SOLOBALAPAN.COM – Edgar Allan Poe adalah salah satu nama yang paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia, dikenal sebagai maestro cerita beraliran horor misteri, penulis puisi, dan kritikus tajam.
Lahir di Boston pada 19 Januari 1809, dan meninggal secara misterius di Baltimore pada 7 Oktober 1849, kisah hidup Poe sama kelamnya dengan karya-karya yang ia ciptakan.
Pria yang biasa dipanggil Poe, terkenal ketika tulisannya yang berbentuk puisi berjudul “The Raven” (1845) keluar.
Tulisan ini memukau dengan plot rumit, atmosfer gelap, dan gangguan psikologis karakter yang mendalam.
Perjalanan Hidup Penuh Kehilangan dan Konflik Keluarga
Kehidupan awal Poe dipenuhi tragedi. Ayahnya meninggalkannya, dan ibunya meninggal pada tahun 1811.
Ia kemudian diadopsi (meski tidak resmi) oleh pasangan pedagang kaya, John Allan dan Frances Allan.
Hubungan Poe dengan ayah angkatnya, John Allan, selalu buruk, terutama karena John tidak menyukai kegemaran Poe menulis.
Konflik memuncak setelah Frances meninggal (1829). Ketika John Allan wafat pada 1834, Poe tidak mendapatkan warisan apapun. Ia hanya mewarisi nama "Allan" yang kini dikenal sebagai nama tengahnya.
Pendidikan yang Gagal dan Karier Militer Singkat
Pada usia 17 tahun, Poe mendaftar di University of Virginia, tetapi tabiatnya yang suka berjudi membuatnya terlilit utang. John Allan membatasi kiriman uang, memaksa Poe mengundurkan diri.
Hidup luntang-lantung, pada 1827, Poe menerbitkan puisi pertamanya, "Tamerlane and Other Poems," menggunakan nama pena By a Bostonian untuk menghindari John Allan. Ia kemudian masuk anggota militer dengan nama samaran Edgar A. Perry.
Setelah kematian Frances, John Allan sempat membebaskan Poe dan mendaftarkannya di Akademi Militer A.S. West Point.
Meski menjadi siswa cemerlang, Poe dikeluarkan dari West Point karena sengaja membuat perilakunya buruk, bersamaan dengan pernikahan kedua John Allan.
Puncak Keemasan Literatur dan Julukan "Tomahawk Man"
Karya-karya awal Poe, seperti "Tamerlane and Other Poems" (1827) dan "Poems" (1831), lahir saat kondisi psikologisnya sedang berantakan.
Kariernya mulai menanjak pada 1833 setelah memenangkan lomba cerpen "MS. Found in a Bottle."
Pada 1835, Poe ditunjuk sebagai editor di Southern Literary Messenger. Di sana, ia dikenal sebagai kritikus sastra yang keras, objektif, dan tajam, hingga mendapatkan julukan "Tomahawk Man."
Puncak keemasan Poe terjadi antara 1841 hingga 1845:
- Pencetus Genre Baru: Ia menerbitkan "The Murders in the Rue Morgue" (1841), yang diakui sebagai cikal bakal cerita detektif modern (menginspirasi Arthur Conan Doyle menciptakan Sherlock Holmes).
- Horor Psikologis: Karya seperti "The Tell-Tale Heart" (1843) dan "The Black Cat" (1843) memperkuat kesan Poe sebagai penulis horor psikologis terhebat.
- Puncak Popularitas: Pada 1845, puisinya "The Raven" memuncak, meskipun karier kritiknya juga memuncak karena kontroversi melawan Longfellow atas tuduhan plagiarisme.
Kematian Misterius dan Prinsip Estetika Abadi
Karier Poe menurun drastis setelah istrinya, Virginia, meninggal pada 1847.
Ia sempat menulis esai "The Poetic Principle" (1849) yang diterbitkan setelah ia meninggal.
Pada 3 Oktober 1849, Poe ditemukan dalam keadaan mabuk dan mengenakan pakaian yang bukan miliknya.
Empat hari kemudian, 7 Oktober 1849, ia dinyatakan meninggal dunia dengan alasan yang tidak jelas.
Terlepas dari misteri kematiannya, esai "The Poetic Principle" yang ia tulis dikaitkan dengan semboyan "Art for art’s sake!" (l’art pour l’art), sebuah prinsip estetika yang kemudian berkembang luas di Eropa.
Nama Edgar Allan Poe tetap diakui sebagai salah satu penulis horor-misteri-psikologis terbesar sepanjang masa. (dam)
Editor : Damianus Bram