SOLOBALAPAN.COM - Pertunjukan bertajuk Ibu Menggendong Batu hadir sebagai sajian Teater Tutur dan Tari yang memadukan narasi lisan dengan kekuatan tubuh sebagai medium ekspresi.
Karya ini disutradarai oleh Hanindawan, dengan koreografi digarap oleh Danang Pamungkas, serta komposisi musik oleh Sigit Pratomo. Pertunjukan ini digelar di Panggung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah pada Kamis (23/4/2026).
Sejak awal pementasan, suasana ruang pertunjukan sudah terasa intim dan reflektif. Penonton diajak memasuki dunia simbolik yang tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga pengalaman batin yang perlahan dibangun melalui dialog dan gerak tubuh para penampil.
Ibu Menggendong Batu berangkat dari ketertarikan Hanindawan terhadap berbagai dongeng Nusantara yang memiliki keterkaitan dengan batu sebagai simbol. Dongeng-dongeng tersebut tidak hanya dikenal luas, tetapi juga menyimpan lapisan makna sosial yang dalam, terutama terkait perempuan dan perannya dalam kehidupan.
Beberapa kisah yang menjadi pijakan di antaranya adalah legenda Batu Belah dari Aceh yang berbicara tentang kemiskinan, kisah Malin Kundang yang menggambarkan kedurhakaan anak kepada ibu, hingga cerita Batu Menangis dan Roro Jonggrang.
Keempatnya memiliki benang merah yang kuat: perempuan, khususnya sosok ibu, sebagai pusat emosi dan tragedi.
Baca Juga: Janji 50 Unit, Realisasi 1: Penyerahan Pick Up KDKMP di Sukoharjo Disorot
Melalui eksplorasi cerita-cerita tersebut, Hanindawan mencoba menghadirkan tafsir baru yang lebih kontekstual dengan realitas masa kini. Ia tidak sekadar mengulang cerita lama, tetapi mengolahnya menjadi refleksi sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat modern.
“Di luar itu, saya juga melihat masyarakat-masyarakat kita. Jadi, setiap pagi, melihat perempuan-perempuan yang bekerja harus bersiap di depan toko-toko atau pabrik sebelum tempat kerja itu dibuka. Bahkan hingga larut malam,” ujar Hanindawan dalam sesi pengantar sebelum pertunjukan dimulai.
Pengamatan tersebut menjadi landasan kuat dalam membangun narasi pertunjukan. Sosok ibu tidak lagi hanya hadir dalam cerita rakyat, tetapi menjelma menjadi figur nyata yang hidup di sekitar kita—perempuan-perempuan yang bekerja keras demi menopang keluarga.
Hanindawan juga menyinggung realitas lain yang tak kalah penting, yakni eksploitasi sumber daya alam di Indonesia. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan ketimpangan sosial yang masih terjadi hingga saat ini.
“Kita juga seringkali mendapatkan informasi tentang eksploitasi hutan, tambang di Indonesia. Jadi dari satu sisi banyak sekali kebobrokan dana ratusan triliun, tapi dari satu sisi saya melihat perempuan-perempuan menggendong rumah dan keluarganya,” tambahnya.
Narasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam struktur pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam. Setiap segmen dirancang dengan pendekatan yang berbeda, baik dari segi suasana, ritme, maupun intensitas emosional.
Teater tutur yang menjadi salah satu elemen utama juga memainkan peran penting dalam menyampaikan pesan. Dialog-dialog yang disajikan tidak bersifat eksplisit, melainkan penuh metafora dan simbol, sehingga membuka ruang tafsir bagi penonton.
Sepanjang pertunjukan, penonton disuguhkan berbagai sudut pandang yang terus berganti. Ada momen yang terasa sunyi dan kontemplatif, namun ada pula bagian yang penuh tekanan dan intensitas tinggi.
Pesan-pesan yang disampaikan tidak hadir secara langsung, melainkan tersirat melalui perpaduan antara gerak, suara, dan visual. Hal ini membuat penonton terlibat secara aktif dalam memaknai setiap adegan yang ditampilkan.
Baca Juga: Viral Asap Misterius dari Dalam Tanah di Wonogiri, BPBD Pastikan Bukan Fenomena Alam
Simbol batu dalam pertunjukan ini menjadi metafora yang kuat. Ia bisa dimaknai sebagai beban, kutukan, atau bahkan keteguhan, tergantung dari sudut pandang yang digunakan.
Pertunjukan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai persoalan besar yang dihadapi bangsa, terdapat individu-individu yang terus berjuang dalam diam. Sosok ibu menjadi representasi dari ketahanan dan pengorbanan tersebut.
Dengan pendekatan yang puitis namun tetap membumi, Ibu Menggendong Batu berhasil menghadirkan pengalaman pertunjukan yang tidak hanya estetis, tetapi juga reflektif. Sebuah karya yang mengajak penonton untuk tidak sekadar menonton, tetapi juga merasakan dan memikirkan kembali realitas di sekitarnya. (sen/lz)
Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswa Jurusan Tari ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya