SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Memasuki dunia seni tradisi bagi generasi muda bukanlah perkara mudah, apalagi jika harus berhadapan dengan pakem kethoprak yang kental akan nuansa klasik.
Hal inilah yang dirasakan oleh Muhammad Arifin Ilham, seorang pemuda asal Kudus yang kini tengah menempuh pendidikan di Surakarta.
Pengalaman pertamanya bersinggungan dengan kethoprak di Solo memberinya kejutan budaya sekaligus tantangan mental yang luar biasa.
Baginya, kethoprak bukan sekadar akting, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk melestarikan akar budaya.
Tantangan Sistem "Wos-wosan" dan Bahasa Kawi
Salah satu kejutan terbesar bagi Arifin adalah sistem latihan kethoprak yang sangat singkat.
Berbeda dengan teater modern yang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, pementasan kethoprak sering kali hanya menggunakan sistem wos-wosan (pemberian garis besar cerita oleh sutradara).
"Waktu pertama kali diajak pentas, aku mau-mau aja, tapi ternyata kok latihannya cuma sebentar ngga sampai satu bulan. Ternyata itu cuma penuangan dari sutradara, setelah itu lanjut pentas," kenang Arifin.
Tak hanya itu, kendala bahasa menjadi tembok besar. Dialog kethoprak yang sering menggunakan Bahasa Jawa Kawi (Jawa kuno) yang biasa berkembang di lingkungan ningrat, sangat berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan sehari-hari. Arifin mengaku sering merasa bingung merespons lawan mainnya di atas panggung karena kosakata yang tidak familier.
Jatuh Cinta Lewat "Dagelan"
Meski sempat kesulitan, Arifin menemukan titik balik yang membuatnya mencintai kethoprak melalui adegan dagelan (komedi). Baginya, tawa penonton dan interaksi santai dalam adegan lucu menjadi magnet yang menariknya lebih dalam untuk mempelajari kesenian ini.
Untuk meningkatkan kemampuannya, Arifin aktif membangun relasi dengan para seniman senior.
Dari obrolan dan pengalaman panggung yang terus bertambah, ia mulai memahami bahwa setiap pementasan memiliki "rasa" yang harus disampaikan kepada penonton.
Kethoprak sebagai Media Dakwah Kesenian
Bagi Arifin, naik ke atas panggung adalah bentuk dakwah kesenian. Ia merasa resah melihat banyak remaja seusianya yang sama sekali tidak tertarik dengan budaya lokal.
"Pentas itu bukan hanya tentang akting dan kostum, tapi mengumpulkan pengalaman. Pentas juga bisa dibilang dakwah kesenian untuk orang-orang muda sepertiku agar mereka bisa melihat keindahan dan pesan-pesan yang disampaikan melalui pertunjukan," jelasnya mantap.
Peran Penting Masyarakat dan Orang Tua
Perjuangan pemuda seperti Arifin tentu membutuhkan dukungan kolektif.
Kehadiran orang tua dan warga masyarakat sebagai pendukung moral sangat krusial agar generasi muda merasa bangga saat berekspresi melalui karya seni tradisi.
Seni pertunjukan memiliki keunggulan dibanding tulisan ilmiah dalam buku atau jurnal. Jika buku mengajak orang berimajinasi, maka pertunjukan kethoprak mengajak penonton menghadirkan perasaan nyata—mulai dari haru, sedih, hingga bahagia—yang membuat pesan moral di dalamnya lebih mudah meresap ke dalam hati masyarakat.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo