Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menolak Bala dengan Tanam Kepala Kambing, Ini Filosofi Tradisi Merti Dusun di Lereng Lawu

Didi Agung Eko Purnomo • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 04:36 WIB
Tradisi Merti Dusun merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan di Dusun Nerang.
Tradisi Merti Dusun merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan di Dusun Nerang.

SOLOBALAPAN.COM -  Setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa, warga Dusun Nerang, Desa Plosorejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, menggelar sebuah tradisi leluhur yang sarat akan makna: Merti Dusun atau Bersih Dusun.

Ritual yang digelar pada malam Jumat Legi ini merupakan wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa senantiasa diberi kesejahteraan dan dijauhkan dari marabahaya.

Rangkaian acaranya pun sangat unik, mulai dari ziarah hingga prosesi menanam kepala kambing sebagai simbol tolak bala.

Penyucian Diri dan Ziarah ke Makam Leluhur

Rangkaian ritual ini diawali dengan puasa yang dilakukan oleh delapan orang pemangku adat yang disebut “Paraga Wolu”.

Setelah itu, mereka melakukan ziarah ke makam danyang atau sosok yang pertama kali membuka wilayah dusun tersebut.

Kepala Dusun Nerang, Anang Sarwanto, menegaskan bahwa ziarah ini bukanlah bentuk sinkretisme yang menyimpang. “Hal-hal seperti ini bukan merupakan bentuk kami menyembah setan. Tujuan kami adalah mendoakan leluhur,” jelasnya.

Ritual Puncak: Menanam Kepala dan Kaki Kambing

Puncak dari acara Merti Dusun adalah ritual menanam kepala dan empat kaki kambing di titik-titik strategis desa.

Prosesi ini dilakukan dengan khidmat, diawali dengan iring-iringan membawa sesajen, lalu dikumandangkan adzan dan dzikir sebelum bagian tubuh kambing tersebut ditanam.

Menurut Anang, idealnya kambing yang digunakan adalah kambing kendit (kambing hitam dengan lingkaran putih di perut), namun kini disesuaikan dengan ketersediaan.

Doa Bersama dan Kirab Kesenian Jaran Bigar

Setelah ritual penanaman, warga desa akan berkumpul untuk melakukan doa bersama (doa tolak bala).

Mereka juga menaburkan garam di sepanjang sisi desa sebagai simbol "pagar" dari energi negatif.

Keesokan siangnya, acara ditutup dengan Kirab Kesenian Jaran Bigar yang diarak keliling dusun, sebagai simbol pembersihan dan penyebaran energi positif.

Menjaga Harmoni Alam dan Sosial

Tradisi Merti Dusun di Dusun Nerang adalah sebuah perwujudan harmonis antara keyakinan Islam dan kearifan lokal Jawa.

Setiap prosesinya mengandung makna mendalam tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan Tuhan, leluhur, sesama manusia, dan alam semesta.

Ini adalah warisan budaya yang terus hidup, menjadi benteng spiritual dan perekat sosial bagi masyarakatnya. (nilna/did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#tradisi #filosofi #menolak bala #merti dusun #lereng lawu #kepala kambing