SOLOBALAPAN.COM - Pertunjukan Kethoprak tak hanya menjadi ruang ekspresi seni tradisi, tetapi juga wadah pembentukan seniman muda yang memiliki banyak kemampuan.
Melalui proses kolektif di Institut Seni Indonesia Surakarta atau ISI Surakarta, mahasiswa Teater ditempa agar tidak sekadar piawai tampil di atas panggung.
Dalam dunia pertunjukan tradisi, seorang seniman Kethoprak dituntut memahami banyak aspek, mulai dari persiapan sebelum pentas, jalannya pertunjukan, hingga proses setelah acara selesai.
Karena itu, mahasiswa Teater di ISI Surakarta dibiasakan untuk menguasai berbagai peran penting di balik layar.
Baca Juga: Menu Gratis, Risiko Mahal: Puluhan Siswa SMPN Kalikotes Diduga Keracunan MBG
Tak Hanya Jadi Aktor di Atas Panggung
Mahasiswa Teater ISI Surakarta tidak selalu harus menjadi tokoh utama atau pemain di atas panggung.
Mereka tetap bisa berkontribusi besar melalui elemen pendukung pertunjukan.
Dalam Kethoprak, tata rias tradisional menjadi bagian penting untuk membangun karakter tokoh.
Para mahasiswa kerap merias diri sendiri sebelum pertunjukan dimulai. Bahkan, tidak sedikit yang dipercaya menjadi penata rias untuk membantu pemain lain.
Selain itu, mereka juga didorong memahami tata busana yang sesuai dengan lakon, karakter, dan latar sejarah cerita yang dibawakan.
Belajar Musik Gamelan Jadi Bekal Penting
Kemampuan lain yang tak kalah penting adalah penguasaan musik gamelan sebagai iringan utama pertunjukan Kethoprak.
Mahasiswa Teater dilatih memahami konstruksi musik pengiring agar mampu membaca suasana adegan, tempo cerita, hingga emosi yang harus dibangun di atas panggung.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi aktor, tetapi juga bisa berkembang sebagai komposer musik tradisi.
Ditempa Jadi Seniman Serbabisa
Pembelajaran di ISI Surakarta membuat mahasiswa Teater memiliki peluang menjadi seniman multifungsi.
Saat terjun ke masyarakat, mereka tak hanya siap sebagai pemain, tetapi juga mampu menjalankan peran lain seperti:
- Penata setting panggung
- Penata cahaya
- Penata rias dan busana
- Penata musik
- Sutradara pertunjukan
- Pengelola produksi seni
Kemampuan lintas bidang ini menjadi nilai lebih bagi lulusan seni pertunjukan di tengah kebutuhan industri kreatif dan pelestarian budaya.
Kerja Kolektif Bentuk Mental dan Profesionalisme
Proses kolektif selama masa kuliah bukan hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga membangun kesiapan psikologis dan fisiologis mahasiswa.
Mereka belajar kerja tim, disiplin, komunikasi, hingga menyelesaikan masalah saat produksi berlangsung.
Hal tersebut menjadi bekal penting agar mampu mengayomi masyarakat melalui karya seni tradisi yang edukatif dan menghibur.
Menjaga Warisan Budaya Jawa
Kehadiran seniman muda multifungsi juga menjadi kekuatan besar dalam menjaga budaya Jawa.
Sebab, Kethoprak bukan hanya soal cerita di panggung, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, konsep artistik, tata busana, tata rias, musik tradisional, hingga filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
Jika semakin banyak generasi muda menguasai elemen-elemen tersebut, maka keberlangsungan seni tradisi akan semakin kuat.
Dukungan Pemerintah Masih Dibutuhkan
Di tengah perkembangan zaman, dukungan pemerintah dinilai penting bagi seniman muda yang berjuang melestarikan budaya.
Dukungan itu dapat berupa ruang pertunjukan, program pembinaan, bantuan produksi, hingga promosi digital agar Kethoprak semakin dekat dengan masyarakat luas.
Lewat sistem pembelajaran seperti di ISI Surakarta, Kethoprak terbukti bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga jalan lahirnya seniman muda multifungsi yang siap menjaga warisan budaya Indonesia. (riz/lz)