SOLOBALAPAN.COM – Di balik reruntuhan tembok tua yang berdiri membisu di jantung Kecamatan Kartasura, tersimpan kisah-kisah mistis yang tak pernah benar-benar sirna.
Tembok itu, sisa dari Benteng Keraton Kartasura peninggalan Dinasti Mataram Islam, diyakini sebagai pusat kekuatan gaib yang masih aktif hingga kini.
Salah satu kisah paling dikenal adalah kemunculan sosok ular hitam legam dari celah tembok bagian timur.
Baca Juga: Geger! Delapan Remaja Diduga Kumpul Kebo di Bangunan Tua Kosong Makassar
Namun warga percaya, ini bukan ular biasa. Ia disebut sebagai penjaga gaib keraton—jelmaan dari entitas tak kasatmata yang muncul di waktu-waktu tertentu, biasanya berjalan ke arah makam tua yang berada di sisi barat benteng.
“Sering terlihat keluar dari tembok, jalannya pelan ke makam. Tapi rasanya bukan hewan biasa,” tutur Nanang Sapto, tokoh masyarakat setempat.
Baca Juga: Persija Incar Jordi Amat, Tapi Gajinya Selangit! Ini RinciannyaKisah mistis lain muncul dari pengalaman seorang warga yang mengambil batu bata bekas tembok untuk keperluan halaman warung. Tak lama setelahnya, tubuhnya mengalami demam tinggi dan tidak sembuh meski sudah berobat ke berbagai tempat.
Anehnya, setelah batu bata itu dikembalikan, kondisinya langsung membaik.
“Banyak yang percaya, batu bata dari tembok itu sudah ‘berisi’,” ujar Nanang.
Baca Juga: Klub Serie A Milik Orang Indonesia Ini Siap Borong Pemain! Alvaro Morata Jadi Target Utama
Benteng Keraton Kartasura diyakini menyimpan jejak kekuatan spiritual dari masa lalu, terlebih setelah peristiwa berdarah Geger Pecinan tahun 1742 yang menyebabkan keraton hancur dan ditinggalkan oleh “wahyu” kekuasaan.
Paku Buwono II pun memindahkan pusat pemerintahan ke Surakarta, meninggalkan Kartasura dalam bayang-bayang gaib yang masih terasa hingga kini.
Hingga hari ini, sisa-sisa tembok Baluwarti masih berdiri. Namun bagi sebagian warga, tembok itu bukan hanya monumen sejarah, melainkan portal gaib yang menyimpan energi masa lalu—entah sebagai pelindung atau sebagai pengingat akan murkanya kekuatan tak terlihat.
“Auranya masih kuat, apalagi kalau malam Jumat. Ada yang merasa diawasi,” kata Nanang sambil memandang tembok tua yang sebagian besar sudah ditelan lumut dan bayangan pohon. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto