Khutbah I
الحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيمِ الْحَكِيمِ، الرَّؤُوفِ الرَّحِيمِ، الَّذِي جَعَلَ الْأَوْلَادَ زِينَةً لِلْحَيَاةِ وَذُخْرًا لِلْمُسْلِمِينَ، وَسَبَبًا لِلسُّرُورِ وَالنَّعِيمِ، وَجَعَلَ صَلَاحَهُمْ سَبِيلًا إِلَى الْفَوْزِ وَالْجَنَانِ يَوْمَ الدِّينِ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنَجِّي صَاحِبَهَا مِنَ الْجَحِيمِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْكَرِيمُ، الْمَبْعُوثَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، صَلَاةً دَائِمَةً مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَالدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada kita. Di antara nikmat terbesar adalah nikmat iman, Islam, serta nikmat keluarga yang menjadi tempat berbagi kasih dan membangun masa depan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan umatnya yang setia meniti jalan petunjuk hingga hari kiamat.
Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat : Ujian Bencana dan Kekuatan Ukhuwah Islamiyah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak hanya berhenti pada ucapan dan niat, tetapi juga tampak nyata dalam setiap perilaku kita: dalam ibadah, mencari nafkah, berinteraksi dengan sesama, serta dalam mendidik dan menjaga amanah anak-anak yang Allah titipkan kepada kita.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Setiap tanggal 23 Juli, bangsa kita memperingati Hari Anak Nasional, sebuah momen penting untuk muhasabah dan introspeksi diri: sudahkah kita memberikan perhatian yang cukup pada anak-anak kita? Apakah kita sudah menjalankan amanah ini dengan sepenuh hati, ataukah justru melalaikannya dalam hiruk-pikuk urusan dunia?
Allah ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Jamaah Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah,
Di antara tanggung jawab besar yang Allah titipkan kepada kita adalah menjaga keluarga, khususnya anak-anak kita. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari api neraka berarti mendidik mereka dengan ilmu agama, membimbing mereka kepada akhlak yang baik, dan menjauhkan mereka dari jalan-jalan kesesatan.
Anak bukan sekadar pelengkap kebahagiaan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah SAW memberikan perhatian luar biasa kepada anak-anak. Dalam banyak riwayat, beliau mencium, menggendong, memeluk, dan mendoakan mereka dengan penuh kasih sayang.
Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat : Meraih Ampunan Melalui Amal Kebaikan di Bulan Muharram
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ، أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ؟
Artinya: "Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari setiap pemimpin atas yang dipimpinnya. Apakah ia menjaganya atau menelantarkannya?" (HR. Abu Dawud)
Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin juga menegaskan pentingnya pendidikan sejak dini. Anak kecil adalah jiwa suci yang siap menerima segala nilai yang ditanamkan kepadanya. Beliau menulis:
لِلطِّفْلِ أَمَانَةٌ عِندَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ ٱلطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ خَالِيَةٌ مِنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ، وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ وَمَالَ إِلَيْهِ
Artinya: "Anak kecil adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci bagaikan permata yang sangat berharga, kosong dari segala ukiran dan gambar. Ia siap menerima apa pun yang ditanamkan kepadanya dan akan condong ke arahnya."
Jamaah Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah,
Di zaman digital ini, tantangan mendidik anak menjadi semakin kompleks. Tayangan yang merusak, media sosial yang tidak terkontrol, pergaulan bebas, serta krisis adab, semuanya menjadi ancaman nyata. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara orang tua, guru, masyarakat, dan negara untuk menjaga generasi kita.
Hadratusy Syaikh KH Muḥammad Hasyim Asy‘ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal-Muta‘allim mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga membentuk adab dan membangun ruhani.
Beliau berkata:
وَعَلَى الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ أَنْ يَحْفَظَا طَالِبَهُمَا مِمَّا يُفْسِدُ دِينَهُ وَخُلُقَهُ، كَمَا يَحْفَظَانِ بَدَنَهُ مِنَ الضَّرَرِ
Artinya: "Orang tua dan guru wajib menjaga anak didiknya dari hal-hal yang bisa merusak agama dan akhlaknya, sebagaimana mereka menjaga tubuhnya dari bahaya."
Maka marilah kita muliakan anak-anak kita. Jangan hanya memberikan gawai kepada mereka, tetapi berikan mereka waktu, peluk mereka dengan doa, isi hari-hari mereka dengan ilmu dan keteladanan. Anak bukan hanya harapan masa depan, tetapi juga ladang pahala yang terus mengalir. Jika mereka kita didik dengan iman dan akhlak, insya Allah mereka akan menjadi penyejuk mata dan pelanjut amal-amal kebaikan kita.
Semoga kita semua termasuk orang tua yang amanah dalam mendidik, dan semoga anak-anak kita menjadi generasi Qur’ani, penyejuk hati, dan penerus perjuangan umat. Amin ya rabbal 'alamin.
Khutbah II
الحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰ