SOLOBALAPAN.COM - Adi Putra Cahyo Nugroho, atau yang akrab disapa Adi Taktong, menghadirkan atmosfer berbeda di panggung Wayang Orang Sriwedari.
Ia mementaskan Tari Remo Putra dalam gelaran tari ekstra di Wayang Orang Sriwedari pada Sabtu (4/4/2026) lalu.
Pementasan ini menjadi sorotan karena menghadirkan pendekatan yang berbeda terhadap tari tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat.
Remo yang dibawakan Adi tidak sekadar mengulang bentuk lama, tetapi menawarkan pembacaan baru.
Menarik benang merah ke masa lalu, Adi bercerita bahwa ia termotivasi membawakan Tari Remo Putra berdasarkan keinginannya untuk kembali mengulik Remo lawas.
Dahulu, Tari Remo ini sering kali menjadi bagian pembuka dalam pertunjukan Ludruk.
Namun, dalam pementasan ini, Adi Taktong mencoba menghadirkan Remo dalam bentuk yang lebih eksploratif.
Baca Juga: BMKG: Kemarau 2026 di Solo Raya Lebih Kering, Tapi Hujan Masih Bisa Turun
Ia tidak hanya menampilkan pakem, tetapi juga melakukan interpretasi ulang terhadap struktur gerak yang ada.
Menurut Adi, karya yang ia tampilkan merupakan hasil pembacaan ulang terhadap Tari Remo yang sudah berkembang dari waktu ke waktu.
Ia menyadari bahwa Remo bukanlah bentuk yang statis.
Durasi tari yang biasanya mencapai sekitar setengah jam pun mengalami penyesuaian.
Dalam versi yang dibawakan Adi, terdapat pengolahan durasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan panggung dan konteks pertunjukan.
Sebagai pijakan awal, Adi mengacu pada gaya Remo yang berkembang dari tradisi Munali Fattah.
Gaya ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam perkembangan Tari Remo di Jawa Timur.
Baca Juga: Tragedi di Wonogiri, Balai Dusun Roboh Timpa 5 Warga, 1 Tewas, Begini Kronologinya!
Adi menjelaskan bahwa ia juga melakukan eksplorasi berdasarkan basis gerak Remo yang sudah ia kuasai.
Ia kemudian mengolahnya kembali sesuai dengan pengalaman tubuhnya sebagai penari.
“Aku mencoba untuk membawakan Tari Remo Putra ini dengan bekal ketubuhan yang aku miliki. Meski sebetulnya pada pementasan hari lalu juga ada beberapa bagian yang aku masih membawa wiled/gaya yang biasa aku bawakan,” ujar Adi saat diwawancara pada Minggu (12/4/2026).
Basis utama yang dimiliki Adi adalah Remo gaya bolet atau Jombangan. Gaya ini menjadi fondasi penting dalam eksplorasi geraknya.
Eksplorasi ini menunjukkan bahwa tari tradisional tetap memiliki ruang untuk berkembang. Selama tetap berpijak pada nilai dasar, inovasi menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Adi juga menegaskan bahwa interpretasi yang ia lakukan bukan untuk menghilangkan atau merubah kaidah gerak dari Tari Remo yang dipentaskannya. Sebaliknya, ia justru ingin memperkaya pemahaman terhadap Tari Remo.
Dengan pendekatan tersebut, Tari Remo Putra yang ia tampilkan menjadi lebih kontekstual. Ia mampu menjembatani tradisi dengan kebutuhan artistik masa kini.
Melalui pertunjukan Tari Remo Putra ini, Adi Taktong mencoba berdialog lewat gerak. Ia mengajak penonton untuk melihat Remo sebagai bentuk seni yang hidup dan terus berkembang. (sen/lz)
Editor : Laila Zakiya