SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Minggu pagi di kawasan Pintu Selatan Stadion Manahan biasanya dipenuhi langkah kaki warga yang berolahraga. Namun, ada yang berbeda pada (26/4).
Di antara hiruk pikuk itu, suara anak-anak mulai terdengar—pelan, lalu menguat. Mereka menyanyikan lagu yang mungkin sudah lama tak terdengar di ruang publik.
“Cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter…”
Lagu itu sederhana. Namun bagi sebagian orang dewasa yang melintas, ia seperti membuka kembali pintu kenangan masa kecil.
Di tengah derasnya gempuran dunia digital, ketika anak-anak lebih akrab dengan gawai dibanding permainan tradisional, sekelompok penggiat seni di Surakarta mencoba menghadirkan kembali sesuatu yang nyaris terlupakan: lagu dolanan.
Bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya merawat ingatan kolektif.
Beberapa tembang seperti “Cublak-Cublak Suweng”, “Gundul-Gundul Pacul”, hingga “Kidang Talun” dan “Pitik Tukung” kembali dilantunkan oleh paduan suara anak-anak.
Lagu-lagu yang dulu akrab di telinga, kini justru terasa asing bagi generasi baru.
Bagi Antonia Filicia Esa Rindi, momen ini bukan sekadar penampilan.
Ada kegelisahan yang ingin disampaikan.
“Kita ingin anak-anak zaman sekarang mengenal lagi lagu-lagu ini. Bukan cuma dinyanyikan, tapi juga dipahami maknanya,” ujarnya.
Ia percaya, lagu dolanan bukan hanya hiburan masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai sederhana tentang kehidupan, kebersamaan, hingga karakter.
Namun tanpa upaya untuk mengemas ulang, semua itu bisa perlahan hilang.
Di sisi lain, anak-anak yang terlibat justru menemukan pengalaman baru dari sesuatu yang lama.
Lian, salah satu peserta, mengaku awalnya hanya ikut bernyanyi. Tapi lama-kelamaan ia mulai memahami bahwa lagu-lagu tersebut punya arti lebih dalam.
“Biar orang-orang ingat lagi kalau lagu zaman dulu itu enak dan punya makna,” katanya.
Tak jauh dari situ, Jeje—peserta lainnya—menyebut kegiatan ini sebagai awal dari sesuatu yang lebih besar. Pra-konser tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju pertunjukan utama yang akan digelar pada 25 Juli 2026 di Auditorium RRI Surakarta.
Baca Juga: Terhempas dari Ketinggian 10 Meter, Polisi Bongkar Proyek SMA Tanpa Kontraktor
Di tengah keramaian pagi itu, tak semua orang berhenti. Sebagian hanya melintas, sebagian lagi memperlambat langkah, mendengarkan sejenak.
Namun bagi mereka yang sempat terdiam, lagu-lagu itu seperti membawa pulang sesuatu—sepotong ingatan, atau mungkin rasa yang pernah ada.
Di kota yang terus bergerak maju, suara anak-anak itu menjadi pengingat sederhana: bahwa tidak semua yang lama harus dilupakan. (atn/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto