SOLOBALAPAN.COM – Jejak Firaun Tutankhamun dari Dinasti Kedelapanbelas Mesir masih menyimpan misteri besar.
Makamnya dipercaya membawa kutukan yang menyebabkan malapetaka berupa kematian bagi siapapun yang berani membukanya.
Rupanya, misteri ini kini mulai terpecahkan oleh penjelasan ilmiah yang mengerikan.
Mengutip dari laman Kompas, penelitian baru yang ditulis oleh Ross Fellowes di Journal of Scientific Exploration menemukan fakta bahwa makam Tutankhamun memiliki limbah radiasi yang begitu tinggi hingga siapapun yang bersentuhan dengannya dipastikan akan terkena penyakit radiasi dan kanker.
Kematian Howard Carter dan Tingkat Radiasi 10 Kali Lipat
Paparan radiasi tersebut diyakini merenggut nyawa arkeolog Howard Carter, orang pertama yang memasuki makam Tutankhamun pada tahun 1922.
Carter meninggal 11 tahun kemudian setelah berjuang melawan Limfoma Hodgkin—sejenis kanker yang dikaitkan dengan keracunan radiasi.
Studi modern mengonfirmasi adanya tingkat radiasi yang sangat tinggi di makam Mesir kuno, yaitu 10 kali lipat dari standar keamanan yang bisa diterima.
Radiasi ini juga terdeteksi di dua situs di Giza yang berdekatan dengan piramida.
Mitos sebagai Peringatan Medis Kuno
Para peneliti meyakini bahwa mitos kutukan tersebut sebenarnya adalah peringatan yang sengaja dibuat karena ada segelintir orang yang paham akan bahaya ini.
“Sifat kutukan tersebut secara eksplisit tertulis di beberapa makam, dengan salah satu makam diterjemahkan sebagai, 'mereka yang merusak makam ini akan menemui ajal oleh penyakit yang tidak dapat didiagnosis oleh dokter,'” tambah Fellowes.
Ini menunjukkan bahwa peringatan "kutukan" pada Firaun sebenarnya merupakan cara untuk melindungi makam dari bahaya radiasi.
Sejarah Tutankhamun
Tutankhamun (Nebkheperure Tutankhamun) berkuasa pada usia sembilan atau sepuluh tahun (1333 SM). Nama aslinya, Tutankhaten, berarti "Jelmaan hidup Aten." Ia menikah dengan saudara tirinya, Ankhesenamun.
Sebuah studi 2011 mengungkap bahwa kedua anak perempuannya meninggal sebelum dilahirkan, mempertegas misteri di sekitar dinasti ini. (mg1/dam)
Editor : Damianus Bram