SOLOBALAPAN.COM - Saat mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan, tidak banyak yang menyadari bahwa setiap langkah yang kita pijak adalah perjalanan melintasi waktu.
Bangunan megah museum ini ternyata berdiri di atas lapisan tanah purba sisa letusan Gunung Lawu yang usianya mencapai 1,8 juta tahun.
Fakta geologis inilah yang menjadi alasan utama di balik desain arsitektur museum yang unik, dengan kontur naik-turun dan banyak anak tangga, menawarkan pengalaman yang menyatu dengan lanskap purba itu sendiri.
Lapisan Lahar Purba yang Sengaja Diperlihatkan
Tepat di sisi kanan jalan sebelum memasuki ruang pamer utama Klaster Krikilan, pengunjung dapat melihat secara langsung penampakan lapisan tanah vulkanik kuno ini.
Pihak museum sengaja tidak menutup atau meratakannya.
“Itu kondisinya kayak bekas lahar, aktivitas vulkanik yang terjadi jutaan tahun lalu. Itu sengaja tidak kita tutup untuk memperlihatkan kepada pengunjung supaya mereka tahu bentuk fisik lingkungannya seperti apa,” jelas Reza, Humas Museum Sangiran.
Menurutnya, lokasi ini dipilih untuk pembangunan museum karena relatif aman dan tidak mengandung fosil, sehingga tidak merusak situs utama.
Arsitektur yang Menyesuaikan Kontur Alam
Alih-alih meratakan tanah, desain bangunan Museum Sangiran justru mengikuti kontur asli perbukitan.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap lingkungan dan struktur tanah purba yang menjadi bagian dari warisan dunia UNESCO.
“Karena di sini kan konturnya juga naik-turun, kita tidak mau merusak struktur lingkungannya, jadi kita bangunnya nggak datar... kita harus menyesuaikan sama lingkungan,” ucap Reza.
Konsekuensinya, pengunjung akan merasakan sensasi berjalan naik-turun melalui tangga dan koridor yang bertingkat, seolah sedang menjelajahi perbukitan Sangiran itu sendiri.
Pengalaman Menyatu dengan Sejarah
Desain arsitektur yang unik ini membuat kunjungan ke Museum Sangiran menjadi lebih dari sekadar melihat koleksi fosil.
Pengunjung diajak untuk merasakan langsung kondisi fisik dari sebuah situs purbakala yang usianya jutaan tahun.
Berdiri di atas tanah sisa letusan gunung api purba sambil melihat fosil-fosil yang ditemukan di dalamnya adalah sebuah pengalaman imersif yang menghubungkan kita secara langsung dengan sejarah panjang evolusi manusia. (mg6/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo