SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Pertunjukan kethoprak tidak hanya memikat lewat lakon sejarah yang dibawakan, tetapi juga melalui keanggunan tata rias busana yang khas.
Di balik wajah-wajah tegas para ksatria atau kelucuan para dagelan di atas panggung, tersimpan sejarah panjang evolusi bahan baku dan teknik merias yang telah melintasi zaman.
Berdasarkan catatan Marsidah dalam buku Tuntunan Seni Kethoprak, perkembangan rias ini terbagi mengikuti tiga periode besar sejarah kethoprak: era lesung, peralihan, hingga era gamelan yang kita kenal sekarang.
Bahan Rias Tradisional: Sebelum Ada Kosmetik Modern
Pada masa lampau, para seniman kethoprak menggunakan bahan-bahan alami dari alam yang mungkin terasa asing bagi generasi sekarang.
Baca Juga: Strategi Melestarikan Tradisi: Pasar Bahulak Gandeng ISI Surakarta Kemas Kethoprak Lebih Inovatif
Sebelum ditemukannya foundation atau eyeliner pabrikan, berikut adalah "alat tempur" para aktor kethoprak:
-
Atal Watu: Batu mineral yang digunakan sebagai dasar wajah.
-
Siwit Putih & Merah: Bedak kering untuk dasar dan perona pipi.
-
Kole Batu Baterai & Langes: Jelaga atau isi baterai bekas yang diolah untuk menggambar alis dan garis mata.
-
Kertas Cina: Berfungsi sebagai pewarna bibir atau lipstik kuno.
Perbedaan Rias: Tokoh Protagonis vs Dagelan
Tata rias dalam kethoprak berfungsi mempertebal karakter tokoh. Marsidah mencatat perbedaan mencolok antara riasan tokoh serius dengan tokoh pelawak (dagelan):
1. Tokoh Non-Dagelan (Ksatria/Putri): Riasan dibuat untuk memberikan kesan wibawa. Garis mata dan alis dibuat tebal dan tegas. Untuk peran brasak (kasar), kumis atau brengos dibuat tebal dan berantakan agar terlihat gahar.
2. Tokoh Dagelan (Pelawak): Riasan sengaja dibuat "berlebihan" untuk memicu tawa. Bedak putih dipasang sangat tebal, garis mata dibuat meliuk lucu, bahkan sering kali ada gambar-gambar jenaka yang sengaja digambar di pipi.
Pengaruh Cahaya Panggung (Lighting)
Pernahkah Anda melihat aktor kethoprak dari dekat dan merasa riasannya tampak sangat tebal atau bahkan menyeramkan? Ternyata, itu ada tujuannya.
Ketebalan rias kethoprak sangat dipengaruhi oleh jarak penonton dan pencahayaan panggung.
Riasan yang terlihat tebal saat jarak dekat akan tampak "biasa saja" dan pas ketika terkena pancaran lampu panggung (lighting) dari jarak jauh.
Tanpa riasan yang tegas, ekspresi wajah pemain akan "tenggelam" dan tidak terlihat oleh penonton di barisan belakang.
Periode Perkembangan Kethoprak:
-
Periode Kethoprak Lesung (1887–1925): Belum menggunakan riasan rumit.
-
Periode Kethoprak Peralihan (1925–1927): Mulai mengenal dasar rias.
-
Periode Kethoprak Gamelan (1927–Sekarang): Riasan semakin detail dan menggunakan alat kosmetik modern.
(did/riza hidayatulloh)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo