SOLOBALAPAN.COM - Memasuki bulan Dzulhijjah, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong memenuhi panggilan suci untuk menunaikan rukun Islam kelima: ibadah haji.
Namun, tidak semua langkah menuju Tanah Suci dibarengi dengan niat yang murni. Ketika ibadah haji disusupi oleh ambisi duniawi—keinginan untuk dipuji, tampil di media sosial, atau sekadar mengejar gelar "haji" sebagai simbol status—maka makna spiritualnya bisa tercemar.
Haji sejatinya adalah perjalanan sakral, bentuk ketaatan total kepada Allah SWT. Maka menjadikannya sebagai ajang pencitraan atau kebanggaan pribadi adalah kekeliruan besar yang patut direnungkan dan diluruskan.
Dalam khutbah Jumat edisi kali ini yang berjudul “Khutbah Jumat: Jangan Bawa Tujuan Duniawi ke Tanah Suci”, kita diajak untuk mengoreksi kembali niat, agar ibadah ini benar-benar menjadi amal yang ikhlas dan penuh berkah.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Segala puji dan syukur hanya milik Allah SWT, Tuhan yang menghidupkan hati dengan iman dan menenangkan jiwa dengan zikir. Dialah yang menganugerahkan kepada kita waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri serta mendekat kepada-Nya. Dengan rahmat-Nya kita tetap berada di jalan yang lurus, dan dengan karunia-Nya kita bisa bertahan di atas kebaikan dan kebenaran.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Beliaulah pembawa cahaya kebenaran dan penuntun umat menuju keselamatan. Dari teladan hidupnya, kita belajar makna sabar, keikhlasan, dan kehidupan yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Semoga kita semua dipertemukan dengannya di surga yang kekal. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagai khatib, kami mengingatkan diri kami dan jamaah sekalian untuk terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah dengan menjaga hati dari ambisi duniawi yang menyesatkan serta meluruskan niat dalam setiap amal ibadah. Di zaman penuh riya dan pencitraan ini, takwa menjadi benteng utama agar niat tetap murni dan amal diridhai oleh Allah.
Siapa pun yang diberi karunia oleh Allah untuk berangkat ke Tanah Suci, sejatinya telah dipilih menjadi tamu-Nya. Namun, sebesar apa pun karunia itu, semua bergantung pada niat yang tertanam dalam hati. Maka, penting bagi setiap calon jamaah untuk terlebih dahulu meluruskan niat: bahwa perjalanan ini murni karena Allah, bukan demi pujian atau gengsi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 196:
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah."
Para ulama, seperti Syekh Sulaiman al-Bujairami dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib (jilid III, hal. 181), menjelaskan bahwa lafaz “lillahi” (karena Allah) dalam ayat tersebut adalah isyarat penting bahwa niat haji dan umrah harus dilandasi dengan keikhlasan. Karena sering kali, tujuan ibadah ini ternodai oleh keinginan untuk pamer dan mencari pujian.
Ma’asyiral Muslimin yang Dimuliakan Allah,
Fenomena hari ini menunjukkan bahwa banyak yang ketika berhaji justru lebih sibuk mengabadikan dan membagikan momen ke media sosial, terkadang hingga melupakan esensi utama dari ibadah tersebut. Perjalanan suci itu menjadi ajang pencitraan dan simbol status, bukan lagi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Padahal, yang harus kita kejar adalah ridha Allah, bukan pujian manusia. Foto dan video boleh saja sebagai dokumentasi pribadi, tetapi jangan sampai mengalihkan fokus dari tujuan ibadah yang sejati. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin (jilid I, hal. 262) menegaskan bahwa niat duniawi dalam berhaji justru bisa menjadi penghalang pahala dan keutamaannya.
Lantas, bagaimana menjaga niat itu tetap suci? Mulailah sejak dari rumah. Latih hati untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkah. Jika ingin mengabadikan momen, niatkan untuk mengenang nikmat-Nya, bukan untuk kesombongan pribadi.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Jika Allah menakdirkan kita menunaikan haji, jagalah niat sebaik mungkin. Jangan bawa ambisi duniawi ke tempat yang suci. Ibadah haji adalah panggilan Allah. Maka, ikhlaskan setiap langkah hanya untuk-Nya. Semoga dengan niat yang lurus, setiap doa dan amal kita di Tanah Suci menjadi pemberat timbangan kebaikan dan penghapus dosa.
Semoga jamaah haji tahun ini mendapatkan haji yang mabrur, diterima tanpa cacat oleh Allah. Dan bagi kita yang belum berangkat, semoga Allah mudahkan jalan kita untuk menyusul ke sana dalam keadaan sehat, ikhlas, dan diberkahi. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Akhir kata, khutbah ini mengingatkan kita semua tentang pentingnya menjaga niat dalam ibadah haji, menjauhkan diri dari tujuan duniawi, dan memurnikan perjalanan ke Tanah Suci semata-mata karena Allah. Semoga membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Amin. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto