Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Jadikan Kethoprak Tugas Akhir, Ahmad Faisal Riswanda Ajak Mahasiswa Seni Perdalam Akar Tradisi Jawa

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 14 April 2026 | 20:39 WIB
Tugas Akhir S1 Pemeranan Kethoprak berjudul Senopati Tuban oleh Ahmad Faisal Riswanda (DOK. Daniknoer Photography)
Tugas Akhir S1 Pemeranan Kethoprak berjudul Senopati Tuban oleh Ahmad Faisal Riswanda (DOK. Daniknoer Photography)

SOLOBALAPAN, SURAKARTA – Bagi mahasiswa seni, ujian tugas akhir bukan sekadar syarat kelulusan untuk meraih gelar Sarjana Seni (S.Sn.), melainkan sebuah panggung pembuktian legalitas sebagai seniman akademisi.

Hal inilah yang dilakukan oleh Ahmad Faisal Riswanda, seniman muda asal Solo Raya yang memilih kethoprak sebagai jalan menuju kelulusannya.

Faisal memandang kethoprak sebagai instrumen penting untuk membuka pintu pengetahuan sebelum menyelami warisan budaya Jawa yang lebih kompleks, seperti Wayang Orang atau kisah pewayangan.

Ronggolawe: Pilihan Kisah Berlandaskan Spirit

Awalnya, Faisal memiliki ketertarikan mendalam pada sosok Bisma. Namun, melalui bimbingan dosen di ISI Surakarta, ia diarahkan untuk menggarap kisah Ronggolawe dalam format pertunjukan kethoprak.

Baca Juga: Beban Berat di Balik Panggung Kethoprak, Sutradara: Jika Bagus Pemain Dipuji, Jika Buruk Kami yang Dicaci

Keputusan ini diambil karena kedua tokoh tersebut dinilai memiliki semangat (spirit) ksatria yang serupa.

“Bagi saya, kethoprak itu sebagai pintu untuk mengenal dunia tradisi lebih jauh. Saya memilih kethoprak sebagai pertanggungjawaban atas pendidikan yang saya tempuh,” jelas Faisal Riswanda, Selasa (14/4/2026).

Membaca Sejarah Lewat Pertunjukan

Jika biasanya sejarah hanya bisa dinikmati melalui lembaran-lembaran tebal Babad Tanah Jawa atau catatan sejarah Mataram dan Majapahit, kethoprak menawarkan cara berbeda.

Sejarah yang tertulis di kertas bisa "hidup" kembali melalui gerak, dialog, dan emosi di atas panggung sebagai hiburan sekaligus edukasi.

Bagi Faisal, kethoprak memberikan pemahaman awal yang fundamental, terutama melalui unsur Antawecana.

“Antawecana atau cara berdialog bahasa Jawa dalam kethoprak cenderung lebih mudah dicerna bagi pemula. Ini bisa dijadikan pijakan awal sebelum menjelajahi kesenian tradisi yang lebih dalam lagi,” tambahnya.

Mahasiswa Seni sebagai Ujung Tombak Budaya

Keberanian Faisal menjadikan kethoprak sebagai tugas akhir pemeranan diharapkan mampu menjadi pemantik bagi mahasiswa seni lainnya.

Sebagai generasi muda, mahasiswa teater dipandang sebagai ujung tombak yang akan mengibarkan bendera kesenian di masa depan.

Baca Juga: Mengenal Madilog, 'Kitab' Berpikir Kritis Tan Malaka yang Kini Jadi Tren Literasi Generasi Z

Namun, semangat ini tentu harus dibarengi dengan bimbingan dari para seniman senior dan dosen sebagai tenaga pendidik agar kualitas karya tetap terjaga dan sesuai pakem.

Harapan dan Motivasi bagi Adik Tingkat

Melalui perannya sebagai Ronggolawe, Faisal ingin membuktikan bahwa kesenian tradisi tidak kalah prestisius untuk dijadikan subjek penelitian dan praktik akademis.

“Saya harap ujian pemeranan saya dapat memotivasi adik-adik mahasiswa dan dijadikan inspirasi dalam menggarap kethoprak sebagai tugas akhir yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh,” tutup Faisal.

Langkah kecil yang diambil Faisal ini merupakan wujud nyata pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap profesi seniman teater tradisi di era modern.

(did/riza)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Tugas Akhir #Ahmad Faisal Riswanda #Tradisi Jawa #kethoprak #mahasiswa