SOLOBALAPAN.COM - Tenaga Pengajar/Dosen Teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tidak hanya aktif dalam proses belajar mengajar didalam ruang kelas, tetapi juga aktif di atas panggung pertunjukan sebagai seniman di Kota Surakarta.
Bagaimana Jika para dosen sekaligus seniman Teater di Surakarta ini bergabung menjadi satu dalam pertunjukan Kethoprak?
Suasana serius yang biasanya dibangun dalam ruang kelas, justru menjadi ajang hiburan dimata para mahasiswa yang menyaksikan kehebatan, kelucuan, hingga improvisasi yang tidak mudah ditebak.
Para dosen ini membawakan lakon “Sang Paripurna” yang berangkat dari purna tugasnya dua Dosen Program Studi Teater, yang dijadikan sebagai kenang—kenangan atas jasa dan tenaga yang telah didekikasikan.
Muhammad Agus Sholikhuddin, salah seorang mahasiswa semester 6 mengungkapkan, “Pertunjukan ini menjadi salah satu pertunjukan impian saya dan teman—teman mahasiswa yang lain, karena saya ingin melihat kemampuan dosen—dosen saya selama bermain.”
Ia juga mengakui dalam proses ini, dirinya terlibat sebagai aktor.
“Kebetulan saya juga ikut bermain sebagai aktor sampingan, jadi ini menambah kedekatan psikologis kami sebagai mahasiswa dan dosen, sekaligus antara tokoh dan tokoh yang meruntuhkan dinding antara Mahasiswa dan dosen, sehingga pembicaraan yang kami bahas terasa lebih santai dan tidak kaku,” katanya.
Para dosen berhasil mengguncang tawa penonton yang hampir seratus persen mahasiswa mereka sendiri.
Mereka bahkan tidak berhenti tertawa terbahak—bahak selama pertunjukan berlangsung.
Gita Dhea Febrianingsih, mahasiswi Program studi Teater mengakui kelucuan yang berhasil dibawakan oleh dosen—dosen nya.
“Aku justru lebih banyak tertawa selama pertunjukan, karena kemampuan para Dosen yang dapat mengembangkan pembahasan menjadi lebih lucu. Aku larut dalam pertunjukan yang terbilang jarang, karena seluruh Dosen teaterku itu ternyata lucu—lucu, apalagi terlibat dalam satu panggung yang sama, hal ini menjadi sebuah hal yang ngga bisa aku lewatkan sebagai hiburan dan mata kuliah tambahan diluar kelas,” aku Gita.
Dalam hal ini, para dosen tidak hanya pandai dalam menyampaikan materi di kelas, namun juga dapat mengimplementasikan keilmuan mereka dihadapan mahasiswa secara langsung.
Lakon “Sang Paripurna” yang dibawakan ini diketahui hanya berdasarkan Wos—wosan, atau tanpa naskah, dan hanya pokok—pokok permasalahan yang perlu diketahui secara global.
Dalam dunia Kethoprak, hal semacam ini sering terjadi karena berbagai alasan, salah satunya apabila para pemain sudah biasa tampil diatas panggung dan pandai berimprovisasi dan pandai mengembangkan pokok permasalahan.
Para mahasiswa mengaku bahwa pertunjukan yang dibawakan para dosen mereka seperti Lakon “Sang Paripurna” ini justru ingin mereka saksikan lebih sering. (riz/lz)
Editor : Laila Zakiya