SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Malam di Dukuh Baseng, Desa Gentan, Kecamatan Bulu, selalu membawa hawa yang berbeda setiap kali bulan Sura tiba.
Angin seolah kehilangan keberaniannya untuk bertiup kencang, udara menjadi pekat seperti menahan sesuatu, dan pepohonan—terutama beringin tua di simpang empat desa—seakan berbisik lirih, memberi tanda bahwa ada yang sedang terjaga.
Di tengah kesunyian yang seperti sengaja ditahan itu, berdirilah sebuah sendang tua yang menjadi pusat seluruh cerita: Sendang Lele.
Mata air yang tak pernah kering itu bukan sekadar sumber kehidupan warga, melainkan ruang batas yang diyakini menjadi tempat bersemayamnya sosok gaib bernama Kyai atau Pangeran Truno, penjaga tak kasatmata yang menurut cerita menitis dalam wujud seekor lele raksasa.
Bagi pendatang, sendang ini mungkin tampak seperti kolam alami dengan ikan-ikan berukuran tak lazim—panjang hampir satu meter, sebesar paha orang dewasa.
Sebagian berwarna gelap, sebagian lainnya putih pucat seperti berpendar dari dalam air. Namun bagi warga Baseng, terutama para sesepuh, tempat itu adalah gerbang sunyi yang memisahkan dunia manusia dan dunia makhluk halus.
Penampakan Lele Bertulang Bersinar
Tri Santoso, tokoh pemuda Baseng, masih mengingat jelas kisah yang diwariskan turun-temurun. Ketika ditemui di tepi sendang—di bawah akar beringin raksasa yang seperti mencengkeram permukaan air—Tri berbicara lebih pelan dari biasanya.
“Sendang Lele ini bukan tempat biasa. Lele di sini pun bukan sembarangan, Mas…,” ujarnya sambil sesekali melirik ke arah air yang tenang namun terasa hidup.
Dalam kisah lisan masyarakat, Kyai Truno adalah tokoh penting pada masa perlawanan terhadap Belanda. Ia disebut sering bertemu Pangeran Sambernyawa di sendang itu, merumuskan strategi perang.
Tempat ini menjadi sakral bukan hanya karena sejarah, tetapi juga karena wujud gaib yang konon ditampakkan sang penjaga.
Yang membuat bulu kuduk berdiri adalah cara ia menampakkan diri: sebagai lele raksasa yang hanya terdiri dari duri dan tulang, tanpa daging, tanpa tubuh—hanya rangka yang memancarkan cahaya samar di dalam air bening sendang.
“Tidak semua bisa melihatnya. Yang melihat biasanya orang yang ‘dipilih’ atau punya indera keenam,” tutur Tri, suaranya semakin menurun seolah takut sesuatu mendengar.
Fenomena itu diyakini hanya muncul pada malam-malam tertentu di bulan Sura, ketika sendang benar-benar hening sehingga suara dedaunan jatuh pun terasa seperti dentingan.
Beringin Raksasa Penjaga Energi
Selain nuansa mistis, sendang ini juga menyimpan nilai historis. Beringin Bulu yang menaunginya—besar hingga dahannya hampir menyentuh jalan desa—dianggap sebagai penanda titik energi. Para tetua percaya pohon itu tidak akan tumbuh sebegitu megah jika tanah yang menopangnya bukan tempat bertuah.
“Orang dulu bilang, beringin seperti ini tidak tumbuh sembarangan. Ada sesuatu yang menjaga,” jelas Tri.
Warga pun tidak berani sembarangan memancing, menebang, atau merusak apa pun di sekitar sendang. Semua diperlakukan seperti ruang sakral yang harus dijaga keseimbangannya.
Penjaga Desa yang Tak Pernah Tidur
Hingga kini, misteri Sendang Lele tetap hidup. Sebagian warga meyakini Kyai Truno masih bersemayam di dasar sendang—di antara bebatuan dan akar beringin tua—menjaga ketenangan Baseng dengan caranya sendiri.
Ada kalanya ia muncul sebagai kilauan tulang bergerak, sebagai bayangan gelap sebesar orang dewasa, atau kadang sama sekali tidak terlihat—namun kehadirannya selalu terasa.
Tri mengakhiri ceritanya dengan senyum tipis, seolah memahami bahwa tidak semua orang mampu menanggung apa yang ia kisahkan.
Baca Juga: Ardito Wijaya dari Partai Apa? Bupati Lampung Tengah yang Kena OTT KPK, Diduga Terlibat Suap Proyek
“Kalau ingin merasakan sendiri, datanglah saat malam Sura. Tapi jangan berharap apa-apa. Kalau sampeyan memang ‘diijini’, sendang ini akan menunjukkan sendiri rahasianya…,” ujarnya pelan.
Malam kembali turun perlahan di Baseng. Angin terhenti, suasana kembali pekat, dan sendang tua itu tetap diam—menyimpan misterinya, menunggu siapa lagi yang akan dipilih untuk melihat apa yang tidak seharusnya terlihat. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto