SOLOBALAPAN.COM – Skybridge Tirtonadi hingga kini masih menjadi salah satu fasilitas penting yang digunakan masyarakat untuk berpindah moda transportasi di Kota Solo.
Jembatan penghubung antara Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi tersebut masih aktif dimanfaatkan penumpang setiap harinya, baik dari kereta api menuju terminal bus maupun sebaliknya.
Skybridge Tirtonadi mulai dibangun sebagai bagian dari konsep integrasi transportasi di Solo dan resmi beroperasi sejak 2017. Fasilitas sepanjang sekitar 437 meter itu dirancang untuk mempermudah mobilitas masyarakat tanpa harus melintasi jalur kendaraan di bawahnya.
Baca Juga: Kasus Guru Cabul Wonogiri Menguak Dugaan Kelalaian Sekolah, Polisi Buka Hotline Pengaduan
Selain berfungsi sebagai penghubung, skybridge juga dilengkapi area pedestrian tertutup yang membuat perpindahan penumpang dari stasiun menuju terminal menjadi lebih nyaman dan aman.
Petugas keamanan Stasiun Solo Balapan, Cahyo, mengatakan hingga saat ini skybridge masih aktif digunakan masyarakat.
“Ini masih aktif. Dari akses stasiun sampai terminal masih digunakan masyarakat,” ujarnya saat ditemui di kawasan skybridge Kamis (7/5).
Menurut Cahyo, aktivitas pengguna biasanya meningkat pada waktu-waktu tertentu, terutama saat kedatangan dan pembongkaran penumpang KRL Commuter Line Yogyakarta–Solo dari arah Yogyakarta.
“Kalau ramainya biasanya pas pembongkaran KRL juga. Terutama KRL terakhir malam,” katanya.
Baca Juga: Sinkronisasikan Insting, Rasa, dan Irama pada Sajian Tari Topeng Sekartaji
Tak hanya penumpang KRL, pengguna skybridge juga berasal dari penumpang kereta api jarak jauh yang melanjutkan perjalanan menggunakan bus antarkota dari Terminal Tirtonadi.
Cahyo menjelaskan, akses skybridge selama ini dapat digunakan masyarakat secara gratis tanpa pungutan biaya tambahan.
“Dari pintu masuk sampai keluar terminal itu gratis, tidak ada tarif,” jelasnya.
Dalam operasional sehari-hari, petugas keamanan dari pihak stasiun maupun terminal rutin melakukan patroli dan pengawasan, terutama pada malam hari dan jam-jam rawan.
“Kalau malam biasanya patroli dari ujung terminal sampai stasiun, terutama saat jam rawan dan pembongkaran terakhir,” tambahnya.
Meski masih aktif digunakan, operasional skybridge ke depan disebut akan mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya dibuka selama 24 jam penuh, nantinya jam operasional akan diatur kembali sebagai bagian dari peningkatan pengawasan dan keamanan.
Selain itu, pengelola juga berencana menambah pintu atau gerbang pembatas di area perbatasan antara Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi.
Baca Juga: Sastra atau Musik: Menakar Fenomena Jason Ranti yang Bikin Gen Z Ketagihan Lirik “Njelimet”
Langkah tersebut dilakukan menyusul adanya insiden tidak mengenakkan yang sempat terjadi di kawasan skybridge beberapa waktu lalu.
Dengan penyesuaian operasional serta penambahan akses pembatas tersebut, diharapkan keamanan dan kenyamanan pengguna dapat semakin terjaga.
Bagi masyarakat Solo, keberadaan Skybridge Tirtonadi tak sekadar menjadi jembatan penghubung, melainkan bagian penting dari sistem integrasi transportasi yang mempermudah mobilitas penumpang di kawasan stasiun dan terminal yang padat aktivitas. (Lutfiana Sekar/AN)