Beda dari yang Lain, Tradisi Nyadran di Dusun Nerang Karanganyar Digelar Dua Kali Setahun, Simbol Kesetaraan yang Penuh Makna
Didi Agung Eko Purnomo• Sabtu, 9 Agustus 2025 | 04:12 WIB
Kegiatan Tradisi Nyadran Dusun Nerang, Desa Plosorejo, Kab. Karanganyar.
SOLOBALAPAN.COM – Nyadran atau Sadranan adalah sebuah tradisi luhur masyarakat Jawa yang biasa dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan dengan berziarah dan membersihkan makam leluhur.
Namun, di Dusun Nerang, Desa Plosorejo, Kabupaten Karanganyar, tradisi ini memiliki keunikan tersendiri yang sarat akan filosofi mendalam, terutama melalui ritual "Tumpeng Sewu".
Tradisi ini, menurut Kepala Dusun setempat, Bapak Anang Sarwanto, bertujuan sebagai pengingat akan kematian (eling mati) dan pentingnya berbuat baik.
Nyadran Dua Kali Setahun
Berbeda dari daerah lain, Nyadran di Dusun Nerang digelar dua kali dalam setahun: pada bulan Januari yang bertepatan dengan musim tanam, dan pada bulan Agustus sebagai bagian dari upacara bersih desa atau Rasulan.
'Tumpeng Sewu' sebagai Simbol Kesetaraan
Keunikan utama dari tradisi Nyadran di sini terletak pada sajian kenduri atau makan bersamanya, yaitu "Tumpeng Sewu".
Seluruh warga diwajibkan membawa nasi tumpeng dengan bentuk kerucut dan lauk-pauk yang seragam, seperti peyek, serundeng, dan sayur cabai.
Tujuannya, menurut Pak Anang, adalah sebagai lambang kesetaraan.
"Istilahnya dari tumpeng sewu itu kan kabeh ki podo ngono lo. Ada yang kaya, miskin, punya, gak punya itu semua gak dibeda-bedakan. Tumpengnya bentuknya sama," jelas Pak Anang. Ini adalah simbol bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada perbedaan status sosial.
Filosofi Tukar Tumpeng dan Doa 'Ujub-ujub'
Sebelum dinikmati bersama, warga akan memanjatkan doa dalam ritual yang disebut "ujub-ujub".
Setelah itu, prosesi yang paling unik pun dilakukan: semua tumpeng akan saling ditukarkan secara acak.
Ritual ini dimaknai sebagai bentuk keikhlasan, silaturahmi, dan semangat berbagi rezeki tanpa memandang siapa yang memberi atau menerima.
Bentuk kerucut atau lancip pada tumpeng itu sendiri, tambah Pak Anang, adalah simbol perjalanan spiritual manusia yang selalu menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Warisan Luhur yang Terjaga
Tradisi Nyadran di Dusun Nerang bukan sekadar ritual tahunan. Melalui filosofi "Tumpeng Sewu" dan prosesi tukar menukar yang unik, tradisi ini menjelma menjadi pelajaran hidup tentang kesetaraan, kebersamaan, dan keikhlasan.
Ini adalah bukti nyata bagaimana kearifan lokal terus hidup dan dijaga, menanamkan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi. (intan/did)