Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kenapa Imlek Identik dengan Merah dan Emas? Ini Sejarah dan Maknanya

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 28 Januari 2026 | 16:18 WIB

Pedagang di Pasar Gede Solo yang Menjual Berbagai Pakaian untuk Imlek
Pedagang di Pasar Gede Solo yang Menjual Berbagai Pakaian untuk Imlek

SOLOBALAPAN.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek kian mendekat. Di Kota Solo, suasana itu terasa perlahan hadir melalui lampion yang mulai tergantung, ornamen yang menghiasi pusat kota, hingga dekorasi bernuansa khas di pusat perbelanjaan dan klenteng.

Di tengah kemeriahan tersebut, dua warna selalu tampil dominan dan nyaris tak tergantikan: merah dan emas.

Mulai dari hiasan rumah, lampion, angpao, hingga busana yang dikenakan masyarakat, merah dan emas seolah menjadi bahasa visual Imlek.

Namun di balik tampilannya yang meriah, kedua warna ini menyimpan makna filosofis dan sejarah panjang yang berakar kuat dalam budaya Tionghoa.

Warna merah sejak zaman kuno dipercaya sebagai simbol perlindungan dan keberanian. Dalam legenda Tiongkok, diceritakan adanya makhluk jahat bernama Nian yang muncul setiap pergantian tahun dan menebar ketakutan di desa-desa.

Baca Juga: Lebih Pahit dari Tuduhan Spons! Pak Sudrajat Ternyata Berjuang Hidupi 5 Anak dengan Rp50 Ribu: Ini Kisahnya!

Untuk mengusir makhluk tersebut, masyarakat menghias rumah dengan warna merah serta menyalakan kembang api. Sejak saat itu, merah diyakini mampu menangkal energi buruk dan membawa keselamatan.

Kepercayaan tersebut diwariskan secara turun-temurun hingga menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek modern. Merah tidak hanya dimaknai sebagai keberanian, tetapi juga kebahagiaan, semangat hidup, energi positif, serta awal baru yang penuh harapan.

Sementara itu, warna emas identik dengan kemakmuran dan kekayaan. Pada masa kekaisaran Tiongkok, emas merupakan simbol kejayaan, kemewahan, dan status tinggi.

Warna ini banyak digunakan di lingkungan istana, pakaian bangsawan, hingga ornamen kerajaan sebagai lambang kesejahteraan dan kejayaan.

Dalam konteks Imlek, emas melambangkan doa agar rezeki melimpah di tahun yang baru. Tak heran jika berbagai dekorasi Imlek memadukan merah dengan aksen emas—mulai dari tulisan keberuntungan, gambar shio, hingga motif bunga dan naga yang sarat makna simbolis.

Perpaduan merah dan emas pun dipercaya menciptakan keseimbangan antara kebahagiaan dan kemakmuran. Kombinasi inilah yang menjadikan kedua warna tersebut sebagai ciri khas utama perayaan Imlek di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Media Belanda Bongkar Alasan Ajax Amsterdam Ngotot Rekrut Maarten Paes: Bukan Sekadar Teknis, Perilaku Luar Lapangan Jadi Kunci!

Di Tanah Air, dominasi warna merah dan emas tampak jelas setiap menjelang Imlek. Pusat perbelanjaan, klenteng, hingga kawasan wisata berubah menjadi ruang perayaan yang penuh warna.

Fenomena ini bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga dinikmati oleh masyarakat luas sebagai bagian dari kekayaan budaya bersama.

Tradisi penggunaan warna merah dan emas mencerminkan bagaimana nilai-nilai kuno tetap hidup di tengah modernisasi. Meski bentuk perayaan terus berkembang mengikuti zaman, makna simbolis di balik warna-warna tersebut tetap dijaga sebagai harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Dengan sejarah panjang dan filosofi yang menyertainya, merah dan emas bukan sekadar elemen dekorasi Imlek. Keduanya adalah representasi doa, harapan, dan optimisme yang mengiringi setiap langkah menyambut Tahun Baru Imlek—sebuah pengingat bahwa pergantian tahun selalu membawa kesempatan untuk memulai kembali dengan penuh keyakinan. (iz/an)

-Izza Aziza Queen Sophia-

Editor : Andi Aris Widiyanto
#tahun baru imlek #angpao #imlek #tiongkok #lampion #merah dan emas #klenteng #ornamen