Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Tree In One Kemas Adaptasi Properti dan Adaptasi Alam Melalui Koreografi

Laila Zakiya • Rabu, 29 April 2026 | 11:15 WIB
Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)
Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)

 

SOLOBALAPAN.COM - Karya tari bertajuk Tree In One hadir sebagai eksplorasi koreografi yang memadukan elemen properti dengan gagasan adaptasi terhadap alam. Pertunjukan ini menonjolkan penggunaan material alami berupa rotan dan bambu yang dipadukan dengan tali sebagai medium utama dalam penyampaian pesan artistik.

Melalui karya ini, koreografer berupaya menghadirkan hubungan antara manusia, ruang, dan alam ke dalam satu kesatuan visual yang utuh. Rotan dan bambu tidak hanya berfungsi sebagai properti, tetapi juga sebagai simbol yang membawa makna filosofis.

Kedua material alami tersebut merepresentasikan keterhubungan antara struktur dan ruang. Dalam konteks ini, Tree In One mengisyaratkan gagasan tentang pohon sebagai pusat kehidupan, tempat berbagai unsur berkumpul dan saling terhubung.

Karya ini juga mengangkat pemahaman bahwa alam memiliki pola dan struktur tertentu. Pola-pola tersebut kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bentuk geometris dan arsitektural yang diwujudkan melalui susunan properti di atas panggung.

Tidak hanya menitikberatkan pada bentuk visual, Tree In One juga menyoroti bagaimana kekuatan suatu struktur tidak hanya ditentukan oleh materialnya. Kekuatan tersebut justru lahir dari keterkaitan antar elemen yang saling menopang.

Baca Juga: Kemendikti Kaji Penghapusan Prodi Keguruan, Lulusannya Capai 490 Ribu Per Tahun Tapi Hanya 20 Ribu yang Terserap
 

Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)
Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)

 
Dalam pertunjukan ini, terdapat tiga elemen utama yang menjadi representasi gagasan, yakni menara, bingkai kotak, dan jaring tali. Ketiganya disusun sebagai simbol yang saling melengkapi satu sama lain.

Menara dalam karya ini melambangkan pertumbuhan dan perkembangan diri. Bentuknya yang menjulang ke atas menghadirkan citra pohon yang terus mencari cahaya sekaligus menggambarkan hubungan antara langit dan bumi.

Penggunaan bambu sebagai material utama pada struktur menara memiliki makna tersendiri. Bambu yang ringan namun kuat menunjukkan bahwa ketinggian tidak selalu lahir dari kekakuan, melainkan dari kelenturan dan keseimbangan.

Sementara itu, bingkai kotak merepresentasikan ruang, batas, dan keteraturan. Elemen ini menjadi simbol tempat kehidupan berakar dan bertumpu, sekaligus menggambarkan struktur yang memberi arah pada pertumbuhan.

Di sisi lain, jaring tali menjadi simbol keterhubungan. Jaring ini menggambarkan bagaimana kehidupan tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan unsur lain seperti tanah, air, udara, serta organisme di sekitarnya.

Jaring tali juga menunjukkan bahwa hubungan-hubungan kecil yang saling menopang dapat menciptakan kekuatan yang besar. Hal ini menjadi refleksi dari sistem kehidupan yang kompleks namun saling terikat.

Baca Juga: Link Video Vell TikTok Blunder Durasi 8 Menit Isinya Jadi Sorotan, Simak Fakta Terbaru dan Risiko Klik Link Sembarangan
 

Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)
Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)

 
Ketiga elemen tersebut saling terhubung dalam satu kesatuan struktur. Jaring tali mengikat menara dan bingkai kotak, menegaskan bahwa tidak ada satu pun elemen yang dapat berdiri sendiri.

Melalui penyatuan tersebut, Tree In One menghadirkan gambaran pohon sebagai simbol kehidupan yang utuh. Pohon dalam karya ini dibangun kembali melalui representasi bambu, rotan, dan tali.

Karya ini juga mengajak penonton untuk melihat bahwa bentuk-bentuk sederhana dapat menghasilkan makna yang mendalam. Kesederhanaan material justru menjadi kekuatan dalam menyampaikan pesan filosofis.

Selain itu, pertunjukan ini menekankan bahwa alam mengajarkan keseimbangan antara kekuatan dan kelenturan. Nilai tersebut menjadi relevan dalam kehidupan manusia yang terus beradaptasi dengan perubahan.

Lebih jauh, Tree In One mengingatkan bahwa manusia merupakan bagian dari jaring kehidupan yang luas. Setiap individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dan tidak dapat hidup secara terpisah.

Baca Juga: Link Video Bandar Membara Viral di X hingga Telegram usai Jadi Koleksi Pribadi, Awas Bisa Jadi Incaran Polisi!
 

Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)
Karya Koreografi Tree In One. (DOK: Prodi Tari ISI Solo)

 
Dalam proses produksinya, para koreografer menghadapi sejumlah tantangan teknis. Salah satunya berkaitan dengan penggunaan properti berukuran besar yang membutuhkan penyesuaian khusus di atas panggung.

Rafi, salah satu anggota kelompok koreografer R’Gudugan, mengungkapkan bahwa pengelolaan properti menjadi tantangan tersendiri dalam pertunjukan ini. Menurutnya, dibutuhkan ketelitian dalam memposisikan properti agar sesuai dengan kebutuhan koreografi.

“Kendala teknisnya sih karena properti kami besar jadi lebih tricky sehingga harus pandai-pandai memposisikan dan membawa ke panggung,” ujarnya.

Selain kendala teknis, ia juga menyebut adanya tantangan dalam aspek internal tim. Komunikasi antarindividu serta penyesuaian jadwal latihan menjadi hal yang perlu dikelola dengan baik.

“Selain itu lebih ke kendala internal di bagian komunikasi antar individu dan cara kompakin jadwal latihan sih,” tambahnya.

Meski demikian, karya Tree In One tetap berhasil menghadirkan pertunjukan yang sarat makna. Melalui eksplorasi properti dan konsep alam, karya ini menjadi refleksi tentang keterhubungan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan. (sen/lz)

Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswa Jurusan Tari ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#seni #karya #koreografi #tari