SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Kethoprak lahir dari rahim masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap keterbatasan akses hiburan kaum jelata di masa lalu.
Berawal dari kreativitas para pembatik yang mencari hiburan sambil menjemur kain, kesenian ini kini bertransformasi menjadi identitas budaya yang mulai digandrungi oleh generasi milenial dan Gen Z di Solo Raya.
Bambang Sugiarto, seniman teater senior asal Baluwarti, Surakarta, melihat fenomena ini dengan penuh rasa bangga sekaligus harapan besar bagi keberlangsungan seni tradisi tersebut.
Akar Kethoprak: Dari Rakyat untuk Rakyat
Menurut pria yang akrab disapa Pakdhe Bambang ini, kethoprak awalnya adalah bentuk "keresahan rakyat".
Di saat tari-tarian dan wayang menjadi konsumsi eksklusif kaum ningrat di dalam keraton, masyarakat biasa menciptakan panggungnya sendiri melalui tembang dan bunyi-bunyian (klonengan/keprakan) sederhana.
“Mbah-mbahmu dulu pembatik, mereka cerdas mencari hiburan. Sambil menjemur batik, mereka tembangan. Itulah awal mula istilah kethoprak muncul,” kenang Pakdhe Bambang.
Baca Juga: Mengintip Kerja Kolektif Tim Teknis Kethoprak: Penjaga Nyawa Pertunjukan dari Gangguan Teknis
Tantangan Bahasa di Tengah Arus Digital
Di era digital, informasi mengenai lakon, komunitas, dan jadwal pentas kethoprak sangat mudah diakses. Namun, Pakdhe Bambang mencatat satu tantangan besar bagi aktor muda saat ini, yaitu kendala bahasa.
Banyak pelajar dan mahasiswa yang bersemangat belajar kethoprak, namun mereka kesulitan berdialog dalam bahasa Jawa yang sesuai dengan pakem kethoprak.
Hal ini dikarenakan bahasa sehari-hari yang mereka gunakan sudah bergeser ke bahasa Indonesia atau bahasa Jawa ngoko harian yang berbeda dengan dialek panggung.
Kolaborasi Teater Modern dan Tradisi
Menariknya, pendidikan teater di institusi formal menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mencintai kethoprak.
Teknik dramaturgi, vokal, hingga tata panggung yang dipelajari di dunia teater modern kini diadaptasi untuk memperkaya sajian kethoprak.
Pakdhe Bambang sangat terbuka terhadap inovasi ini. Menurutnya, penggunaan teknik vokal teater atau pengembangan isian cerita sesuai zaman sangat diperbolehkan selama tidak merusak esensi cerita.
“Anak muda lebih paham dramaturgi dan teknologi panggung. Saya yakin hal tersebut menambah khazanah keilmuan untuk perkembangan kethoprak itu sendiri,” ujarnya optimis.
Jejak Kethoprak: Dari Pesisir Hingga Madura
Kethoprak tidak hanya milik warga Solo. Ketahanan kesenian ini terbukti di Pati melalui Kethoprak Pesisir yang sanggup dipentaskan hingga 5 jam lamanya dengan penonton yang tetap antusias hingga dini hari.
Bahkan, jejak kethoprak juga sampai ke Pulau Madura sebagai pengaruh dari sejarah Mataram Islam di masa lampau.
Keberagaman dan semangat regenerasi inilah yang menjadi modal kuat bagi kethoprak untuk terus berdiri tegak sebagai harta leluhur yang tak lekang oleh waktu di tangan generasi penerus.
(did/riza)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo