SOLOBALAPAN.COM - Bulan Dzulhijjah segera berlalu, dan kita akan menyambut datangnya bulan Muharam, sebagai awal tahun dalam kalender Hijriyah.
Namun, hingga kini, umat Islam di berbagai belahan dunia masih menghadapi perbedaan dalam menentukan hari-hari besar keagamaan seperti awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Meskipun kalender Islam didasarkan pada peredaran bulan (kalender lunar), kenyataannya perbedaan dalam penetapan tanggal-tanggal penting masih sering terjadi.
Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat : Menghidupkan Nilai Kurban dan Haji dalam Kehidupan Sehari-hari
Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode dalam penentuan awal bulan, seperti penggunaan rukyat (pengamatan bulan) dan hisab (perhitungan astronomis), serta penerapan zona waktu atau matlak yang tidak seragam.
Perbedaan ini tentu berdampak pada pelaksanaan ibadah umat Islam secara bersama-sama. Di satu negara, umat telah berpuasa, sementara di negara lain belum. Ada yang merayakan Idul Fitri hari ini, sementara lainnya baru melakukannya besok. Fenomena seperti ini kerap menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan di kalangan umat.
Sebagai upaya menciptakan kesatuan dan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), wacana penyeragaman kalender Hijriyah menjadi sangat relevan dan penting untuk terus disuarakan. Sebuah sistem kalender Islam global yang tunggal, yang ditetapkan berdasarkan prinsip ilmiah dan dapat diterima secara luas, akan sangat membantu umat dalam menjalankan ibadah dengan tertib, pasti, dan serempak.
Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat : Etika dalam Dunia Kerja Menurut Islam
Tulisan ini merujuk pada naskah khotbah Jumat yang dimuat oleh suaramuhammadiyah.id, dengan tema "Menuju Kesatuan Umat Melalui Kalender Hijriyah Global". Tema ini tidak hanya membahas soal teknis penanggalan, tetapi lebih jauh, mengajak kita merenungi bagaimana kesatuan sistem waktu dapat memperkuat tali persaudaraan dan kesatuan umat di era modern ini. Berikut naskah khotbah Jumat untuk edisi Jumat, 20 Juni 2025.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang mengantar kita pada kebaikan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
Salah satu bentuk ketakwaan adalah kepedulian kita terhadap kemaslahatan umat dan upaya membangun persatuan di tengah keberagaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan pentingnya kesatuan dalam umat Islam, khususnya dalam hal penataan waktu dan sistem kalender Hijriyah.
Hingga hari ini, umat Islam di berbagai belahan dunia masih menggunakan sistem kalender yang berbeda-beda, meskipun semuanya berlandaskan pada peredaran bulan. Perbedaan ini sering kali menyebabkan ketidaksamaan dalam penetapan tanggal-tanggal penting seperti awal Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha.
Bayangkan, 1 Ramadan bisa jatuh pada tiga hingga empat tanggal berbeda di berbagai negara. Padahal, umat Islam adalah satu tubuh, satu umat yang semestinya berjalan dalam satu irama. Ketidaksamaan ini tentu menjadi penghalang bagi kesatuan umat dalam menjalankan syiar dan ibadah secara kolektif.
Umat Islam adalah umat global. Sejak masa Rasulullah, Islam telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Maka sangat ironis jika di era globalisasi seperti sekarang ini—ketika manusia semakin terhubung dan dunia semakin tanpa batas—umat Islam justru terpecah hanya karena perbedaan penanggalan. Oleh karena itu, hadirnya sebuah sistem kalender Hijriyah global tunggal menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun peradaban Islam yang teratur dan bersatu.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Ayat ini menunjukkan dua hal penting: Pertama, bahwa kalender Islam adalah kalender lunar (berbasis peredaran bulan). Kedua, bahwa kalender ini bersifat universal, sebagaimana ditegaskan dalam lafaz li al-nās (bagi manusia), yang menunjukkan keberlakuan umum, bukan terbatas pada satu wilayah saja.
Selain itu, Allah SWT juga menyebut dalam surat At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan. Ini adalah bagian dari al-dīn al-qayyim (agama yang lurus), yang menunjukkan pentingnya sistem waktu yang tertib dan dapat diandalkan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Puasa adalah hari kalian berpuasa, Idul Fitri adalah hari kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari kalian menyembelih hewan." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan pesan bahwa pelaksanaan hari-hari besar Islam semestinya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh umat Islam. Sama seperti shalat Jumat yang dilakukan serentak di seluruh dunia pada hari yang sama, demikian pula semestinya pelaksanaan Ramadan dan hari raya.
Khutbah Kedua
Jamaah yang dirahmati Allah,
Lalu, apa yang dimaksud dengan Kalender Hijriyah Global Tunggal?
Secara sederhana, ini adalah sistem kalender Islam yang dirancang untuk menyatukan penanggalan Hijriyah di seluruh dunia. Ada tiga prinsip dasar yang mendasarinya:
-
Keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia dalam memulai bulan baru. Seperti kalender Masehi, sistem ini memastikan bahwa 1 Ramadan jatuh pada tanggal dan hari yang sama di seluruh dunia.
-
Menggunakan hisab (perhitungan astronomis), karena kalender membutuhkan kepastian waktu yang bisa ditentukan jauh hari sebelumnya. Rukyat, meski penting secara syar’i, sulit diterapkan untuk sistem kalender global karena bersifat lokal dan temporer.
-
Kesatuan zona kalender (kesatuan matlak), yaitu seluruh dunia dipandang sebagai satu kesatuan waktu, bukan terpisah-pisah seperti sekarang.
Sistem ini bukanlah hal baru. Ini adalah lanjutan dari tradisi pembaruan Islam yang telah lama diusung, seperti yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang mempelopori penggunaan hisab dalam menentukan arah kiblat dan waktu ibadah. Sekarang, langkah selanjutnya adalah menerapkannya dalam sistem kalender global.
Jamaah sekalian,
Marilah kita dukung penerapan Kalender Hijriyah Global Tunggal ini sebagai bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan persatuan umat Islam. Dengan izin Allah SWT, semoga usaha ini menjadi jalan menuju kebangkitan umat yang lebih teratur, solid, dan berdaya saing dalam kancah peradaban dunia.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah-langkah kita, menyatukan hati-hati kita dalam kebaikan, dan menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mencintai persatuan demi menjalankan agama-Nya dengan penuh kesungguhan. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto