Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kethoprak VS Drama Cina

Laila Zakiya • Sabtu, 11 April 2026 | 15:24 WIB
Pertunjukan Kethoprak Program Studi Teater, Institut Seni Indonesia Surakarta. (DOK. Instagram @proditeater_isisurakarta)
Pertunjukan Kethoprak Program Studi Teater, Institut Seni Indonesia Surakarta. (DOK. Instagram @proditeater_isisurakarta)

 

SOLOBALAPAN.COM - Dunia media sosial Indonesia kini sedang ramai karena datangnya drama mandarin yang berkelanjutan, atau lebih dikenal dengan sebutan Drama Cina.

Drama yang membawa nafas tiongkok ini tidak hanya membawa permasalahan sehari—hari seperti romansa, politik, hingga sejarah yang dikemas dengan menggunakan alur yang cepat dan kostum tradisional Tiongkok.

Masyarakat Indonesia atau Jawa Tengah pada khususnya, dapat menjadikan fenomena tersebut sebagai inspirasi dalam menyuburkan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisi seperti Kethoprak yang erat hubungannya dengan kisah-kisah sejarah Kerajaan Pulau Jawa.

Kethoprak yang sering disaksikan dalam perayaan khusus atau terjadwal di beberapa gedung kesenian, dapat dengan mudah dinikmati melalui layar gawai.

Baca Juga: Apa Pekerjaan Doni Salmanan Sekarang untuk Nafkahi Keluarga? Resmi Bebas Bersyarat Sejak 6 April 2026, Kini Mulai Hidup Baru

Tidak semudah itu, proses ini memang membutuhkan komitmen dan kerja keras yang lebih dalam menghidupkan kesenian tradisi agar tidak semakin asing di kalangan masyarakat.

Mengapa hal ini bisa dijadikan sebagai alternatif dalam melestarikan Kethoprak?

Salah satu Dosen Teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr. Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn., M.Sn. memberikan pandangan mengenai hal tersebut.

Menurutnya, alasan utamanya adalah karena masyarakat masa kini lebih memilih menggunakan gawai dalam mencari informasi atau bahkan hiburan. Sehingga kesenian tradisi dapat menempatkan dirinya di ruang digital sebagai hiburan dan sumber pengetahuan.

Baca Juga: Tren Membaca Buku Anak Muda Melejit di 2026, Efek BookTok hingga Bookstagram Ubah Cara Nikmati Literasi

Beliau menambahkan, “Kethoprak sebagai pertunjukan teater tradisi mampu membawa nilai—nilai pendidikan yang kental melalui sejarah kerajaan—kerajaan, asal—usul sebuah tempat, pakem dalam menggunakan pakaian tradisi Jawa, hingga senjata khas sebuah daerah yang digunakan dalam kejadian perang dalam sebuah konflik”.

Maka dari itu, penonton tidak hanya disajikan sebuah kisah roman atau konflik belaka, namun diajak lebih dekat dan lebih mengenal mengenai jati dirinya sebagai seorang manusia yang dilahirkan di tanah Jawa.

Proses ini memang tidak bisa berdiri sendiri dari seorang pengkarya, dukungan pemerintah juga dibutuhkan dalam bentuk sumber daya, penggunaan wewenangnya sebagai pemimpin, dan tanggung jawab/perlindungan hukum terhadap sebuah warisan budaya.

Inovasi yang beliau sampaikan ini dapat diterapkan oleh pelaku budaya/seniman muda yang lebih melek akan teknologi dan dunia digital.

Penempatan kesenian tradisi Kehoprak melalui usaha seperti ini, diharapkan mampu menarik minat masyarakat yang lebih luas sebagai hiburan dan sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan. (riz/lz)

Editor : Laila Zakiya
#viral #Dracin #kethoprak #drama china