SOLOBALAPAN.COM – Jurusan Tari ISI Surakarta kembali menghadirkan pertunjukan budaya yang memikat lewat Pentas Triwulan Catha Ambya #9 dengan tema Tubuh Sebagai Kolaborasi dan Interaksi.
Acara yang digelar pada Sabtu (11/4/2026) di Pura Mangkunegaran Surakarta ini sukses menyedot perhatian penikmat seni dan masyarakat umum.
Mengusung konsep kolaboratif, Pentas Triwulan kali ini bertepatan dengan agenda budaya Setu Pon Mangkunegaran, sehingga menghadirkan suasana pertunjukan yang lebih istimewa dan penuh nilai tradisi.
Baca Juga: Persib Bandung Wajib Waspada! Dewa United Punya Senjata Baru Jelang Duel Pekan ke-28
ISI Surakarta dan Mangkunegaran Bersatu dalam Panggung Budaya
Kolaborasi antara Jurusan Tari ISI Surakarta dan Pura Mangkunegaran menjadi daya tarik utama dalam pergelaran tersebut. Kedua pihak menghadirkan karya tari klasik dan tradisional yang memperkaya pengalaman penonton.
Pura Mangkunegaran membuka acara dengan sajian Tari Gambyong Maduretno, sementara ISI Surakarta menampilkan tiga karya unggulan, yakni:
-
Bedhaya Mustika
-
Bandayuda
-
Langen Asmara
Tak hanya itu, Sanggar Soerya Soemirat turut meramaikan panggung melalui penampilan Tari Jemparingan.
Baca Juga: Sama-sama Single, Momen Dedi Mulyadi Bertemu Rieta Amilia Bikin Netizen Heboh Jodohkan Keduanya!
Antusias Penonton Membludak Meski Diguyur Hujan
Publikasi acara melalui media sosial dari kedua institusi terbukti efektif menarik perhatian publik.
Sejak sore hingga malam hari, area Selasar Candi Ratna Pura Mangkunegaran dipadati pengunjung.
Meski sempat diguyur hujan, antusiasme penonton tidak surut.
Bahkan jumlah pengunjung terus bertambah ketika acara resmi dimulai.
Kolaborasi dua institusi budaya besar di Solo ini mempertemukan dua basis penonton sekaligus, yakni pecinta Pentas Triwulan dan pengunjung setia Setu Pon Mangkunegaran.
Penonton Rasakan Nuansa Baru yang Agung dan Santai
Salah satu penonton, Galuh (21), mengaku terkesan dengan konsep pertunjukan malam itu.
“Suasana pertunjukan memberikan warna baru dimana kita diberi nuansa yang berbeda. Ruang pertunjukan ini memberikan rasa yang lebih santai tapi juga agung dalam waktu yang bersamaan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana lokasi bersejarah seperti Mangkunegaran mampu menghadirkan pengalaman seni yang berbeda dibanding ruang pertunjukan biasa.
Tubuh Sebagai Media Dialog dalam Seni Tari
Tema Tubuh Sebagai Kolaborasi dan Interaksi menjadi refleksi penting mengenai makna tubuh dalam seni pertunjukan.
Tubuh tak hanya menjadi alat gerak, tetapi juga medium komunikasi antara penari, musik, ruang, dan penonton.
Setiap penari menunjukkan kualitas teknik yang matang serta penghayatan mendalam. Kekompakan gerak dan ekspresi mereka menghadirkan nuansa magis sepanjang pertunjukan.
Alunan gamelan yang mengiringi setiap karya semakin memperkuat atmosfer tradisional dan emosional di lokasi acara.
Langkah Strategis Pelestarian Seni Tradisional di Solo
Kerja sama antara ISI Surakarta dan Pura Mangkunegaran dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan penikmat seni tradisi, khususnya generasi muda.
Selain menjaga eksistensi tari tradisional di tengah modernisasi, kolaborasi ini juga membuka peluang hadirnya kerja sama serupa di masa depan dengan berbagai pihak.
Dengan suksesnya Pentas Triwulan Catha Ambya #9, Surakarta kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat seni dan budaya terpenting di Indonesia. (sen/lz)
Editor : Laila Zakiya