam, bebek, hingga kambing menjadi satu paket pengalaman yang harus diterima oleh siapapun yang datang ke sini.

Baca Juga: Honda City Terbaru Nongol di Thailand, Buang Bentuk Hatchback Balik Sedan Lagi?

Meski sesak, bising, dan dipenuhi aroma yang menusuk hidung, Pasar Gawok menolak untuk mati. Dari setiap bait tawar-menawar, riuh kandang ternak, hingga denting besi dari bara api, semuanya berpadu membentuk wajah asli pasar tradisional.

Sebuah tempat di mana tradisi tidak sekadar dirawat, melainkan menjadi denyut kehidupan yang terus menghidupi masyarakat hingga hari ini. (Lutfiana Sekar/AN))

Editor : Andi Aris Widiyanto
#pasar gawok #hari pasaran jawa #hewan ternak #sukoharjo #pasar tradisional