Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Manisnya Tari Kridha Asmara di Triwulan Catha Ambya #7, Cerminan Romantisme Gaya Surakarta

Didi Agung Eko Purnomo • Jumat, 10 April 2026 | 20:40 WIB
Tari Kridha Asmara pada Pentas Triwulan Catha Ambya #7. (DOK. Wildan)
Tari Kridha Asmara pada Pentas Triwulan Catha Ambya #7. (DOK. Wildan)

 

SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Panggung Triwulan Catha Ambya #7 kembali menyuguhkan estetika tradisi yang memukau publik.

 Kegiatan rutin Jurusan Tari ISI Surakarta yang telah berjalan selama dua tahun ini menjadi wadah bagi seluruh civitas akademika—mulai dari penari, tim produksi, hingga pengrawit—untuk mengekspresikan kreativitas mereka setiap tiga bulan sekali.

Di antara berbagai sajian seperti Ganjur Ganjret hingga Bambangan Cakil, muncul satu persembahan yang menyita perhatian: Tari Kridha Asmara.

Baca Juga: Mengenal Koreografi Site-Specific: Saat Ruang Publik Menjadi Panggung Utama dalam Seni Tari

Dibawakan oleh 9 penari perempuan, tarian ini membawa nuansa romantis yang kental di tengah keriuhan panggung.

Transformasi dari Pasangan ke Format Bedhayan

Tari Kridha Asmara merupakan karya dari koreografer Ryndhu Puspita Lokanantasari.

Menariknya, tarian ini awalnya diciptakan dalam genre tari pasangan atau pasihan. Namun, khusus untuk pergelaran Triwulan Catha Ambya #7, formatnya diubah menjadi tari kelompok yang menyerupai struktur Bedhayan.

Meski formatnya berubah, esensi romantisme gaya Surakarta tetap terjaga. Gerak-gerak klasik yang menjadi basis tari putri Surakarta dipadukan secara apik untuk menggambarkan perjalanan emosional seseorang.

Inspirasi dari Pengalaman Empiris Sang Koreografer

Latar belakang penciptaan Kridha Asmara ternyata sangat personal. Ryndhu mengungkapkan bahwa tarian ini merupakan manifestasi dari perjalanan dan kisah cinta pribadinya.

“Yang namanya cinta kan isinya memang enggak manis-manis saja. Tapi kita coba kemas rasa sakit dan pengorbanan dengan cara yang manis,” tutur Ryndhu mengenai filosofi karyanya.

Visual Memesona dengan Balutan Busana Tradisional

Penampilan 9 penari Kridha Asmara tampak begitu elegan dengan balutan busana dodot alit, lengkap dengan samparan dan sampur merah yang mencolok.

Riasan wajah yang natural namun anggun berpadu dengan gelung Jawa klasik, menciptakan satu kesatuan visual yang koheren dengan tata cahaya dan iringan musiknya.

Kehadiran Kridha Asmara memberikan warna berbeda di pergelaran Triwulan kali ini.

Di saat panggung didominasi oleh genre pethilan, kiprah, dan gecul (lucu), Kridha Asmara hadir sebagai penyejuk dengan nuansa yang manis, menyenangkan, dan penuh perasaan.

Profil Tokoh: Ryndhu Puspita Lokanantasari

(did/senda)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Tari Kridha Asmara #Triwulan Catha Ambya #surakarta