Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

“Geger Pasar Bahulak”, Kethoprak Mahasiswa Teater Hidupkan Sudut Pasar Tradisional

Laila Zakiya • Senin, 11 Mei 2026 | 18:05 WIB
Pertunjukan Geger Pasar Bahulak yang digelar jurusan Teater ISI Surakarta. (Istimewa)
Pertunjukan Geger Pasar Bahulak yang digelar jurusan Teater ISI Surakarta. (Istimewa)

 

SOLOBALAPAN.COM – Suasana Pasar Bahulak di Desa Karungan, Kabupaten Sragen, Minggu 10 Mei 2026, tampak berbeda dari biasanya.

Di tengah riuh pedagang menawarkan dagangan, aroma jajanan tradisional, hingga lalu lalang pengunjung, mahasiswa Program Studi Teater ISI Surakarta justru menjadikan pasar rakyat tersebut sebagai panggung ujian praktik mereka.

Bukan tampil di gedung pertunjukan atau panggung formal, para mahasiswa membaur langsung di tengah aktivitas masyarakat lewat pementasan bertajuk “Geger Pasar Bahulak”.

Pertunjukan ini menjadi pengalaman unik karena tidak menghadirkan batas antara pemain dan penonton.

Para aktor memainkan adegan di berbagai sudut pasar, sementara pengunjung bebas berjalan, menonton dari dekat, hingga berinteraksi langsung dengan para pemain.

Kerja sama antara Prodi Teater ISI Surakarta dengan pengelola Pasar Bahulak sendiri sebenarnya telah terjalin sejak sebelumnya.

Dukungan dari pemerintah desa melalui Kepala Desa Karungan, Joko Sunarso, S.P., membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung bersama masyarakat.

Baca Juga: Santai Sejenak, Mengulik Filosofi “Satu Cinta” ala Tony Q Rastafara yang Kembali Hits di Tahun Ini

Konsep pertunjukan yang membaur dengan ruang publik membuat suasana terasa lebih hidup dan spontan.

Banyak pengunjung yang awalnya hanya datang untuk berbelanja akhirnya ikut menikmati jalannya pertunjukan.

“Kalau aku sih awalnya merasa nervous saat adeganku akan mulai. Ya, karena aku lihat pengunjung semakin ramai. Sampai aku memutuskan untuk setidaknya mengobrol dengan pengunjung untuk meredakan nervous ku. Terus juga ada pengunjung yang tiba-tiba minta foto bareng, nah itu salah satu bentuk dukungan juga buat aku untuk bisa lebih santai dengan peran serta pertunjukan,” beber Antika Fitriyani, mahasiswi semester 6 yang terlibat sebagai aktor.

Pementasan ini sekaligus menjadi ujian mata kuliah kethoprak bagi para mahasiswa.

Menariknya, naskah diberikan dosen melalui metode penuangan atau wos-wosan, sehingga para pemain dituntut mampu menangkap alur cerita, membangun karakter, dan menghidupkan adegan dalam waktu singkat.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pertunjukan berlangsung. Tidak sedikit pengunjung yang merekam menggunakan handphone, sementara sebagian lainnya menikmati pertunjukan sambil makan bersama keluarga di area pasar.

Suasana semakin terasa khas Jawa berkat iringan musik gamelan dari grup pengrawit Sarwo Gathuk yang terus mengiringi jalannya pertunjukan.

Baca Juga: Dance Movement Therapy: Ketika Gerak Menjadi Bahasa Penyembuhan

Dalam beberapa adegan, para aktor bahkan berkeliling pasar dan berinteraksi langsung dengan pedagang.

Mereka membeli makanan, minuman, hingga jajanan tradisional menggunakan koin khusus yang memang dipakai sebagai alat transaksi di Pasar Bahulak.

Momen tersebut membuat pertunjukan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Penonton pun tampak semakin larut mengikuti jalannya cerita.

Kurang lebih selama tiga puluh menit, perhatian masyarakat tidak lepas dari para pemain. Beberapa pengunjung bahkan mengikuti perpindahan aktor dari satu sudut pasar ke sudut lainnya hanya untuk menyaksikan kelanjutan adegan.

Setelah pertunjukan selesai, suasana justru semakin meriah. Para mahasiswa, warga, dan pengunjung pasar larut dalam euforia bersama.

Iringan musik Sarwo Gathuk kembali dimainkan, sementara masyarakat mulai bernyanyi dan berjoget bersama para pemain.

Pementasan “Geger Pasar Bahulak” menjadi bukti bahwa proses belajar mahasiswa teater tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas.

Kehadiran mereka di tengah masyarakat memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan dapat tumbuh, hidup, dan menjadi bagian dari ruang sosial warga sehari-hari. (ags/lz)

Artikel ini ditulis oleh Agus S, mahasiswa jurusan Teater ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#petunjukan #teater #isi surakarta