SOLOBALAPAN, SRIWEDAREN — Kelompok pantomim Tanpomim yang bernaung di bawah Teater Sirat UIN Raden Mas Said Surakarta sukses menggelar pementasan seni memukau bertajuk "Bukan Sekadar Gerak" pada Kamis (21/5/2026) malam.
Bertempat di Student Center UIN Surakarta, acara ini tak hanya menyuguhkan pertunjukan bisu yang sarat makna, tetapi juga menjelma menjadi ruang silaturahmi dan konsolidasi bagi para pegiat pantomim se-Solo Raya.
Mengusung semangat luhur "Tanpa Mandek Mengalurkan Cerita", pementasan yang bisa disaksikan secara gratis oleh masyarakat umum ini menjadi penegas bahwa kreativitas dalam seni pantomim adalah proses organik yang tak pernah usai.
Panggung Ekspresi Lewat Delapan Karya Dua Babak
Pementasan pantomim ini dikemas secara apik ke dalam dua babak, di mana masing-masing babak menampilkan empat karya pementasan dengan durasi padat sekitar 5–7 menit.
Berikut adalah rincian karya yang dibawakan:
| Babak | Tema Utama | Judul Karya & Aktor Penampil |
| Satu | Tentang Kita Hari Ini |
• Di Pulau Ada Kami (Darmo & Arif) • Mancing (Fuad & Yusuf) • Tumbuh (Ardin) • Cinta Belok (Husein & Lintang Digidaw) |
| Dua | Waktu dan Kenangan |
• Sugeng Ambal Warso (Edi) • Halte (Iqbal Klomoh) • Kala Itu (Yudi & Faiq) • Penampilan Spesial (Solo Mime Society: Rio, Jagung & Memed) |
Menelusuri Jejak Sejarah dan Membangun Ekosistem Pantomim Solo
Usai penonton dimanjakan dengan visual gerak penuh makna, ruang apresiasi dilanjutkan dengan sesi sarasehan pukul 20.45 WIB yang bertema "Potensi & Ekosistem Pantomim Solo Raya".
Dipandu oleh moderator Muhammad Fuad, diskusi ini menghadirkan perwakilan dari Solo Mime Society untuk membedah arah masa depan seni pantomim di Kota Bengawan.
Salah satu narasumber, Popo, membuka wacana dengan menceritakan pasang surut gerakan pantomim di Solo.
Ia membeberkan perjalanan Solo Mime Parade yang pertama kali digelar pada tahun 2012, berlanjut di 2013, sempat mati suri (vakum) pada 2015, hingga akhirnya berhasil dihidupkan kembali hampir satu dekade kemudian pada tahun 2024.
Di sisi lain, pegiat teater Turah Hananta dan Saiful Ahsani sepakat bahwa kunci utama membangun ekosistem kesenian tidak harus selalu dengan melahirkan komunitas-komunitas baru.
Hal yang jauh lebih mendesak adalah mempertahankan konsistensi dan eksistensi di ruang publik secara aktif demi merengkuh penonton baru yang sebelumnya awam dengan pantomim.
Eksistensi Baru di Panggung Digital
Tantangan zaman kemudian dijawab dengan perspektif segar oleh Rio.
Menurutnya, era kiwari justru membuka keran kemudahan bagi para pelaku seni untuk terus eksis dan memamerkan karyanya.
"Di era digital ini, membangun eksistensi justru semakin mudah. Jangan ragu membuat keramaian, menggegerkan linimasa, dan memanfaatkan platform digital sebagai panggung baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas," dorong Rio kepada para peserta sarasehan.
Acara pementasan ini turut didukung penuh oleh berbagai elemen kreatif lokal, mulai dari Noga Coffee, Kopi Kaliuda, Clay Gem Tenis Court, Farida Collection, Peace Pedal Sindicate, hingga Rumah Banjarsari.
Harapannya, sarasehan "Bukan Sekadar Gerak" ini bisa menjadi pelatuk lahirnya kolaborasi nyata dan panggung-panggung reguler yang mampu menghidupkan napas pantomim di ekosistem kesenian Solo Raya secara berkelanjutan.
(did)