Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Solo Punya Dua Raja? Alasan Kenapa Ada Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran, Ini Sejarah Perpecahan Mataram

Didi Agung Eko Purnomo • Sabtu, 8 November 2025 | 00:24 WIB
Keraton Surakarta Hadiningrat
Keraton Surakarta Hadiningrat

SOLOBALAPAN.COM - Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo mungkin bertanya-tanya, mengapa ada dua pusat kebudayaan Jawa yang megah di kota ini?

Yaitu Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (dipimpin oleh Pakubuwono) dan Pura Mangkunegaran (dipimpin oleh Mangkunegara).

Meskipun berasal dari leluhur yang sama, yakni Dinasti Mataram Islam, keduanya memiliki sejarah perpecahan yang berbeda.

Lahirnya dua "istana" di satu kota ini adalah warisan dari konflik internal dan campur tangan VOC (Belanda) pada abad ke-18.

Awal Perpecahan: Geger Pecinan dan Perjanjian Giyanti (1755)

Kekacauan dimulai saat terjadi Geger Pecinan, yang menyebabkan Keraton Mataram di Kartasura hancur.

Raja Pakubuwono II kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Sala, yang kini kita kenal sebagai Keraton Kasunanan Surakarta pada tahun 1745.

Setelah itu, konflik internal (Perang Takhta Jawa Ketiga) terus berlanjut.

Puncaknya, VOC turun tangan dan memediasi Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian inilah yang pertama kali membelah Mataram Islam menjadi dua:

  1. Kasunanan Surakarta Hadiningrat (dipimpin oleh Pakubuwono III).

  2. Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat (dipimpin oleh Hamengkubuwono I).

Lahirnya Mangkunegaran dari Perjanjian Salatiga (1757)

Masalah belum selesai. Seorang pangeran pejuang yang juga keponakan dari Pakubuwono II, Raden Mas Said (dijuluki Pangeran Sambernyawa), merasa dikhianati karena tidak dilibatkan dalam Perjanjian Giyanti.

Ia pun melanjutkan pemberontakannya melawan Pakubuwono III, Hamengkubuwono I, dan VOC.

Perlawanannya yang gigih membuat VOC kembali turun tangan. Akhirnya, disepakatilah Perjanjian Salatiga pada tahun 1757.

Perjanjian inilah yang menjadi jawaban mengapa ada dua "raja" di Solo.

Dalam perjanjian tersebut, Raden Mas Said setuju menghentikan perlawanannya. Sebagai gantinya:

Wilayah Mataram pun resmi terbagi menjadi tiga: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran.

Apa Beda Kekuasaan Pakubuwono dan Mangkunegara?

Meski sama-sama berkuasa di wilayah Surakarta, status keduanya sejak awal dibedakan secara jelas oleh perjanjian.

Inilah perbedaan utama antara Pakubuwono dan Mangkunegara:

1. Pakubuwono (Keraton Kasunanan Surakarta)

2. Mangkunegara (Pura Mangkunegaran)

Singkatnya, Kasunanan Surakarta adalah Kerajaan utama, sementara Mangkunegaran adalah Kadipaten (semacam Duchy) otonom yang lahir dari sebuah kompromi politik.

Meskipun statusnya berbeda, kedua istana ini kini menjadi pilar utama penjaga kebudayaan dan tradisi Jawa di Kota Solo. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#sejarah #Perpecahan Mataram #Pura Mangkunegaran #raja #Keraton Kasunanan #solo