SOLOBALAPAN.COM - Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dikenal sebagai salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia, bahkan dunia.
Namun, di balik namanya yang besar, tersimpan sejarah panjang perjuangan, filosofi mendalam, dan warisan dari dua tokoh besar yang berpusat di Madiun, Jawa Timur.
Akar Ajaran Setia Hati dari Eyang Suro
Sejarah PSHT tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Soerodiwirjo, atau yang akrab disapa Eyang Suro.
Pada tahun 1907, ia mendirikan perguruan Persaudaraan Setia Hati (PSH) di Winongo, Madiun.
Ajarannya tidak hanya fokus pada ilmu bela diri, tetapi juga pada pembentukan watak luhur, semangat kebangsaan, dan persaudaraan yang erat.
Lahirnya 'Terate' dari Tangan Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Dari didikan Eyang Suro, lahirlah seorang murid tangguh bernama Ki Hadjar Hardjo Oetomo.
Karena perbedaan pandangan dengan gurunya—khususnya terkait penolakan untuk menerima murid dari kalangan penjajah—Hardjo Oetomo mendirikan perguruannya sendiri pada tahun 1922.
Awalnya, perguruan ini bernama Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC).
Perjalanannya penuh rintangan. Pemerintah kolonial Belanda yang curiga SH PSC sebagai gerakan perlawanan sempat membubarkannya dan memenjarakan Hardjo Oetomo di berbagai kota.
Namun, semangatnya tak pernah padam.
Filosofi Bunga Terate dan Peresmian Nama PSHT
Nama Setia Hati Terate mulai digunakan pada tahun 1942. "Terate" atau bunga teratai dipilih karena filosofinya yang luhur: mampu tumbuh indah dan mekar di atas air yang jernih, meskipun akarnya menancap kuat di lumpur.
Ini menjadi simbol kekuatan dan kesucian hati yang tak ternoda oleh keadaan.
Tonggak sejarah penting terjadi pada 1948, ketika PSHT menggelar kongres pertamanya, meresmikan nama "Persaudaraan Setia Hati Terate", dan turut menjadi salah satu pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
Dari Madiun Mendunia
Kini, PSHT telah berkembang pesat menjadi organisasi pencak silat raksasa yang tidak hanya mengajarkan bela diri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai persaudaraan dan pengabdian.
Seperti yang diungkapkan Ketua Cabang PSHT Kota Kediri, Agung Sediana, jangkauannya sudah mendunia.
“PSHT menjadi perguruan yang sangat besar hingga ke mancanegara. Tidak hanya di Kediri atau Indonesia saja, tapi juga berkembang di beberapa negara luar negeri,” ujarnya.
Dari sebuah perguruan kecil di Madiun yang lahir dari semangat perlawanan, PSHT telah bertransformasi menjadi fenomena global.
Warisan Eyang Suro dan perjuangan Ki Hadjar Hardjo Oetomo terus hidup, membuktikan bahwa ajaran yang berlandaskan pada keluhuran budi dan persaudaraan akan mampu bertahan melintasi zaman. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo